Kekerasan Pada Anak Melonjak Selama Masa Pandemi Covid-19, Apa Dampaknya Pada Anak?

Family Talk
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com – Pandemi Covid-19 belum juga usai. Bahkan pertanggal 26 Januari yang lalu, jumlah akumulasi kasus positif Covid-19 pun menembus 1 juta orang. Pemerintah pusat yang tadinya mendorong daerah untuk mengijinkan sekolah menyelenggarakan belajar tatap muka terutama bagi sekolah yang siap pun, kini ditarik kembali.

Oleh karena itu, orang tua pun, hampir satu tahun harus mendampingi anak mereka sendiri dalam belajar. Padahal banyak orang tua tidak memiliki kesiapan dan, keterampilan mendampingi belajar anak.

Belum lagi biaya tambahan yang harus mereka keluarkan, sementara banyak orang tua dirumahkan, atau mengalami pengurangan penghasila, karean perusahaan tempat mereka bekerja, terdampak pandemic covid-19 pula.

Baca Juga: Delapan Tanda Orang Tua Menghargai Anak Dan Dampaknya Pada Pertumbuhan Anak

Singkatnya pandemic covid-19 mengubah banyak aspek yang selama ini telah menjadi kebiasaan hampir semua orang. Orang tua yang tadinya bekerja diluar rumah pun harus bekerja di rumah dengan cara kerja yang bisa jadi sangat berbeda pula.

Dan pada saat yang sama, mereka harus ikut mendampingi belajar anak mereka pula. Semua faktor ini pun mengubah suasana hati dan emosi orang tua. Bahkan banyak orang tua tidak berhasil mengontrol emosi mereka.

Inilah cikal bakal kekerasan yang dialami oleh anak usia sekolah selama masa pandemic. Data yang dihimpun oleh Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (SIMFONI PPA) menunjukkan peningkatan angka kekerasan terhadap anak.

Baca Juga: Data Pernikahan Anak Di Indonesia Dan Tantangan Dunia Pendidikan

SIMFONI PPA seperti dilansir oleh Voi.id mencatat, terjadi kasus kekerasan terhadap anak di Indonesia sebanyak 5.697 kasus dengan 5.315 korban. Data tersebut dihimpun dari Bulan Januari hingga Bulan September 2020.

Bentuk kekerasan yang dialami oleh anak-anak baik berupa kekerasan fisik maupun kekerasan psikis. Survei KPAI menyimpulkan jenis kekerasan fisik yang dialmai oleh anak-anak mulai dari tindakan menarik paksa, mendorong, menendang, memukul, mencubit dan menjewer.

Kekerasan fisik tersebut dilakukan oleh 68,5% para ibu dan 32,3% para ayah. Sementara terjadi pula kekerasan psikis seperti, memarahi, membentak, membandingkan dengan anak lain, meludahi, mengusir serta memelototi. Kekerasan psikis tersebut dilakukan oleh 53% Ibu dan 47% ayah.

Baca Juga: Sekolah Kita Sedang Mengalami Darurat Kekerasan?

Dampak Kekerasan Pada Pertumbuhan Anak

Para psikolog menyatakan bahwa jika seorang anak menyaksikan tindakan kekerasan apalagi mengalami kekerasan, pengalaman tersebut dapat mendukung pembentukan sirkuit pada jalur suraf pada otak dan mempengaruhi perkembangan otak yang akan berpengaruh pada perkembangan kemampuan lebih lanjut.

Selain itu, anak yang mengalami kekerasan atau penelantaran orang tua, cenderung menunjukkan pertumbuhan negative berkaitan dengan regulasi emosi, pembentukan konsep diri, keterhambatan pembentukan keterampilan sosial, rendahnya motivasi diri, memiliki potensi perilaku agresif.

Baca Juga: Merayakan Hari Anak Nasional, Disaat Masih Banyak Anak Dibunuh Orang Tua Kandungnya.

Jika tidak ada upaya koreksi pada masa kanak-kanak melalui perubahan pola asuh maka, pada fase pertumbuhan selanjutnya, remaja cenderung melarikan diri pada lingkungan yang menurut mereka lebih aman padahal mereka sedang terlibat dalam perilaku yang beresiko seperti merokok, minum alcohol, penggunaan narkoba, atau terlibat dalam kelompok geng.

Ini adalah dampak buruk lain dari Covid-19. Setelah pandemic berakhir perlu ada upaya rekonsiliasi dan pemulihan,  agar anak-anak dapat bertumbuh menjadi pribadi yang sehat secara mental.

Foto: lifestyle.bisnis.com

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of