Judul Buku : Temani Anak Belajar di Era AI
Penulis : Bernadus Sudiyanto Wahyuputro
Utomo Putro
Penerbit : Intan Pariwara Edukasi
Tahun terbit : 2025
Halaman : 96 halaman
Depoedu.com-Dalam sebuah wawancara, Demis Hassabis melontarkan peringatan tegas terkait dampak Artificial Intelligence (AI) terhadap kemampuan berpikir manusia. Ia mengatakan AI sebagai temuan mutakhir manusia bagaikan pisau bermata dua. AI berpotensi mencetak manusia jenius, namun dapat juga menumpulkan kemampuan berpikir manusia.
Kata Demis, bagaimana dampak AI, sangat bergantung pada bagaimana AI digunakan. Apakah digunakan dengan cara yang benar ataukah digunakan dengan cara yang “malas” yang akan berdampak pada degradasi kemampuan berpikir. Kata pemimpin Google DeepMind ini, ini bukan hanya soal kesiapan melainkan, juga soal kenyamanan.
Banyak orang, meskipun siap menggunakan AI secara benar, namun karena ingin nyaman dalam bekerja, maka AI mereka gunakan sebagai pengganti kemampuan berpikir manusia, dan bukan sebagai alat bantu berpikir. Dalam menyelesaikan masalah, mereka bahkan bergantung pada AI, meskipun mereka bukan pengguna pemula.
Sedangkan penyalahgunaan AI juga terjadi pada pengguna pemula, yang pada umumnya terjadi karena ketidaksiapan. Ini biasanya terjadi pada anak dan remaja. Dengan kemampuan belajar yang cepat, mereka dapat menggunakan AI untuk berbagai kepentingan.
Namun karena belum memiliki pegangan nilai yang mapan, dan belum terbentuk sikap tanggung jawab, maka mereka bisa menggunakan AI dengan cara yang salah. Ini adalah bentuk ketidaksiapan tersebut. Oleh karena itu, AI bisa berdampak pada degradasi kemampuan berpikir anak dan remaja tersebut.
Sementara hingga kini, dampak buruk dari internet dan media sosial seperti deprivasi sosial, kurang tidur, gangguan konsentrasi, mudah cemas, kecanduan pornografi dan judi online juga belum benar-benar dapat diatasi oleh guru dan orang tua. Kini yang paling bisa dilakukan oleh guru dan orang tua adalah melarang mereka.
Kini muncul lagi tantangan baru melalui AI. Seperti penanganan dampak buruk internet dan media sosial, apakah orang tua dan guru juga melarang mereka? Padahal kita telah belajar bahwa melarang mereka bukan merupakan solusi yang bertanggung jawab. Karena melarang mereka berarti menghambat mereka untuk berkembang sebagai pribadi.
Pilihan yang paling realistis dan bertanggung jawab adalah belajar dan mendampingi mereka untuk belajar AI di era AI. Membekali mereka dengan sikap tanggung jawab. Aktor yang harus melakukannya adalah orang tua dan guru. Namun masalahnya adalah, tidak semua orang tua dan guru siap melakukan proses pendampingan tersebut.
Telah terbit buku panduan belajar AI
Namun bagi orang tua dan guru yang merasa tidak siap melakukan pendampingan, telah terbit buku berjudul: “Temani Anak Belajar di Era AI”. Diterbitkan oleh penerbit Intan Pariwara Edukasi. Buku ini ditulis oleh dua orang pakar lulusan ITB yakni Bernadus Sudiyanto Wahyuputro dan Utomo Putro.
Di Indonesia, buku “Temani Anak Belajar di Era AI” adalah buku kedua yang membahas thema ini, setelah sebelumnya (2025), Kepustakaan Populer Gramedia menerbitkan buku berjudul; “Bahaya Dunia Maya Bagi Anak dan Remaja”. Ini adalah buku terjemahan karya Jonathan Haidt.
Sehari-hari Bernadus Sudiyanto Wahyuputro adalah peneliti pada Artificial Intelligence Implementation Initiative (AI3). Sedangkan Utomo Putro adalah seorang Board Director pada penerbit PT Intan Pariwara, yang juga terus berkontribusi pada pengembangan komunitas Industri Pendidikan di Indonesia.
Kedua penulis yang adalah dua orang tua yang juga memiliki anak remaja melihat bahwa AI telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan anak dan remaja. Mulai dari belajar, bergaul, bahkan bermain dengan teman sebaya, semuanya mereka lakukan secara digital.
Namun pada saat yang sama mereka juga sadar bahwa teknologi memiliki dua sisi. Teknologi bisa menjadi alat bantu belajar yang bisa memperkaya pengalaman anak, membuka wawasan, membentuk kemampuan berpikir kritis dan mengembangkan aneka keterampilan yang mereka perlukan dalam pertumbuhan mereka.
Namun AI yang bisa menyediakan kemudahan, jawaban atas semua pertanyaan yang bisa menjadi jalan pintas bagi mereka, misalnya dalam belajar yang meniadakan proses belajar yang seharusnya mereka lalui. Dengan AI, semua jawaban instant bisa tersedia tanpa anak harus berpikir. Proses belajar sesungguhnya tidak terjadi.
Gambaran Isi Buku
Oleh karena itu, melalui buku ini penulis mendorong orang tua dan guru agar mendampingi anak dan remaja mereka, sehingga teknologi tidak menjerumuskan mereka ke arah yang salah. Dengan pendampingan yang baik, anak dan remaja memiliki sikap yang tepat untuk menggunakan AI sebagai alat bantu belajar.
Buku ini ditulis dengan bahasa yang gampang dicerna, dalam 6 bab. Dalam 6 bab tersebut, selain berupaya mengajak guru dan orang tua memahami peran AI dalam kehidupan, buku ini juga berisi cara-cara praktis yang dapat dipakai orang tua dan guru dalam mendampingi anak dan remaja.
Buku ini disusun dengan bahasa yang sederhana, lugas, disertai contoh nyata yang relevan, sehingga mudah dicerna, baik oleh orang tua maupun guru. Materi disusun secara sistematis, mulai dari pengenalan dasar tentang AI, manfaat dan resikonya, hingga cara pendampingan yang tepat sesuai dengan tahap perkembangan anak.
Para penulis menjelaskan bahwa di satu sisi, AI adalah alat yang luar biasa, yang dapat memperkaya wawasan, meningkatkan kreativitas, dan memudahkan akses pengetahuan. Namun di sisi yang lain, tanpa arahan yang benar, anak beresiko mengalami ketergantungan yang berlebihan, berkurangnya kemampuan berpikir kritis, hingga terpapar informasi yang tidak benar.
Inti pesan dari bulu ini sangat jelas; teknologi tidak baik atau buruk, semua tergantung pada bagaimana kita menggunakannya, dan itu sangat bergantung pada bagaimana kita mendampingi anak-anak kita.
Bagian terpenting dari buku ini adalah panduan langkah demi langkah tentang cara mendampingi anak belajar. Di dalamnya terdapat strategi menetapkan batasan, mengajarkan etika digital, membedakan informasi yang benar dan salah, serta cara memanfaatkan AI untuk mengembangkan potensi diri, bukan sebagai alat mencari jawaban instan.
Para penulis juga menekankan bahwa untuk memastikan pertumbuhan anak, peran orang tua dan pendidik tetaplah utama, sebagai penunjuk arah, pendamping perkembangan emosional anak, pembangun karakter anak. Peran ini tidak bisa digantikan oleh teknologi apapun.
Penulis menekankan bahwa rumah dan sekolah adalah dua sayap yang harus kompak. Meskipun untuk itu, orang tua dan guru harus sama-sama belajar terus-menerus.
Kelebihan dan kekurangan buku ini
Kelebihan buku ini adalah tidak membahas teori-teori, melainkan berisi saran dan kegiatan yang bisa langsung dilakukan di rumah maupun di sekolah. Selain itu bahasanya ringan, bebas dari istilah-istilah teknis yang rumit, sehingga sangat ramah bagi pembaca awam di bidang teknologi.
Selain itu, pandangan-pandangan penulis tentang AI dan perkembangannya sangat seimbang. Mereka tidak menolak teknologi, tetapi juga tidak membiarkan anak berhadapan dengan teknologi sendirian, tanpa pendampingan dari orang dewasa. Ini sangat relevan karena sangat pas dengan kondisi masa kini, di mana anak sudah sangat akrab dengan gawai dan internet sejak usia dini.
Kelemahan buku ini terletak pada pembahasan alat AI tertentu yang masih cukup umum. Oleh karena itu, pembaca yang ingin mengetahui lebih mendalam, perlu mencari referensi tambahan. Meskipun demikian hal ini justru membuat isi buku tetap awet dan tidak ketinggalan zaman.
Saya merekomendasikan buku; Temani Anak Belajar di Era AI untuk dibaca oleh orang tua dan guru, atau siapapun yang peduli pada masa depan anak-anak kita. Buku ini menenangkan hati, sekaligus memberikan bekal ilmu yang cukup untuk menghadapi perubahan zaman.
Penulis dan Penerbit Intan Pariwara Edukasi, berhasil menyajikan karya yang tidak hanya mendidik, tapi juga menginspirasi, agar anak-anak kita tidak tertinggal, melainkan tumbuh bersama kemajuan teknologi, memanfaatkan teknologi untuk menjadi semakin maju dan manusiawi.
Segera membeli buku ini dan selamat membaca.
