Memperbaharui Relasi dengan Pengalaman Negatif, Ketika “Lupa” Tak Membawa Hasil

Bimbingan
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com – Setiap kita memiliki masa lalu. Sebuah periode yang faktual sudah kita lampaui. Namun secara psikis dan emosional mungkin belum sepenuhnya pergi.

Sejumlah item di masa lalu berkontribusi nyata pada sosok kita saat ini. Tentu saja ada peran kita, sebagai pengolah dan pencernanya. Atau peran mereka, para tokoh signifikan di hidup kita. Tidak ada yang terjadi tiba-tiba.

Item lainnya dari masa lalu terbawa dalam hidup masa kini dalam bentuk kenangan. Ini bisa baik, bisa juga buruk. Andai yang terjadi adalah yang buruk, kita akan melakukan upaya melupakannya. Persoalannya, kerap kali ini terasa sia-sia.

Untuk siapapun yang mengalaminya, mudah-mudahan tuntunan ini membantu.

Berusaha melupakan sesuatu, cenderung menjadi tindakan yang mustahil. Mengapa? Sesuatu dengan mudah kita lupakan, ketika hal itu tidak punya dampak apa-apa kepada kita. Berusaha melupakan, berarti menjadikan “lupa” sebagai tujuan. Upaya ini justru menegaskan betapa yang hendak kita lupakan adalah sesuatu yang penting dan berdampak kepada kita.

Baca Juga: Dalam Solitude Kutemukan Jawaban

Sesuatu yang hendak kita lupakan biasanya merupakan pengalaman yang berdampak kepada kita. Tidak hanya itu, dampak yang kita alami daripadanya biasanya bersifat negatif. Oleh karena itu, relasi yang dibangun dengan pengalaman yang hendak dilupakan itu adalah relasi yang negatif.

Relasi kita dengan pengalaman itu mungkin bisa digambarkan sebagai berikut. Pengalaman itu menekan dan kita tertekan, pengalaman itu melukai dan kita terlukai, pengalaman itu menyakiti dan kita tersakiti, pengalaman itu adalah pelaku dan kita korban, pengalaman itu menang dan kita kalah.

Semakin kita berusaha “melupakan”, pengalaman itu justru semakin kuat memperlihatkan pengaruhnya kepada kita. Paradoks seperti ini tampaknya tidak jarang terjadi. Untuk itu, upaya menyikapi perlu diawali dengan menempatkan segala sesuatu pada posisinya.

Lupa akan pengalaman negatif itu, perlu kita tempatkan sebagai akibat (bukan tujuan), yang akan terjadi kelak, ketika kita sudah berhasil memperbaharui relasi kita dengan pengalaman itu. Relasi baru dengan pengalaman negatif itulah yang kita tempatkan sebagai tujuan. Tentu saja disertai upaya mencapainya.

Rumusan tujuan ini saja bisa jadi sudah langsung memunculkan tanda tanya. Belum lagi upaya mewujudkannya. Memperbaharui relasi dengan pengalaman negatif? Bagaimana bisa? Jelas-jelas ini pengalaman yang negatif. Mungkinkah membangun relasi positif dengan sesuatu yang negatif?

Meskipun cenderung terasa mustahil, namun ada tahapan yang dapat kita lakukan untuk mewujudkannya. Yakni langkah-langkah untuk mendefinisikan ulang dampak yang ditimbulkan oleh pengalaman itu terhadap kita.

Prosesnya dimulai dengan perlahan-lahan mencari, menemukan, mendata, menginventaris fakta positif yang terjadi pada kita karena pengalaman itu. Lalu menuliskannya satu persatu, temuan demi temuan.

Baca Juga: From Fear to Freedom – Understanding Loneliness

Bisa jadi ini bukan proses mudah. Setiap temuan positif hendak kita konfirmasi, bukan tidak mungkin gerak bawah sadar kita berusaha mengingkari itu. Ini menjadi semacam bentuk penolakan terhadap upaya yang dipersepsi sebagai “mensyukuri’ pengalaman negatif itu.

Bila ini dialami, ijinkanlah. Let it be! Take your time….

Pada intinya, konfirmasi untuk setiap temuan, berupa tindakan konkrit menuliskan fakta demi fakta, harus terjadi dengan kesediaan, dengan kerelaan.

Setelah sekian lama pengalaman negatif itu memaksa kita untuk begini atau begitu, upaya meng-counter-nya harus dilakukan dengan cara yang berbeda, bukan pemaksaan.

Jadi pasti butuh waktu, butuh kesabaran, butuh kebesaran hati untuk menjalani pergumulan, dengan rela.

Akan tetapi pada saatnya, rumusan fakta demi fakta, temuan demi temuan, list-data positif yang semakin panjang, dan proses yang kita jalani untuk sampai pada tahap itu, secara bersama-sama membangun persepsi baru kita terhadap pengalaman itu.

Cara pandang baru tersebut dengan sendirinya memperbaharui relasi kita dengan pengalaman negatif itu.

Pengalaman itu menekan, melukai, menyakiti, dan menempa kita menjadi kuat, menjadi kebal, menjadi tangguh. Kita menjadi sanggup hadapi tekanan. Kita menjadi peka dan mudah berempati terhadap luka dan kesakitan pihak lain. Pengalaman itu bisa mengalahkan kita, namun kita yang telah mengalahkannya.

Baca Juga: Dealing with Differences

Pencapaian ini terjadi karena kita, bukan terutama karena pengalaman negatif itu. Karena bila terjadi pada orang yang berbeda, yang mengambil sikap berbeda, pengalaman itu bisa berdampak berbeda.

Pencapaian ini adalah buah dari cara kita menyikapi pengalaman itu : bertekun, bertahan, bersedia menerima dengan lapang dada.

Pencapaian kita sekarang adalah hasil dari jerih lelah kita. Pengalaman negatif itu hanyalah sarananya.

Kalau pengalaman negatif itu adalah tangga yang kita gunakan untuk mendaki sampai ke puncak, maka setelah tiba di sana, kita bisa membuang tangganya.

Saat itu tiba, mungkin “melupakan” tidak lagi menjadi kebutuhan. Bukan tidak mungkin kita malah mau mengenangnya sebagai pengalaman kekuatan, sebagai pengalaman kemenangan. (Foto: rimma.co)

Sebarkan Artikel Ini:

4
Leave a Reply

avatar
4 Discussion threads
0 Thread replies
0 Pengikut
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
0 Comment authors
Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
trackback

[…] Baca juga: Memperbaharui Relasi Dengan Pengalaman Negatif, Ketika “Lupa” Tak Membawa Hasil […]

trackback

[…] Baca juga: Memperbaharui Relasi Dengan Pengalaman Negatif, Ketika “Lupa” Tak Membawa Hasil […]

trackback

[…] Baca juga: Memperbaharui Relasi Dengan Pengalaman Negatif, Ketika “Lupa” Tak Membawa Hasil […]

trackback

[…] Baca juga: Memperbaharui Relasi Dengan Pengalaman Negatif, Ketika “Lupa” Tak Membawa Hasil […]