Sering Berteriak dan Membentak Anak, Dapat Berpengaruh Buruk Pada Anak

Family Talk
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com – Menghadapi perilaku anak, orang tua memiliki cara sendiri-sendiri. Ada orang tua yang sangat sabar, namun orang tua yang lain sangat tempramen.

Orang tua yang sabar memilih menahan diri untuk marah, berusaha berdialog untuk paham sebuah situasi sebelum mengambil tindakan tertentu terkait perilaku salah dari anak.

Sedangkan orang tua tempramen, menampakkan emosi negatif secara terbuka pada anak ketika anak melakukan tindakan yang menurutnya salah. Orang tua dengan tipe ini, berteriak, membentak anak bahkan ketika orang tua belum jelas memahmi duduk perkara terkait tindakan “salah” yang dilakukan oleh anak.

Oleh banyak orang tua, membentak dan berteriak bahkan telah dianggap sebagai cara mendidik anak yang efektif, lebih dari cara-cara yang lain. Mungkin karena, ketika ada bentakkan atau teriakan, anak terlihat menuruti keinginan orang tua.

Baca Juga: Bagaimana Menjadi Orang Tua Yang Sabar Untuk Anak?

Membentak dan berteriak juga, telah dilihat oleh banyak orang tua, sebagai hal yang dapat dimengerti dan manusiawi ditengah banyak faktor yang mempengaruhi perkembangan seorang anak.

Padahal, para peneliti menyimpulkan bahwa bentakan dan teriakan berdampak kurang baik bagi perkembangan seorang anak, baik secara psikis maupun secara fisik, apapun pelanggaran dan kesalahan yang dilakukan oleh anak.

Dampak ini terjadi karena bentakan dan teriakan yang diserap oleh anak sehari-hari pada usia emas pertumbuhan anak, diyakini menstimulasi pembentukan sikkap, karakter dan kecerdasan anak.

Baca Juga: Kekerasan Pada Anak Melonjak Selama Masa Pandemi Covid-19, Apa Dampaknya Pada Anak?

Para psikolog mengidentifikasi dampak bentakan dan teriakan psikis dan fisik sebagai berikut:

Anak Menjadi Tidak Percaya Diri

Bentakan dan teriakan membuat anak menjadi tidak percaya diri dan minder. Anak  akan merasa tidak dihargai dan tidak berguna. Anak menjadi tidak sehat secara mental.

Anak Menjadi Traumatik Dalam Jangka Panjang

Menurut hasil penelitian, bentakan dan teriakan dapat memiliki efek traumatik  pada psikis anak, bertahan lama setelah insiden terjadi seperti dilansir pada edisi Science Direct.

Penelitian tersebut mengidentifikasi bahwa gejala traumatik sebagai akibat dari bentakan dan teriakan tersebut seperti kegelisahan, merasa tidak dihargai, pandangan negatif tentang diri, agresif dan depresi.

Baca Juga: Tidak Hanya Sekedar Kata-Kata

Anak Menjadi Tertutup

Bentakan dan teriakan menimbulkan rasa takut bagi anak. Dalam banyak kasus, anak seperti ini tumbuh menjadi anak yang tertutup dari bukan hanyaa dalam hubungan dengan orang tua namun juga masarakat. Ini akan menjadi hambatan tersendiri dalam pertumbuhan anak lebih lanjut.

Anak Menjadi Pemberontak

Bagi anak dengan gen kepribadian yang kuat, bentakan dan teriakan memicu anak menajdi sosok pemberontak dan keras kepala tidak hanya dalam hubungannya dengan orang tua tetapi juga kelak dengan otoritas yang lain.

Ini akan menjadi hambatan tersendiri bagi sosialisasi dan adaptasi anak di lingkungan sosialnya.

Baca Juga: Memperbaharui Relasi Dengan Pengalaman Negatif, Ketika “Lupa” Tak Membawa Hasil

Volume Otak Semakin Menyusut

Menurut penelitian yang dilakukan oleh CHU Sainte-Justine Research Centre University of Montreal Canada dan Standford University, Amerika Serikat, ditemukan adanya hubungan antara frekuensi pola orang tua berteriak dengan ukuran otak anak.

Para penliti bahkan menyimulkan bahwa teriakan dan bentakan yang digunakan orang tua dalam mendidik anak membahayakan perkembangan otak anak. Penelitian mereka sebelumnya sudah melihat efek berteriak pada otak anak.

Namun pada penelitian terbaru mereka menjadi lebih tahu kalau hal ini dapat mempengaruhi struktur otak anak secara signifikan.

Baca Juga: Arah Baru Reformasi Pendidikan Kita; Catatan Pendidikan Pada Hari Pendidikan Nasional

Para peneliti yang terlibat pada penelitian ini menyebutkan anak yang sering mendengar teriakan dan bentakan mengalami penyusutan ukuran otak hingga mereka mencapai usia remaja.

Pemaparan dampak-dampak ini hendak menggambarkan bahwa bentakan dan teriakan tidak hanya kurang efektif mengubah perilaku anak namun juga merusak pribadi bahkan otak anak.

Jika orang tua mencintai anaknya, hendaknya menghentikan pola asuh semacam ini. Orang tua yang matang dan dewasa harusnya lebih sabar dalam menghadapi  berbagai tantang mendidik anak.

Foto: kompas.com

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of