Cara Kita Menangani Kasus yang Melibatkan Remaja

Family Talk
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com – Tim Gabungan TNI, dan Polri, bersama pemerintah kecamatan Pasar Kota Jambi, melakukan razia yang disebut Operasi Penat seperti dilansir oleh Kompas.com. Operasi tersebut dilakukan untuk membersihkan penyakit masyarakat (penat) untuk menciptakan situasi yang kondusif.

Dalam razia tersebut ditangkap sedikitnya 37 pasangan anak di bawah umur. Mereka diduga menggelar pesta seks di kamar hotel. Pada saat ditangkap, ditemukan barang bukti berupa kotak kondom, obat kuat, dan minuman keras.

Pada satu kamar ditemukan 6 laki-laki berumur 15 tahun dan seorang perempuan berumur 13 tahun. Mereka diduga menggelar pesta seks untuk merayakan ulang tahun salah satu dari mereka.

Baca Juga : Mendorong Sikap Lebih Moderat Dalam Penanganan Kasus Murid Hamil Di Luar Nikah

Sebelum kejadian ini, belum lama berselang di Tuban, Jawa Timur, seorang siswi SMK melakukan hubungan seks dengan dua teman prianya dari SMK yang berbeda. Hubungan seks tersebut mereka rekam dan disiarkan live kepada teman perempuan mereka, sesama siswi SMK yang tengah berada di tempat lain.

Video live tersebut kemudian viral di media sosial dan membuat geger. Tidak hanya tentang seks, setahun yang lalu pada Oktober 2019, kejadian miris lainnya terjadi. Seorang murid kelas X di sebuah SMK di Minahasa menusuk gurunya dengan pisau berkali-kali, hingga guru tersebut tewas.

Baca Juga : Peringatan Untuk Para Orang Tua, Remajamu Bukan Komoditi

Kasus miris lainnya terjadi pula di Madura pada Bulan Februari 2018. Kejadian tersebut bermula dari teguran guru pada pelaku, karena pelaku tidur pada saat pelajaran berlangsung.

Pelaku tidak terima teguran tersebut, lalu memukul guru tersebut dan mengenai pelipis. Pukulan berhenti karena guru mengalah dan tidak meladeni murid tersebut. Rupanya tidak berhenti di kelas.

Masih dengan amarah, murid tersebut menghadang gurunya di jalan dan menganiayanya. Ia pingsan setelah tiba di rumahnya.

Baca Juga : Kemandirian, Keutamaan Pribadi Siswa Usia SMP

Hasil autopsi menyebutkan bahwa pukulan keras di batang otak menyebabkan semua organ vital dalam, seperti jantung dan paru-paru berhenti berfungsi.

Kejadian-kejadian seperti ini dengan berbagai versinya hampir setiap hari terjadi dan kita baca di media.

Ada apa dengan remaja?

Kejadian miris seperti ini bukan saja terjadi pada zaman sekarang. Sejak dulu, tindakan remaja telah membuat orang dewasa prihatin, misalnya dapat dilacak pada karya Wiliam Shakespeare.

Dalam salah satu naskah drama yang ia tulis berjudul The Winter’s Tale, Shakespeare menulis andai saja tak ada usia antara sepuluh dan dua puluh tiga tahun, atau kaum muda tidur panjang pada rentang usia itu.

Shakespeare selanjutnya menulis, di antara kedua usia itu, kerja remaja hanya menghamili gadis, membantah orang tua, mencuri ddan berkelahi.

Baca Juga : Menangkal Radikalisme Dalam Dunia Pendidikan

Ini salah satu gambaran remaja zaman itu. Itu berarti hingga sekarang kondisi remaja masih belum banyak berubah.

Kondisi ini yang mendorong kajian yang lebih formal dan ilmiah, misalnya oleh G. Stanley Hall. Ia kemudian menamai masa remaja sebagai masa badai dan stress. Menurutnya, ini pun mencerminkan salah satu tahap perkembangan manusia yang belum beradab.

Baca Juga : Remaja Di Belantara Media

Freud dalam penyelidikannya menyimpulkan bahwa kasus-kasus remaja merupakan representasi dari konflik psikoseksual yang menyiksa remaja.

Ahli psikologi yang lebih modern, seperti Erik Erikson, melihat kasus-kasus remaja sebagai representasi dari krisis identitas  remaja.

Masa ini menurut Erikson adalah masa yang paling bergejolak. Masa remaja menurutnya memang selalu “bermasalah”.

Penjelasan-penjelasan tersebut tetap tidak mampu menjelaskan banyak misteri seputar remaja. Maka penyelidikan terus dilakukan, bahkan hingga kini.

Baca Juga : Kasus Bunuh Diri Remaja, Ke Mana Orang Tua Dan Guru?

Pada akhir abad 20, para neurolog menggunakan teknologi pencitraan otak yang memungkinkan mereka melihat otak remaja secara terperinci.

Proses tersebut membantu mereka menyimpulkan bahwa otak yang telah bertumbuh pada tahap sebelumnya, pada masa remaja mengalami penataan ulang secara besar-besaran dan renovasi meluas mulai usia 12 tahun, hingga usia 20-an tahun.

Pada rentang usia tersebut, wilayah otak yang berfungsi sebagai direktori ingatan dan area yang menetapkan sasaran dan mempertimbangkan pro kontra dalam memutuskan, baru mulai terbentuk.

Akibatnya remaja baru mulai menyertakan ingatan dan pengalaman ke dalam proses pengambilan keputusan, dan sudah mulai mempertimbangkan variabel dan agenda yang jauh lebih banyak.

Baca Juga : Menjadi Orang Tua Sepenuhnya Untuk Remaja Kita

Namun karena baru mulai terbentuk, maka mereka sudah mampu berpikir lebih rasional, namun rasionalitas yang kaku. Ini menfjelaskan bahwa dalam banyak situasi mengapa para remaja karena berpikir rasional dapat melakukan hal yang nekat bahkan bertindak bodoh misalnya dalam urusan membela teman.

Bersama dengan itu, secara fisik remaja pun berada pada fase pertumbuhan fisik yang pesat, diikuti kematangan fungsi hormon. Perkembangan ini berpengaruh secara sosial, mulai tertarik dan mengalami dorongan pada banyak hal baru.

Remaja pada masa ini jadi mencoba banyak hal baru, termasuk mencari sensasi yang terkadang memicu adrenalin.

Para psikolog mengatakan bahwa semua ini merupakan gejala yang wajar, sebagian dari pertumbuhan yang wajar pula.

Cara kita menanggapi remaja

Pernyataan camat pasar Kota Jambi setelah Razia yang salah satu kasusnya ditampilkan pada awal tulisan ini cenderung normatif seperti pernyataan dari para pejabat pada umumnya.

Ia mengatakan bahwa ini sangat miris sekali. Kelanjutan dari kasus ini, ia merencanakan akan panggil orang tua remaja di bawah umur ini. Mereka akan diminta untuk membuat pernyataan.

Selain orang tua, sang camat juga merencanakan untuk memberikan teguran keras pada pihak hotel karena telah menerima anak di bawah umur untuk menginap di kamarnya.

Baca Juga : Apakah Yang Perlu Diperjuangkan Orang Tua Untuk Menumbuhkan Rasa Percaya Diri Anak?

Selanjutnya, entah ada tindakan atau tidak seperti yang dikatakan, kita tidak tahu. Dalam banyak kasus model responnya selalu seperti itu dan terlupakan seiring berjalannya waktu.

Penanganan kita selalu mecakup seputar gejala. Tidak pernah kita mendengar ada upaya penanganan yang menyeluruh hingga ke akar masalah. Kita selalu berhenti pada upaya penanganan gejala.

Selain itu, jika ada kasus yang terjadi, kasus tersebut cenderung dilihat sebagai kasus yang berdiri sendiri. Kejadian tersebut tidak saling terkait dengan kasus yang lainnya.

Baca Juga : Kesadisan Dikalangan Remaja

Sehingga jika ada penanganan, cenderung menjadi penanganan yang bersifat parsial. Oleh karena itu, cenderung tidak berdampak menyelesaikan kasus.

Di samping itu, kasus terkait remaja hanya dapat ditangani secara menyeluruh jika remaja dipahami secara benar. Bahwa masalah yang dialami oleh remaja adalah representasi dari krisis identitas mereka.

Dan krisis identitas remaja adalah bagian yang wajar dari pertumbuhannya. Remaja bahkan membutuhkan krisis agar dapat memasuki masa dewasa dengan landasan yang kuat.

Baca Juga : Empat Cara Membentuk Karakter Anak Sejak Dini

Pemahaman ini akan membuat orang dewasa dapat memberikan bantuan secara proposional ketika remaja sedang dirundung masalah.

Bahkan pemahaman yang benar tentang remaja, membuat orang dewasa dapat membekali remaja dengan bekal yang remaja butuhkan dalam pertumbuhannya. Sehingga remaja bahkan tidak perlu dirundung masalah.

Foto : jatimes.com 

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of