Depoedu.com-Berdasarkan data dari Kementerian Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi, kini mahasiswa asing yang sedang belajar di Indonesia ada 5.628 orang. Mereka di antaranya berasal dari negara tetangga Indonesia seperti Malaysia, Thailand, Vietnam, Filipina, dan Timor Leste.
Mahasiswa asing ini di antaranya menuntut ilmu di President University, ITS, UGM, UI, Universitas Nusa Putra Sukabumi, Universitas Muhammadiyah Surakarta, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, dan Universitas Tarumanegara Jakarta.
Apapun daya tariknya, Perguruan Tinggi Indonesia telah menarik minat mahasiswa asing dan menjadi pusat pendidikan dengan berbagai alasan. Ini ternyata bukan merupakan hal yang baru bagi Indonesia. Sebelum muncul Perguruan Tinggi modern, Indonesia sejak lama ternyata, telah memiliki pusat belajar bertaraf internasional, layaknya universitas.
Tempat itu berada di wilayah kerajaan Sriwijaya, sekarang Provinsi Sumatera Selatan. Kerajaan Sriwijaya bukan hanya terkenal sebagai penguasa jalur perdagangan laut, tetap menjadi “kampus Internasional” bagi pelajar dari berbagai negara.
Baca juga : Menunggu Tindak Lanjut Penggunaan Data Hasil TKA dari Kemendikdasmen, untuk Evaluasi Kebijakan Pendidikan
Mengutip M.D Poesponegoro dan N. Notosusanto, CNBC Indonesia mencatat bahwa Sriwijaya pada masa itu sudah terkenal luas sebagai pusat studi Agama Budha yang disegani dunia sejak abad ke-7 Masehi.
Menurut sumber ini, usia pusat belajar di Sriwijaya tersebut bahkan lebih tua daripada kampus ternama di dunia seperti Oxford University yang baru berdiri pada tahun 1096 Masehi. Dalam salah satu catatan yang ditemukan, pada tahun 671 Masehi, telah banyak tokoh belajar di sana.
Salah satu tokoh yang disebut dalam catatan tersebut adalah I-Tsing dari daratan China. Ia belajar bahasa Sansekerta. I-Tsing adalah seorang biksu penerjemah berbagai teks penting agama Budha, dari bahasa Sansekerta ke dalam bahasa Mandarin.
I-Tsing, tiba tahun 671 dan menetap selama 6 bulan di Sriwijaya untuk belajar bahasa Sansekerta. Dalam catatannya ia menulis, selain dia ada banyak biksu dari berbagai negara datang menimba ilmu di sana.
Arkeolog John Miksic dalam penelitiannya tahun 2016 menyimpulkan bahwa pusat belajar di Sriwijaya diminati karena banyak biksu yang mengajar di sini adalah lulusan Nalanda, sebuah pusat belajar paling ternama di India. Ini menyebabkan reputasi pusat belajar Sriwijaya memiliki reputasi akademik yang tinggi.
Baca juga : Menggugat Beban Kerja Dosen, Praktik Pengupahan dan Mutu Perguruan Tinggi
Reputasi pusat belajar yang tinggi ini menyebabkan Pusat Belajar di Sriwijaya ini menjadi tempat belajar para biksu sebelum mereka melanjutkan pendidikan mereka di pusat belajar Buddhisme Nalanda. Ini adalah pusat belajar Buddhisme terbesar dan paling bergengsi di masanya.
Salah satu biksu yang menjalani pendidikan persiapannya di pusat belajar Sriwijaya adalah biksu Atisha Dipamkara. Di bawah bimbingan guru ternama Dharmakirti, Atisa Dipamkara bukannya menjalani kelas persiapan, melainkan belajar selama 13 tahun di Sriwijaya.
Setelah belajar selama 13 tahun, Atisha kemudian kembali ke India dan menjadi salah satu guru besar agama Budha ternama dari kekaisaran Pala di India. Atisa Dipamkara adalah biksu alumni pusat pendidikan Sriwijaya yang paling terkenal.
Sayangnya kemasyhuran pusat pendidikan Sriwijaya ini berakhir pada abad ke-13 bersama runtuhnya kerajaan Sriwijaya akibat konflik internal serta serangan dari kerajaan Majapahit dan Cholamandala.
Foto: Koran Sulindo
