Depoedu.com – China adalah negara besar namun memiliki birokrasi pemerintah yang sangat lincah dalam melakukan integrasi, adaptasi kebijakan untuk melakukan antisipasi. Misalnya terhadap dampak perkembangan Artificial Intelligence (AI) bagi dunia pendidikan.
Bukan hanya terkait dampak AI terhadap kesiapan siswa calon tenaga kerja memasuki dunia kerja, melainkan juga bagaimana sekolah memanfaatkan AI untuk proses pendidikan dan pengajaran yang lebih efisien dan efektif dan bagaimana mempertahankan pertumbuhan sebagai bagsa secara berkesinambungan.
Oleh karena itu, pada tanggal 10 april 2026 pemerintah China secara resmi meluncurkan Rencana Aksi “AI+Education” sebuah kebijakan besar yang diterbitkan bersama oleh tiga lembaga yakni Kementerian Pendidikan, Kementerian Sains dan Teknologi dan Komisi Pembangunan dan Reformasi.
Baca Juga: Indonesia Punya Universitas Tertua di Dunia, Lebih Tua daripada Oxford University
Inisiatif ini bukan sekedar penambahan mata pelajaran baru, melainkan strategi nasional jangka panjang untuk merombak total sistem pendidikan, dengan mengintegrasikan Artificial Intelligence (AI) ke seluruh aspek pendidikan, dari sekolah dasar hingga pendidikan sepanjang hayat. Target pencapaiannya hingga tahun 2035.
Inti dari kebijakan ini adalah upaya membangun sistem pendidikan cerdas, inklusif dan berorientasi masa depan, guna mencetak generasi yang siap bersaing di era ekonomi digital dan teknologi maju.
Ambisi China menjadi kekuatan utama pendidikan teknologi dunia
Kebijakan ini lahir dari visi besar China untuk menjadi kekuatan pendidikan dan teknologi dunia. Di tengah pergeseran global menuju ekonomi digital dan revolusi industri 4.0, pemerintah China menyadari bahwa sistem pendidikan konvensional tidak lagi cukup memenuhi kebutuhan masa depan.
Tujuan utama dari inisiatif ini adalah membangun sistem literasi AI nasional yang mencakup semua jenjang dan seluruh lapisan masyarakat, mengubah cara mengajar dan belajar, serta menjadikan AI sebagai pendorong utama kemajuan pendidikan.
Secara rinci targetnya adalah pada tahun 2030 integrasi mendalam antara AI dan pendidikan tercapai sepenuhnya, sistem pendidikan cerdas terbentuk, seluruh warga negara memiliki literasi AI dasar, sementara pada tahun 2035 model pendidikan ini, diharapkan menjadi acuan dunia.
Isi utama Inisiatif AI+Education
Bagian ini berisi enam kebijakan inti dari inisiatif ini untuk menghantar pembaca memahami tentang inisiatif ini. Bagi para pengelola sekolah uraian bagian ini diharapkan menginspirasi mereka dalam mengelola sekolah terkait AI dan dampaknya.
- Integrasi kurikulum di semua jenjang pendidikan
Poin paling inti dan luas dari kebijakan ini adalah masuknya AI ke dalam kurikulum secara wajib dan terstruktur pada setiap tingkatan pendidikan dengan mempertimbangkan kematangan peserta didik pada jenjang tersebut.
- Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah
AI dimasukan sebagai mata pelajaran wajib di seluruh sekolah di China. Bersama dengan kebijakan ini pemerintah telah menerbitkan Pedoman Pendidikan AI Umum Sekolah 2025 dan Pedoman penggunaan AI Generatif sebagai standar resmi.
Pembelajaran di SD dan sekolah menengah tidak hanya berupa teori, juga secara lintas disiplin melalui proyek. Fokus utamanya menanamkan logika komputasi, pemikiran kritis dan pemahaman dasar tentang cara kerja teknologi.
Khusus untuk daera pedasaan dan terpencil, pemerintah China membangun pusat pendidikan AI dan menyediakan akses ke platform nasional agar pelajar di daerah terpencil tidak tertinggal.
- Perguruan Tinggi
Langkah paling revolusioner disini adalah penetapan AI sebagai mata kuliah wajib bagi semua mahasiswa pada semua program studi. Jadi tidak hanya terbatas pada mahasiswa teknik atau informatika saja melainkan, mahasiswa ilmu hukum, ekonomi, kedokteran, hingga mahasiswa seni wajib mempelajari AI.
Selain itu, universitas didorong untuk membuka membuka jurusan baru, seperti teknologi pendidikan, rekayasa AI, Ilmu Data, serta memadukan AI ke dalam jurusan-jurusan lama agar lulusannya memiliki keunggulan kompetitif.
Universitas juga didorong oleh pemerintah China agar berkolaborasi dengan dunia industri untuk mengembangkan AI dan memanfaatkan AI baik untuk pengembangan universitas maupun untuk pengembangan industri. Juga untuk memastikan materi ajar relevan dengan kebutuhan dunia kerja.
- Pendidikan vokasi dan kejuruan
Fokusnya adalah pada penguasaan keterampilan praktis. AI disisipkan kedalam materi keahlian teknis, mulai dari, mekanik listrik, pariwisata, hingga manufaktur. Tujuannya melatih tenaga terampil, agar tidak hanya mahir di bidangnya tetapi juga mampu mengoperasikan, memelihara dan beradaptasi dengan sistem AI di tempat kerja kelak.
- Pendidikan sepanjang hayat
Bagi mereka yang sudah aktif di dunia kerja, disediakan kursus mikro sertifikat singkat dan modul keterampilan AI agar warga dewasa dapat memperbaharui kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan di dunia kerja dan tidak tertinggal perkembangan teknologi.
- Standar baru dan pendidikan guru dan pelatihan wajib bagi guru
Pemerintah China menyadari bahwa keberhasilan inisiatif ini sangat bergantung pada kesiapan guru. Oleh karena itu diterbitkan Standar Literasi AI Nasional untuk Guru. Pengetahuan tentang AI kini resmi dimasukan ke dalam ujian sertifikasi dan syarat izin mengajar.
Artinya, mulai sekarang menjadi guru di China tidak hanya butuh kemampuan mengajar, tetapi juga wajib menguasai dasar dasar AI dan wajib dapat menggunakan AI secara praktis dalam melakukan pekerjaan sehari-hari sebagai guru.
Oleh karena itu, dibangun sistem pelatihan bertingkat bagi guru baru, bagi guru senior, hingga kepala sekolah dan pengawas, disertai panduan resmi pengguna AI di kelas. Selain itu, AI didesain sebagai alat bantu kerja guru; melakukan penilaian otomatis, analisis kemajuan siswa, pembuatan materi ajar, untuk mengurangi beban administrasi guru.
Dengan demikian guru diharapkan lebih fokus membimbing karakter, dan pengembangan potensi peserta didik. Guru juga memiliki waktu untuk belajar mengembangkan diri untuk terus bekembang mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan.
- Transformasi cara belajar dan mengajar
AI diharapkan mengubah pola pendidikan yang tadinya, “satu cara untuk semua orang” menjadi memungkinkan pendekatan pembelajaran yang personal dan individual. Dengan bantuan AI guru dapat menganalisis kemampuan tiap peserta didik gaya belajar, kecepatan belajar, lalu menyajikan materi, pelatihan dan pendampingan yang bersifat individual.
Konsep “kelas cerdas” diterapkan secara individual dengan alat interaktif, tutor AI, simulasi digital, hingga laboratorium virtual yang memungkinkan peserta didik belajar tanpa batas waktu dan ruang.
Sistem penilaian peserta didik pun berubah. Guru tidak lagi hanya menilai hasil akhir dari pekerjaan peserta didik saja melainkan dapat melakukan evaluasi proses, kreativitas dan kemampuan peserta didik memecahkan masalah.
Model pembelajaran hibrid ( tatap muka dan daring) menjadi standar baru pengajaran yang memberikan fleksibilitas bagi peserta didik dan guru untuk menyajikan pengajaran dan mengikuti proses belajar kapanpun dan dimanapun.
- Infrastruktur dan platform nasional terpadu
Untuk mendukung transformasi ini pemerintah China membangun Platform Pendidikan Nasional 2.0, sebuah sistem pusat yang menyediakan sumber belajar gratis, berkualitas tinggi, bagi seluruh rakyat di seluruh wilayah.
Pemerintah China membangun komputasi AI dan pusat data pendidikan terpadu, serta menjamin akses internet dan perangkat digital lengkap ke sekolah-sekolah hingga ke daerah-daerah terpencil.
Hal ini untuk menghapus kesenjangan kualitas pendidikan antar daerah, menghapus kesenjangan kualitas pendidikan antara kota besar dan daerah daerah pedalaman, dan daerah daerah perbatasan.
- Etika, keamanan dan larangan
Penggunaan AI di bidang pendidikan tentu diikuti dengan pengaturan yang ketat terkait etika penggunaan AI di bidang pendidikan. Termasuk didalamnya adalah larangan penggunaan AI bagi guru dan peserta didik, untuk penggunaan yang merusak kemampuan berpikir dan kreativitas peserta didik.
Juga termasuk penyalahgunaan, perlindungan hak cipta yang dihasilkan oleh AI serta perlindungan yang ketat terhadap privasi dan data pribadi guru maupun peserta didik. Pemerintah juga menetapkan standar teknis yang jelas dengan menetapkan batasan penggunaan AI, cara memverifikasi kebenaran hasil AI, mencegah bias.
Ini dimaksud agar, AI tetap bernilai baik dan dapat digunakan dalam pelayanan pendidikan dan pengajaran, serta yang paling penting berdampak menumbuhkan bukan hanya peserta didik tetapi guru.
- Pembangunan ekosistem dan kolaborasi
Keberhasilan inisiatif ini melibatkan banyak pihak. Oleh karena itu, pemerintah China membentuk aliansi Pendidikan AI Nasional yang melibatkan sekolah, universitas, lembaga riset dan perusahaan teknologi besar seperti Huawei, Baidu, Alibaba dan Tencent.
Peran industri ini sangat krusial dalam pengembangan alat, konten dan riset terapan. Di tingkat internasional China mengajukan Inisiatif Hangzhou untuk mengundang kerjasama global dalam pengembangan standar standar pendidikan AI dan berbagai sumber daya. Ini menempatkan China sebagai pemimpin kolaborasi pendidikan digital dunia.
Apa yang kita pelajari dari inisiatif AI+Education?
Inisiatif AI+Education ini bukan hanya sekedar berusaha beradaptasi dengan perkembangan zaman, tetapi berusaha menggunakan peluang yang disediakan oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk mengembangkan generasi muda dan tidak mau kehilangan peluang sedikitpun dan negara hadir dan mengambil inisiatif pertama.
Negara tidak hanya sibuk mengelola dan mendistribusikan kekuasaan melainkan juga terlibat dalam masalah pendidikan yang praktis seperti bagaimana guru efektif bekerja, bagaimana setiap anak memiliki kesempatan belajar yang adil, menyenangkan, sesuai dengan bakat masing-masing.
Bagi China, inisiatif ini adalah investasi strategis yang memastikan China terus memiliki pasokan talenta digital. Ini adalah strategi pembangunan berkelanjutan dan bersiap merebut posisi menjadi pemimpin teknologi global.
Nampaknya bagi China di masa depan dunia pendidikan tidak bisa lepas dari integrasi mendalam dengan AI. Di sisi lain, kebijakan ini telah menjadi rujukan bagi banyak negara di dunia yang sedang merancang strategi pendidikan digitalnya. Bahkan di tahun 2035 China berambisi menjadi acuan dunia.
Foto: Antara News
