Tinggalkan Sekolah Konvensional, Orang Kaya Mulai Pilih Sekolah Alternatif Berbasis AI

EDU Talk
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com-Perubahan yang dipicu oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi terutama dengan kehadiran inovasi seperti Artificial Intelligence (AI), membuat banyak orang di Amerika dan Eropa mulai menyadari bahwa model pendidikan saat ini tidak akan cukup membekali siswa untuk menghadapi tantangan di masa depan. 

Hal ini terbaca dari munculnya tren baru di kalangan keluarga berpenghasilan tinggi misalnya di Amerika Serikat. Seperti dilansir pada laman CNBC, mereka mulai meninggalkan sekolah konvensional dan memilih sekolah alternatif yang proses belajar mengajarnya menggabungkan AI, pembelajaran berbasis proyek, dan pengembangan soft skill

Pada saat yang sama bermunculan sekolah-sekolah alternatif seperti Sekolah Forge Prep di New Jersey dan Alpha School di Austin, Texas Amerika Serikat. Sekolah Forge Prep dan Alpha School dalam proses belajar mengajarnya melatih siswa memecahkan masalah nyata, merancang produk, dan melatih siswa membangun perusahaan sejak dini. 

Di sekolah-sekolah ini, para siswa juga dibekali latihan-latihan yang membuat mereka kreatif, terampil public speaking, terampil bernegosiasi, mampu bekerja dalam tim, terampil berempati, dan cerdas secara finansial. Keterampilan-keterampilan tersebut dilatih melalui pembelajaran berbasis proyek dipadu dengan AI. 

AI digunakan di sekolah-sekolah ini untuk menciptakan pengalaman belajar yang personal. Di sini AI mencatat interaksi setiap siswa termasuk tingkat fokus setiap siswa saat belajar, kemudian proses belajar mengajar dan kurikulum disesuaikan untuk hari-hari belajar berikutnya. Di sini  proses belajar dipersonalisasi dengan bantuan AI. 

Baca juga : MPLS Hari Pertama SD Santo Carolus Surabaya: Awal Perjalanan Menjadi Keluarga Besar Carolus yang Penuh Makna

Meskipun demikian, pendiri Forge Prep Anand Sanwal mengatakan bahwa untuk mengkondisi perkembangan kemampuan berpikir siswa, sekolah tetap membatasi penggunaan teknologi. Smartphone misalnya dilarang untuk digunakan di lingkungan sekolah. AI digunakan untuk membantu siswa menciptakan sesuatu, dan bukan AI generatif.  

Di sekolah alternatif ini, pendekatan pembelajarannya lebih pada proses yang berorientasi pada penguasaan keterampilan praktis dan bukan berorientasi penguasaan konten hafalan akademik. Oleh karena itu peran guru tidak lagi menjadi menjadi pengajar melainkan menjadi “guide” atau “coach”. 

Kehadiran sekolah-sekolah ini mendapat perhatian yang luar biasa bagi kalangan masyarakat kelas menengah atas dan kelas atas. Sekolah Forge Prep misalnya, ketika dibuka pertama kali, menerima pendaftaran sebanyak 600 siswa baru, padahal mereka hanya menyediakan 34 kursi bagi kelas 5 dan kelas 8. 

Banyak orang tua kemudian memindahkan anak mereka ke sekolah-sekolah ini. Salah satunya misalnya dilakukan oleh Ankur Jain. Ia adalah seorang presiden hedge fund di New Jersey. Ia memindahkan anaknya yang berusia 11 tahun dari sekolah negeri ke Forge Prep meskipun di sekolah negeri anaknya berprestasi. 

Menurut Jain, dunia sudah berubah dan proses belajar mengajar di sekolah seharusnya menyiapkan anak-anak untuk menghadapi perubahan. Hingga kini sekolah-sekolah negeri tidak melakukan proses ini dengan baik. 

“Masa depan sedang berubah, kalau kita masih mengajar anak-anak dengan cara yang sama seperti tahun 60, tahun 70 atau tahun 80 lalu, bagaimana mereka siap menghadapi perubahan?,” ungkapnya seperti dilansir pada laman CNBC. 

Baca juga : Ini Alasan Norwegia Larang Anak SD Gunakan AI dan Mengajak Sekolah Fokus pada Baca, Tulis, dan Berhitung

Orang tua lain, Shaun Johnson, juga melakukan hal yang sama, memindahkan anaknya ke Alpha School. Ia adalah seorang investor modal ventura asal San Francisco. Ia memilih memindahkan anaknya ke Alpha School setelah merasa tidak puas di sekolah negeri. Menurutnya pendidikan  harusnya sudah dirombak, karena AI, dunia kerja sudah berubah.  

Meskipun mendapat sambutan dari masyarakat kelas menengah dan kelas atas, namun kehadiran sekolah alternatif ini juga menuai kritik. Kritik misalnya datang dari Profesor Pendidikan Stanford University, Caroline Hoxby. Ia mengatakan pembelajaran proyek bukan konsep baru. Menurutnya yang berbeda saat ini adalah integrasi AI ke dalam proses belajar. 

Ia mengatakan efektivitas model tersebut masih belum memiliki bukti ilmiah yang kuat. “Saya bukan pendukung model pendidikan manapun yang belum memiliki bukti empiris ilmiah yang memadai,” kata Hoxby. 

Kritik juga datang dari profesor pendidikan Stanford University Victor Lee. Menurutnya penggunaan istilah “guide” sebagai pengganti guru berpotensi mengurangi penghargaan terhadap profesi pendidik. Menurut Lee, ini bisa berdampak negatif pada keahlian dan profesionalisme guru. 

Meskipun demikian pendiri sekolah alternatif Forge Prep, Anand Sanwal tetap optimis sekolah alternatif dengan pendekatan baru ini akan menjadi masa depan pendidikan. Dunia berubah dengan cepat. Model pendidikan yang dialami orang tua dulu tidak akan cukup untuk menghadapi perubahan di masa depan.

Foto:Forge Prep 

5 1 vote
Article Rating
Sebarkan Artikel Ini:
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments