Kemandirian, Keutamaan Pribadi Siswa Usia SMP

Bimbingan
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com – Masa belajar di SMP ditempuh peserta didik pada rentang usia 12 – 15 tahun, saat mereka tengah berada pada awal masa remaja. Tahap perkembangan ini meliputi masa pubertas, sebuah tahap pematangan fungsi seksual, dengan sejumlah dampak fisik dan psikis yang selanjutnya memunculkan sejumlah kecenderungan sikap dan perilaku yang khas pada usia ini. Salah satu kecenderungan yang paling menonjol adalah kebutuhan untuk menjadi bagian dalam sebuah kelompok pertemanan. Kecenderungan kuat yang kemudian menjadi ciri utama perkembangan individu pada tahap tersebut membuat periode ini kerap dikenal dengan nama gang age.

Pada dasarnya, kemampuan berkawan yang dirintis peserta didik pada usia ini merupakan upaya memenuhi salah satu tugas perkembangan remaja yang tengah mereka hadapi. Sebagaimana terjadi pada tahap-tahap perkembangan sebelumnya, keberhasilan memenuhi tugas perkembangan pada satu tahap menentukan keberhasilan mereka menyelesaikan tugas perkembangan baru yang berbeda pada tahap usia selanjutnya. Maka, lingkungan hidup peserta didik, khususnya keluarga dan sekolah, perlu memberikan dukungan bagi proses ini.

Membangun relasi sosial pada masa remaja membuka kemungkinan berkembangnya wawasan mereka tentang dunia, melengkapi gambaran yang mereka miliki dari keluarga sampai saat itu. Melalui proses ini pula remaja berlatih mengasah kepekaan akan situasi dan kebutuhan orang lain (teman dalam hal ini) serta mewujudkannya dalam tindakan saling memperhatikan, saling membantu, dan peduli satu sama lain.

Namun bersama dengan itu, proses di atas juga memuat sejumlah kondisi yang justru berpeluang menghambat mereka. Kebutuhan kuat akan status anggota dalam sebuah kelompok pertemanan misalnya, tidak jarang membuat remaja melepas sejumlah identitas diri mereka (termasuk nilai-nilai hidup yang telah dengan baik ditanamkan oleh keluarga), dan menggantinya dengan identitas kelompok, yang bisa jadi memuat unsur negatif. Salah satu bentuk yang mudah ditemukan dalam hal ini adalah memudarnya nilai penghargaan terhadap orang tua, berganti dengan ‘nilai’ baru menolak dominasi orang dewasa. Hal ini kiranya bersumber dari kecenderungan menilai orang dewasa khususnya orang tua sebagai tokoh otoritas yang keberadaannya ‘mengancam’ kebutuhan mereka akan kebebasan dan otonomi. Maka merenggangnya relasi dengan orang tua menjadi fenomena yang kerap dikeluhkan orang tua tentang remaja muda mereka.

Selain itu, rasa aman berada dalam kelompok bisa membuat mereka berlindung di balik komunitasnya tersebut dan kurang berani menghadapi sendiri tantangan hidup konkrit di depan mereka. Belum lagi bila kemudian terjadi perselisihan antar kelompok pertemanan, tak jarang mereka terjebak pada fanatisme sempit yang membuat mereka memunculkan perilaku destruktif atas dasar kesetiaan pada kelompok. Meningkatnya jumlah dan intensitas kasus tawuran serta perkelahian antar pelajar menjadi bukti nyata keprihatinan ini. Kesetiaan pada kelompok dapat pula berwujud kecenderungan konformis terhadap keputusan kelompok, sekalipun itu disadari sebagai negatif bahkan bertentangan dengan nilai pribadi yang dimilikinya dari keluarga. Meluasnya penyebaran tayangan pornografi di kalangan remaja dimungkinkan dan dikondisikan antara lain oleh fakta ini.

Kemandirian kiranya menjadi nilai penting bagi remaja usia SMP dalam menyikapi dilema ini. Pribadi mandiri ditandai dengan kemampuan memberikan penghargaan wajar dan memadai terhadap diri sendiri, yang membantunya bertahan pada keyakinan-keyakinan positif dalam dirinya dan menguatkannya mengambil sikap tepat terhadap godaan, dan tantangan hidup hariannya. Lebih lanjut, ini dapat membantunya memiliki kemampuan menghargai pribadi lain termasuk orang tua dan orang dewasa lain, dengan semua kekhasan mereka. Pribadi mandiri berani mengakui perbedaan dan menyikapinya secara konstruktif, tidak terjebak pada sikap konformis. Pribadi mandiri bertanggung jawab atas dirinya, tidak menempatkan diri semata-mata sebagai anggota yang bergantung pada dan ditentukan oleh kelompok.

Gagasan ideal ini pada kenyataannya harus berhadapan dengan sekian banyak fakta yang menggambarkan merosotnya penghayatan akan nilai-nilai moral dan kemanusiaan di masa sekarang. Arus zaman yang mempertontonkan keserakahan, pengabaian nilai dan norma hukum dewasa ini menjadi tantangan luar biasa bagi peserta didik dalam mengambil sikap mandiri dan melawan arus. Oleh karena itu, pengembangan nilai kemandirian perlu disertai dengan pendalaman nilai religiositas. Kesadaran akan keterbatasan diri dan pengakuan akan kebesaran Allah yang sangat mengasihinya perlu senantiasa tumbuh dalam diri peserta didik agar terbangun ikatan kuat dengan sosok Illahi yang menuntun pilihan sikapnya melalui gema suara hati.

Berangkat dari keyakinan akan pentingnya nilai kemandirian bagi peserta didik usia remaja awal, segenap guru untuk jenjang pendidikan menengah pertama selayaknya berkomitmen mendampingi peserta didiknya dalam mengembangkan nilai ini. Kemandirian menjadi sebuah ciri khas yang diharapkan dapat dijumpai pada pribadi-pribadi peserta didik usia SMP, sepanjang masa pendidikan mereka. Lebih jauh diharapkan, dasar-dasar kemandirian yang telah mereka miliki dapat memberi kontribusi pada kekuatan mereka kelak, saat berhadapan dengan arus besar di masyarakat yang bertentangan dengan nilai –nilai kemanusiaan. (Oleh: Josybahi/Foto: askeswordpress.com)

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of