Menjadi Guru Pembelajar

EDU Talk
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com: Pandemi Covid memaksa terjadinya perubahan praktek pendidikan. Dari segala permasalahan yang harus dihadapi, masih ada hal yang patut disyukuri, seperti kemampuan relatif cepat guru untuk beradaptasi dengan teknologi komputer.

Tapi, belum lama sejak guru akhirnya mulai bisa mengajar secara online, ternyata ada hal lain yang perlu kita perhatikan juga, yaitu saat Kemendikbud mencanangkan tentang AKM.

Hal itu menunjukkan bahwa dunia selalu berubah, dan guru harus punya semangat untuk jadi pembelajar agar bisa beradaptasi dengan berbagai perubahan itu, dan bisa membimbing anak didik yang dipercayakan kepadanya secara maksimal.

Permasalahan itulah yang menjadi dasar dari diadakannya Webinar pada hari Selasa, 5 Januari 2021 oleh lembaga tempat penulis mengabdi saat ini.

Webinar ini menghadirkan dua orang narasumber yang sangat kompeten di bidangnya, yaitu Bapak H.J. Sriyanto, M.Pd yang merupakan guru di SMA Kolese De Britto dan Dosen Luar Biasa di Universitas Sanata Dharma, dan Dr. Itje Chodidjah, M.A. yang juga merupakan anggota Badan Akreditasi Nasional Sekolah / Madrasah periode 2018 – 2022.

Baca juga: Tiga Faktor Penting Yang Mempengaruhi Pengembangan Mutu Guru Di Finlandia

Berikut adalah hal yang penulis tangkap dari mengikuti pemaparan kedua ahli pendidikan tersebut:

1. Pembicara pertama adalah Bapak H.J. Sriyanto, M.Pd., dengan tema ‘Guru Sebagai Pribadi Pembelajar’.

Presentasi diawali dengan ungkapan yang diucapkan oleh Alvin Toffler yang mengatakan, “Buta aksara pada abad ke 21 tidak lagi berarti tidak bisa baca tulis, melainkan tidak bisa belajar, enggan belajar, dan enggan belajar kembali’. Dengan kata lain, di abad ke 21 ini, belajar jadi salah satu sarana agar kita tetap bisa exist.

Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara, juga pernah menyatakan bahwa tujuan pendidikan itu adalah untuk menjadi manusia paripurna, manusia utuh, manusia multidimensional, untuk bisa mencapai kebahagiaan seutuhnya.

Tiga unsur utama pendidikan adalah: dunia, guru, dan murid.

Ketiga unsur pendidikan itu saling terhubung, karena proses pendidikan pada dasarnya adalah proses di mana guru mendampingi siswa dalam belajar memahami dunia.

Memahami dunia bisa dilakukan jika kita memahami pengetahuan dan bisa menggunakannya untuk menemukan kebenaran. Dalam proses itulah peran guru adalah sangat penting.

Tapi, walau peran guru sangat penting, proses pendidikan itu tidak lalu berpusat pada guru, melainkan harus tetap berpusat pada murid.

a. Dasar relasi guru & murid adalah empati & pemberdayaan (emphaty & empowerment)

Artinya : Jika guru punya empati (kepedulian dan welas asih) pada muridnya, maka guru akan mau berusaha membantu dan memberdayakan murid agar jadi pribadi pembelajar yang mandiri.

b.  Dasar relasi guru dan dunia adalah keahlian & antusiasme (expertise & enthusiasm).

Artinya: Guru harus menguasai bidangnya (bukan hanya tahu fakta dan konsep, tapi juga tahu bagaimana harus menghubungkan dan menggunakannya dalam berbagai bidang kehidupan). Guru yang ahli di bidangnya, akan punya antusiasme juga saat mengajarkan bidangnya. Dengan demikian, guru akan bisa menularkan antusiasmenya dan menginspirasi murid sehingga menimbulkan rasa ingin tahu dan motivasi murid untuk belajar lebih banyak tentang subyek yang sedang dipelajari.

c. Dasar relasi murid & dunia adalah keterlibatan & keunggulan (engagement & excellence)

Artinya : Agar terjadi pembelajaran, maka siswa harus terlibat. Bentuk keterlibatan itu bisa bermacam-macam, mulai dari adanya inisiatif bertanya, partisipasi dalam pembelajaran, sampai dengan kemauan untuk mengeksplorasi materi pelajaran.

Hasil dari keterlibatan itu adalah keunggulan murid yang tercermin dari hasil belajar dan kompetensi riil di bidang yang dipelajari.

Guru juga harus memahami 4 pilar Pendidikan dan 10 ketrampilan kunci pembelajar abad 21 sebagai berikut:

 

Tapi yang lebih penting adalah guru juga harus mengajukan pertanyaan reflektif pada dirinya sendiri, “Apakah saya sebagai guru juga sudah punya 10 ketrampilan itu?” Karena secara logika, kita tidak akan mampu mengajarkan ketrampilan yang kita sendiri tidak memilikinya.

Baca juga: Guru Tetap Optimis, Kreatif Dan Inovatif Di Tengah Pandemi Covid-19

Menjadi guru adalah panggilan hati. Jadi, saat seseorang memutuskan untuk menjadi guru, seharusnya itu berdasarkan visi misi pribadinya. Saat seorang guru bekerja di suatu lembaga, idealnya guru itu juga harus mau menyesuaikan visi misinya sesuai dengan visi misi lembaga tempatnya bernaung, sehingga terciptalah visi misi bersama.

Masalahnya, saat visi misi itu tidak bisa disesuaikan, tentunya guru yang harus pergi meninggalkan lembaga.

Tetapi, guru yang hebat, bisa melampaui lembaga. Buktinya, Erick Hanushek, seorang ahli ekonomi yang terkenal, memberi nasihat berikut pada para orangtua : “Anak Anda lebih baik berada di sekolah jelek dengan guru hebat, daripada di sekolah bagus dengan guru payah.”

Artinya, dalam memilih sekolah, orangtua harus lebih mempertimbangkan mutu guru daripada sekedar terpaku pada nama besar sekolah.

Tapi ada satu keprihatinan terkait kemampuan guru untuk menjaga kinerjanya. Berdasarkan penelitian, guru menunjukkan perbaikan pesat hanya selama lima tahun pertama mereka mengajar, dan kemudian cenderung melempem.

Kemungkinan itu karena guru sudah berada di zona nyaman, sehingga malas untuk mengembangkan diri lagi. Padahal, dengan terjebak di zona nyaman, pada akhirnya dia juga yang akan menuai akibatnya.

Di jaman serba teknologi sekarang, profesi guru akan tetap ada, tapi, seperti yang dikatakan oleh Rhenal Kasali, “Dunia akan tetap membutuhkan guru, namun bukan guru yang bekerja dengan cara lama, yang mengajarkan what subjects, melainkan guru yang siap menggunakan teknologi terbaru dan mengajarkan how to learn.

Itulah sebabnya, guru harus mau bertransformasi. Dan, untuk bisa bertransformasi, ada 3 syarat yang harus dimiliki guru, yaitu : Mindset, Skillset, Toolset.

a. Guru dengan ‘Growth Mindset’ punya ciri sebagai berikut : memiliki pola pikir yang terbuka, mau belajar hal baru, bisa berpikir divergent, melihat sesuatu dari berbagai perspektif, terutama perspektif positif.

Cara menumbuhkan ‘Growth Mindset’ bisa dengan cara: banyak membaca, mau merefleksikan bacaannya, dan mau menerapkan hasil refleksinya, sehingga ia juga akan menjadi guru yang berwawasan luas.

b. Guru dengan Skillset, akan bisa menyampaikan pembelajarannya dengan cara dan konteks kekinian. Cara mengembangkan Skillset adalah : harus mau belajar dengan berbasis penelitian , sehingga hasil belajarnya sangat kontekstual.

Hal itu bisa dilakukan dengan melakukan penelitian terhadap muridnya sendiri, misal mengamati cara belajar murid generasi digital, yang ternyata selalu mengerjakan soal dulu baru kemudian membaca materinya.

Dengan memahami itu, guru akan bisa menerapkan metode belajar yang tepat bagi generasi digital itu, yaitu : materi singkat, praktis, tapi efektif.

c. Terkait Toolset, saat ini, guru dituntut untuk makin efektif dalam bekerja. Untuk itu guru perlu belajar memanfaatkan teknologi pembelajaran, dan menerapkannya, sehingga memudahkannya menyelesaikan tugasnya.

Guru juga harus bisa menerapkan kebiasaan belajar efektif bagi murid-muridnya. Kebiasaan belajar efektif adalah kebiasaan belajar yang berorientasi pada hasil / target pembelajaran.

Untuk itu guru harus mampu merancang pembelajaran dengan target yang jelas. Ingat, satu hal yang membuat murid frustasi adalah saat mereka harus belajar, tapi tidak jelas apa tujuan dan kegunaan dari yang mereka pelajari.

Dengan target yang jelas, murid akan lebih mudah memahami pengetahuan dan melatih ketrampilan yang diajarkan, sehingga mereka jadi makin termotivasi belajar, dan akhirnya akan terbentuk kebiasaan belajar efektifnya.

Baca juga: Tiga Perspektif Penting Dari Konsep Merdeka Belajar Yang Harus Dimiliki Guru.

Berikut adalah salah satu contoh desain pembelajaran yang bisa diterapkan untuk menghasilkan pembelajaran yang mengacu pada hasil belajar nyata:

Topik Tujuan Pembelajaran Kegiatan Pembelajaran Alat Keterangan
Murid mampu … Pendahuluan

Eksplorasi konsep

Ruang kolaborasi

Google Classrom, PPT, YouTube, Modul

  1. Pembicara kedua adalah Dr. Itje Chodidjah, M.A., dengan tema ‘AKM dan Proses Pembelajaran yang Efektif’.

Ibu Itje mengawali presentasinya dengan menjabarkan tujuan UN yang pada awalnya adalah untuk memetakan kualitas pendidikan. Tapi, seiring dengan berjalannya waktu, ternyata pelaksanaan UN sarat dengan permasalahan sebagai berikut:

  • UN menimbulkan berbagai pertanyaan terkait keadilan, karena murid dari sekolah minim fasilitas harus bersaing dengan murid dari sekolah berlimpah fasilitas.
  • UN menjadikan guru terjebak pada kegiatan melatih soal & bukan mengajarkan kompetensi.
  • Sekolah lebih fokus pada pencapaian kognitif murid karena skor UN lebih mudah ditampakkan seolah sebagai prestasi atau keunggulan.
  • Sejalan dengan waktu, ternyata UN kemudian menjadi komoditas, dan banyak lembaga bimbingan belajar yang didirikan dan seolah menggantikan fungsi sekolah.
  • Hasil UN meragukan, karena hanya berupa angka tinggi tapi tanpa makna.

(Buktinya, walau skor UN tinggi, tapi pada kenyataannya hasil evaluasi PISA kita selama ini masih sangat memprihatinkan, yaitu pada urutan ke 69 dari 76 negara)

Selain masalah UN, ada lagi satu fenomena yang memprihatinkan di dunia pendidikan, yaitu : murid menghabiskan banyak waktu di sekolah, tapi ternyata hasil belajarnya hampir tidak ada. Pertanyaannya : bagaimana bisa begitu?

Untuk bisa menjawab pertanyaan itu, mula-mula kita harus memahami bahwa murid, guru, kepala sekolah dan manajemen sekolah ibaratnya berada di satu pusaran lingkaran tak terputus, dan seharusnya mengacu pada visi dan misi yang sama.

Dalam pusaran lingkaran tak terputus itu, posisi murid ada di paling dasar, posisi guru di atas murid, lalu kepala sekolah di atas guru, dan di puncak lingkaran adalah manajemen sekolah.

Artinya : dalam segala kegiatan yang dilakukan di sekolah, murid bergantung pada guru, guru bergantung pada kepala sekolah, dan kepala sekolah bergantung pada manajemen sekolah.

Tapi pada kenyataannya, di banyak sekolah, tidak ada koordinasi dan sinkronisasi di antara berbagai pihak itu, dan murid yang ada di dasar lingkaran yang menjadi pihak yang paling dirugikan.

Untuk membela hak murid itulah yang menjadi dasar pemikiran dari diadakannya AN (Asesmen Nasional) untuk menggantikan UN.

AN dirancang untuk memotret mutu input, proses, dan hasil belajar yang mencerminkan kinerja sekolah. AN terdiri dari Survei Karakter, Survei Lingkungan Belajar, dan AKM.

Hasil AN akan menjadi umpan balik berkala yang komprehensif bagi manajemen sekolah, dinas pendidikan & Kemendikbud.

Komponen Survei Karakter dan Survei Lingkungan Belajar itu adalah untuk memastikan bahwa di tingkat manajemen sekolah ada pengelolaan yang baik. Salah satu indikator pengelolaan baik adalah adanya koordinasi dan pengawasan yang baik di sekolah itu.

Logikanya, sekolah yang dikelola dengan baik, dan didukung guru yang kompeten, akan mampu menghadirkan pembelajaran bermutu di dalam kelas, yang bisa mengembangkan literasi dan membangun ketrampilan berpikir kritis murid. Hasil pembelajaran bermutu itulah yang akan diukur melalui komponen AKM.

Masalahnya, banyak pihak yang hanya berfokus di AKM itu, dan lupa bahwa pembenahan sesungguhnya seharusnya dimulai dari pengelolaan sekolah dan kompetensi guru.

Jangan sampai terjadi, pelaksanaan AN hanya berfokus pada AKM, karena jika itu terjadi, maka AN akan menjadi komoditas seperti halnya UN. Fokus sekolah seharusnya ada di pembenahan manajemen pengelolaan dan peningkatan kompetensi gurunya, dan bukan pada pelatihan murid untuk mengerjakan soal AKM.

Pembenahan di tingkat manajemen sekolah bisa dilakukan dalam bentuk pengelolaan yang professional, sehingga mampu menciptakan budaya kerja yang professional juga, dengan anggota lembaga yang bernalar, berpola pikir kritis, dan berkarakter.

Baca juga: Ada Apa Dengan Gaya Belajar Anak, Apa Yang Dilakukan Oleh Orang Tua Dan Guru Agar Anak Efektif Dalam Belajarnya?

Pembenahan praktek pengajaran di dalam kelas bisa dilakukan dengan meningkatkan kompetensi guru, dengan mendorong guru untuk melakukan hal berikut :

  • menggunakan bahasa yang positif konstruktif dalam berkomunikasi dengan murid
  • membuat pertanyaan yang out of the box untuk merangsang murid berfikir
  • membangun suasana belajar di mana murid merasa aman untuk bertanya
  • membimbing murid menghubungkan satu konsep dengan konsep yang lain, dan juga mengaitkan konsep dengan dunia nyata, dan menarik kesimpulan
  • membimbing murid memecahkan masalah secara sistematis
  • membimbing murid berdiskusi, bukan untuk sekedar mencari jawaban yang benar, tapi yang lebih penting adalah alasan benar atau salahnya suatu jawaban

Di akhir Webinar, Ibu Itje juga mengingatkan bahwa mengajar itu basisnya kurikulum, bukan materi. Guru harus mengacu pada kurikulum, dan bisa mencari materi yang sesuai dengan tujuan kurikulum.

Dan, setelah menemukan materi yang sesuai, guru juga harus mampu menyampaikan pembelajarannya dengan baik. Di sinilah peran dan kompetensi guru benar-benar diuji.

Demikianlah isi webinar dengan dua orang narasumber yang luar biasa ini. Pemaparan Bapak Yanto tentang pentingnya empati dan kompetensi guru, menguatkan keyakinan penulis, bahwa apa yang selama ini penulis jadikan prinsip dalam bekerja di dunia pendidikan memang sudah benar dan karenanya bisa diteruskan.

Penulis juga sangat setuju dengan pernyataan Ibu Itje bahwa pengajaran harus berbasis pada kurikulum dan bukan materi. Permasalahan ini terutama sangat relevan untuk bidang studi penulis, yaitu Bahasa Inggris, yang banyak didominasi dengan kepentingan berbagai pihak.

Pihak pihak tersebut antara lain kepentingan penerbit buku import dan distributor buku komersial yang hanya berorientasi pada profit dan tidak peduli dengan fakta di lapangan yang sangat merugikan murid.

Selama bertahun-tahun penulis melihat bahwa banyak sekolah memilih buku Bahasa Inggris import karena terpaku pada nama besar penerbit buku itu. Padahal, isi buku import itu sangat tidak sesuai dengan kapasitas murid Indonesia untuk menyerapnya.

Sebagai guru, penulis bisa saja mengajarkan semua materi yang ada di buku import itu. Tapi kemampuan guru mengajar tentunya tidak sama dengan kemampuan murid belajar.

Tapi yang lebih memprihatinkan adalah saat materi yang tidak sesuai itu tetap dipaksakan untuk diajarkan oleh guru yang kurang kompeten. Itulah salah satu faktor yang menyebabkan banyak murid Indonesia, bertahun-tahun belajar Bahasa Inggris, nilai raportnya tinggi, tapi tetap saja tidak bisa berbahasa Inggris.

Inilah salah satu bukti nyata bahwa pengelolaan sekolah yang kurang baik, dan ketidakkompetenan guru, selalu menempatkan murid sebagai pihak yang paling dirugikan.

Seharusnya, di tingkat sekolah, pemilihan materi Bahasa Inggris dilakukan oleh orang yang memang memahami Bahasa Inggris dan langkah pembelajarannya. Lebih bagus lagi jika sekolah bisa merancang program Bahasa Inggrisnya sendiri.

Program tersebut disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan muridnya, dan disinkronkan sejak TK hingga SMA, sehingga saat murid ada di kelas 12, seharusnya dia punya kemungkinan untuk mampu meraih skor IELTS 6.

Baca juga: Guru Menjadi Role Model Pembentukan Karakter Anak Didik

Ini setara dengan skor yang dipersyaratkan untuk program S 1 oleh universitas di negara-negara berbahasa Inggris. Itu adalah visi dan misi yang selalu penulis pegang dan perjuangkan, di lembaga manapun penulis mengabdi.

Last but not least, jika sekolah punya target untuk menghasilkan lulusan SMA dengan skor IELTS 6, maka tentunya sekolah juga harus merekrut guru Bahasa Inggris dengan skor IELTS minimal 7.

Karena secara logika, guru dengan skor IELTS di bawah 6 akan sulit untuk mencapai goal yang ditetapkan oleh lembaga. Seberapa baguspun kurikulum dirancang oleh sebuah lembaga, tidak akan bisa maksimal di tangan guru yang tidak kompeten.

Sumber foto: Edunews.id

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of