Hidup Serba Katanya

Family Talk
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com – Kita hidup serba katanya. Katanya makan di sana enak. Katanya nongkrong di sana lebih asik. Katanya kerja di sana lebih bagus. Katanya belajar di sekolah atau perguruan tinggi “bla bla bla” lebih keren. Semua serba katanya.

Lalu katamu sendiri di mana?! Persepsimu akan kebenaran itu sendiri di mana? Kita terus membiarkan orang lain masuk dalam kehidupan kita. Lalu apa yang bisa dilakukan?

Pendaftaran Online  melalui link berikut : SMA Surya Mandala dan SMK Surya Mandala – Untuk Informasi lengkap –>Sekolah Surya Mandala

Semuanya itu terjawab ketika sudah diinvestigasi lewat pengalaman, yakni mengkomparasikan pengetahuan yang telah didapat dengan realita yang ada. Orang boleh mengatakan nongkrong di sebuah tempat, sebut saja nama tempatnya A itu tidak asik.

Akan tetapi ketika Anda nongkrong di tempat A dan mendapatkan kenyamanan, maka Anda perlu mempercayai temuan Anda tersebut. Bukan kata si dia atau mereka.

Bicara soal kenyamanan, tentu   sangat berkaitan erat dengan emosi. Seperti yang diungkapkan Yufiatri & Gumelar bahwa ciri dari emosi adalah sifatnya subjektif dan berhubungan dengan suatu peristiwa atau pengalaman.

Baca Juga : Bertumbuh Menjadi Dewasa Adalah Pilihan

Artinya emosi yang muncul tergantung pada individu dalam setiap penghayatan atau pengalaman yang disadari. Jikalau demikian, mengapa Anda terus mempercayai kata orang? Sementara Anda sendiri belum mengalami itu.

Dalam hidup, banyak sekali pengetahuan yang kita dapat. Sayangnya mengkoleksi pengetahuan saja tidak cukup. Orang perlu menginvestigasi atau meneliti  sendiri pengetahuan yang dimiliki.

Kalau hanya sekadar tahu dan menyampaikan, anak kecil yang menghafal lalu memberitahu kepada orang-orang juga bisa melakukannya.

Baca Juga: Bertumbuh Menjadi Dewasa Adalah Pilihan

Kita hidup di zaman pembuktian. Seberapa baik kekuatan sebuah teori yang disampakan oleh ahli, jika teori itu tidak sesuai dengan pengalaman yang kita alami, akan lebih baik kita mempercayai temuan kita sendiri.

Seribu kata orang, akan dikalahkan oleh pengalamanmu. Teori boleh mengatakan bahwa yang menggonggong itu adalah singa, akan tetapi dalam kehidupan jika kita menjumpai bahwa yang menggonggong itu adalah anjing, maka percayailah temuanmu itu. Bahwa yang menggonggong itu adalah anjing.

Kita perlu rasional dengan membuktikan kebenaran akan sesuatu. Jangan biarkan kata orang mendominasi kehidupan kita.

Realita sekarang memang demikian, banyak yang hidup menggunakan persepsi orang lain padahal itu belum tentu benar. Kita perlu punya prinsip dalam melakukan sesuatu.

Baca Juga : Seni Mencintai Diri Di Tengah Pandemi Covid-19

Menurut Socrates, kita perlu bebas dalam bertindak, yakni kebebasan akan rasionalitas terhadap animalitas. Jadikan satu-satunya yang menjadi pedoman dalam bertindak adalah akalmu.

Dalam hidup, banyak sekali kata orang yang akhirnya memunculkan konflik antara rasionalitas dan animalitas (dorongan biologis).

Kita ingin sekolah, bekerja dan terus berkarier, akan tetapi selalu saja ada “kata orang” yang memicu animalitas dalam kehidupan kita. “Wah kuliah terus tapi belum dapat pacar ngapain?, bisa jadi ngga laku!” “Kerja aja terus, kapan nikahnya?”

Kata orang yang sering kita dengar dalam kehidupan kita memang wajar, akan tetapi kejarlah keutamaanmu itu dengan menggunakan akal dan pengalamanmu. Anda adalah raja atas diri Anda sendiri.

Dengan menggunakan akalmu dan lewat pengalaman yang sudah dilalui, Anda akan menjadi pribadi yang mandiri. Pribadi yang menolak menjadi manutan.

Foto : rosediana.net

Sumber pustaka :

https://ppjp.ulm.ac.id/journal/index.php/ecopsy/article/view/3417/2968

https://sites.google.com/site/wwwjoypujkakesumacom/bab-iv-socrates

Sebarkan Artikel Ini:

3
Leave a Reply

avatar
2 Discussion threads
1 Thread replies
0 Pengikut
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
2 Comment authors
Simon LamanepaKalingga Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
Kalingga
Guest
Kalingga

Setelah saya baca dan pahami.. Saya sependapat dengan artikel bung Simon. Saya juga ingin mengajak diskusi nih dengan pembaca lainnya. Berdasarkan apa yang dikatakan bung Simon ini, bung Simon mengajak kita untuk perlunya pembuktian untuk suatu hal yang belum kita tahu dan kita mencari tahu dari informasi orang lain walaupun belum kita lihat/rasakan secara lansung “Katanya…” . Tapi apakah kalian tau alasan dasar mengapa sampai saat ini manusia masih menerapkan “Katanya…” ? Menurut pendapat saya pribadi. Seperti kata bung Simon, manusia memiliki emosi dan pemahaman tentang emosi itu luas (Beberapa pemahaman emosi sudah dijelaskan bung Simon di artikelnya). Saya sering… Read more »

Simon Lamanepa
Guest
Simon Lamanepa

Saya suka pendapat di atas. Saya menyimpulkan bahwa alasan keselamatan ternyata membuat orang tidak sampai kepada pembuktian.

trackback

[…] Baca Juga : Hidup Serba Katanya […]