Depoedu.com-Setelah melarang anak sekolah menggunakan smartphone di sekolah pada tahun 2024, kini Norwegia kembali melarang anak sekolah dasar (SD) menggunakan layanan Artificial Intelligence (AI) generatif. AI generatif adalah jenis kecerdasan buatan yang mampu menghasilkan konten atau ide baru dan original berupa teks, gambar, audio, dan video.
Larangan tersebut disampaikan oleh Perdana Menteri Norwegia Jonas Gahr Stoere dalam sebuah konferensi pers belum lama ini. Menurut Jonas penggunaan AI generatif dapat berpotensi membuat anak-anak melompati proses belajar berpikir dan rangsangan pembentukan otak yang sangat penting.
Sebaliknya ia menghimbau agar proses belajar di SD fokus saja pada belajar membaca, menulis, dan berhitung. Menurut Jonas, ini adalah masa peka proses pembentukan otak dan proses belajar berpikir yang menggunakan proses belajar membaca, menulis dan berhitung sebagai sarananya.
“Hal terpenting di sekolah dasar adalah anak kita belajar membaca, menulis dan berhitung, karena melalui proses tersebut perkembangan otak dirangsang dan proses penting pembelajaran berpikir dilakukan. Jangan sampai proses tersebut tidak terjadi karena anak menggunakan AI,” kata Jonas seperti dilansir pada laman Reuters.
Oleh karena itu, Perdana Menteri dari Partai Buruh ini berharap agar para pengelola pendidikan, terutama Kepala Sekolah dan guru, memikirkan cara teknis yang efektif untuk mencegah kemungkinan anak menggunakan AI generatif dalam proses belajar mengajar di sekolah, terutama ketika mereka mengerjakan tugas dan ujian.
Larangan ini akan mulai berlaku pada bulan Agustus, bertepatan dengan dimulainya tahun ajaran baru 2026/2027. Larangan tersebut berlaku tidak hanya bagi siswa kelas 1-7 atau anak usia 6-13 tahun melainkan juga berlaku bagi anak usia 14-16 atau siswa sekolah menengah, tetapi dengan aturan yang lebih longgar dan pengawasan guru.
Baca juga : Pengajaran di Sekolah Dapat Menjadi Sarana Pengembangan Kreativitas?
Karena dampak AI generatif, Jonas juga mengingatkan agar remaja usia 17 tahun ke atas yang boleh menggunakan AI, menggunakan AI secara tepat. Oleh karena itu ia mengharapkan lembaga pendidikan tempat anak-anak tersebut belajar segera membekali remaja agar dapat menggunakan AI secara bertanggung jawab.
Selain lembaga pendidikan, Jonas juga berharap agar orang tua lebih aktif mendampingi anak-anak, agar mereka memiliki sikap yang lebih bertanggung jawab dalam menggunakan AI secara benar.
Sebagai alat Jonas mengingatkan, AI dapat berdampak baik dan buruk, tergantung sikap remaja dalam menggunakan AI. Jika bertanggung jawab dalam menggunakan AI, AI bisa berdampak baik. Dan itu sangat tergantung pada bagaimana orang tua mendampingi remaja.
