Dari Pembelajaran Tematik di Kelas Menjadi Metode Pendidikan Alternatif Bersama Komunitas

DEPO Topik
Sebarkan Artikel Ini:

Tentang : Relevansi Pendidikan Kontekstual dan Gerakan Komunitas

Surat dari Kampung

Di sekolah kita di kampung dulu kita disuruh menghafal hampir semua hal tentang lingkungan hidup di dunia: tentang hutan tropis, hujan dan air, tentang laut, ikan dan pantai, tentang udara, burung dan kesehatan paru-paru dunia, dan masih banyak lagi … ya supaya kita lulus ujian sekolah dan bisa lanjut.

Pada waktu itu kita memang belajar banyak hal tetapi kita tidak pernah belajar satu hal yang berkaitan dengan masalah kita: bagaimana menjaga mata air yang ada di kampung kita.

Hari ini, mata air di kampung kita sudah kering. Hutan di sekitar mata air sudah habis ditebang untuk buka kebun baru.

Kami harus ambil air jauh sekali. Ibumu bilang, “dengan air mata kami harus mencari mata air …  setiap hari …..”

Kakam Barek Ol’hang

Depoedu.com – “Surat” di atas menggambarkan secara sederhana namun presisi tentang persoalan kesenjangan antara social context dan learning content dalam pembelajaran di kelas.

Semua yang diajarkan dan dipelajari di sekolah lepas dari konteks dan realitas sosial kehidupan masyarakat pada tingkat lokal.

Anak-anak jadi pintar tetapi tidak cerdas dan gagap menghadapi realitas di luar buku teks dan di luar dinding ruang kelas, apalagi menghadapi ketidak-pastian (disrupsi) yang terus datang, menumpuk dan menjadi semakin kompleks dari waktu ke waktu.

Baca Juga: Kabar dari Sekolah, Catatan Pendidikan pada Hari Pendidikan Nasional, Tahun 2021

Tulisan ini merupakan rangkuman dari materi pengantar saya dalam acara diskusi online kedua tentang pendidikan kontekstual dan gerakan komunitas di Flores Timur dan Lembata.

Fokus analisis tulisan ini ada pada gerakan pembardayaan oleh dan untuk perempuan, seperti antara lain gerakan perempuan PEKKA di Flores Timur dan Lembata. Saya merasa relatif lebih familiar dengan dengan topik ini dibanding topik Bank Tani di Sumatra Barat.

Seri diskusi ini diharapkan dapat mendekatkan pembelajaran di sekolah dan berbagai gerakan pemberdayaan (oleh) komunitas di tingkat akar rumput dengan konteks alam lingkungan hidup dan berbagai persoalan sosial ekonomi yang dihadapi masyarakat di Flores Timur dan Lembata.

  1. Mengenal Konsep Pendidikan Kontekstual dan Pelajaran Tematik

Psikolog Ruth Cohn (1912-2010) dalam kegiatannya di klinik mental health mencatat beberapa hal penting yang menjadi tonggak bagi apa yang kemudian dikenal sebagai Theme-Centered Instruction (TCI) di Amerika atau Themenzentrierte Instruktion (TZI) di Jerman dan Swiss.

Baca Juga: Komunitas Flores Timur dari Berbagai Daerah Selenggarakan Diskusi tentang Pendidikan Flores Timur

Konsep dasar TCI/TZI dibangun di atas pengalaman praksis psikologi kesehatan mental bahwa semua klien atau pasien yang datang ke ruang konsultasi klinik psikologi merupakan subyek-subyek unik. Masing-masing mereka membawa persoalan kejiwaan yang juga unik dari dalam konteks sosial keluarga dan lingkungan sosial terdekat masing-masing.

Cohn kemudian mengelompokkan clients atau pasien menurut jenis keluhan gangguan psikologis (mental disorder) yang sama.

Setiap kelompok keluhan kemudian diarahkan untuk membentuk forum sharing, forum “saling berbagi dan saling mendengarkan” tentang masalah yang dihadapi masing-masing individu di dalam lingkungan asalnya.

Setiap peserta saling belajar dari pengalaman orang lain tentang bagaimana masing-masing individu mengatasi masalah yang menjadi tema bersama dalam sharing kelompok.

Baca Juga: “Perhatikan Semua hal, Abaikan Sebagian Besar, Benahi Sedikit”

Banyak hal yang tidak diketahui secara pribadi bisa terungkap berdasarkan pengalaman peserta lain. Mereka juga saling berbagai cara keluar dari masalah dan saling mendukung menuju penyembuhan.

Setiap individu tertarik dan dengan senang hati mau datang ke forum “terapi kelompok” karena masing-masing mereka memiliki kepentingan dengan tema yang hendak dibahas.

Jika suatu tema yang mungkin menarik dan penting tetapi tidak kontekstual dan tidak memiliki makna dan relevansi dengan persoalan yang dihadapi setiap individu maka mereka belum tentu mau datang bergabung.

Demikian pula seorang individu yang sudah datang dan bergabung tetapi kehadirannya, juga kompleksitas diri dan persoalan yang diunhkapkannya, kurang ditanggai kelompok maka ia mungkin akan memilih mundur.

Baca Juga: Soal Pendidikan, Mengapa Harus Kontekstual?

TCI/TZI mengandaikan setiap individu bersedia bergabung dalam satu ‘kelompok belajar’  karena: pertama, seorang individu menganggap tema yang dibahas itu penting, relevan dan memiliki makna untuk menjawab masalah pribadi yang sedang ia hadapi.

Individu itu sedang dalam posisi mencari solusi atas masalah yang ia hadapi, dan bahwa tema yang hendak dibahas bersama kelompok itu penting, urgen, dan berkaitan langsung dengan pencarian solusi atas masalah yang sedang ia hadapi.

Kedua, orang itu mau bergabung dengan kelompok yang juga memiliki kepedulian dan kepentingan dengan tema yang sama karena ia melihat ada peluang untuk belajar mengenal lebih jauh kompleksitas masalah yang ia hadapi sendiri berdasarkan pengalaman orang lain dalam kelompok.

Baca Juga : Mewaspadai Komersialisasi Asesmen Nasional Oleh Lembaga Bimbingan Belajar Dan Sekolah

Dan bahwa dalam sharing bersama itu orang bisa memperoleh dukungan dan petunjuk untuk keluar dari masalah. Di dalam kelompok mereka saling belajar dan saling menguatkan. Di sana berlaku prinsip: You are not alone!

Cara kerja TCI/TZI seperti di atas dapat “dipetakan” dalam segitiga TCI/TZI dimana ada TEMA yang memiliki konteks dan aktualitas dengan realitas sosial dan alam lingkungan setempat; ada SAYA sebagai individu unik.

Individu yang juga memiliki sifat dan kepribadian tersendiri, memiliki masalah pribadi dan konteks sosial pribadi tetapi (sangat) berkepentingan degan TEMA; dan KITA yang memiliki kesamaan kepentingan dengan TEMA, memiliki kekuatan kolektif untuk menggarap TEMA, dan menjadi tempat bertanya dan mencari dukungan bagi SAYA dalam mengatasi masalah SAYA.

Baik TEMA, SAYA, dan KITA sama-sama berada dalam suatu alam lingkungan konkret (GLOBE) yang dijalani setiap hari, bukan alam lingkungan di dalam buku, apalagi di dunia luar sana.

Diantara teori-teori belajar yang melandasi konsep pembelajaran tematik TCI/TZI,  ada tiga tiang utama yang menjadi penyanggah segi tiga TCI/TZI:

Pertama, pengakuan pada individu anak sebagai unik dan perlu dipahami sebagai titik tolak memperlakukan anak dalam pembelajaran (Maria Montessori). Kedua, Jerome Bruner dengan prinsip pembelajaran sebagi pemberian scaffolding kepada anak.

Baca Juga:

Basis dalil Bruner ini kemudiah dikenal dalam prinsip dasar pendidikan Montessori: “help me to do it myself.”

Ketiga, Lev Vygotscky yang mengenalkan sociocultural theory: anak-anak memperoleh nilai-nilai budaya, keyakinan, dan strategi pemecahan masalah mereka melalui dialog kolaboratif dengan anggota masyarakat yang lebih berpengetahuan (prinsip pembelajaran kontekstual).

Oleh karena itu interaksi sosial di dalam dan dengan masyarakat sangat penting dalam memaknai tema pembelajaran.

Prinsip “dialog kolaboratif dengan anggota masyarakat yang lebih berpengetahuan” kembali merujuk pada peran kelompok pengegrak (dan guru pendamping) sebagai pemberi scaffolding dalam pembelajaran tematik.

KONSEP TCI/TZI sebagai fondasi pembelajaram tematis di sekolah (Kurikulu 2013) dirancang untuk mendukung pembelajaran yang membuat anak-anak sejak dini mengenal dan menguasai alam lingkungan dan realitas sosial di mana mereka lahir dan bertumbuh jadi dewasa “menuju abad 21”.

Baca Juga: PPKn dan Pendidikan Agama Dilebur Jadi Satu Mata Pelajaran. Apa Penjelasan Mentri Pendidikan?

Empat pilar kemampuan yang dituntut oleh the 21st century learning skills yaitu the 4Cs (critical thinking, collaboration, creativity, communication) menjadi urat dan saraf pembentukan kemampuan kognitiv anak di sekolah.

Sayang, dimensi yang sedemikian penting ini belum sepenuhnya menjadi fokus pembenahan kegiatan pembelajaran di sekolah. Anak-anak masih djejali dengan kemampuan-kemampuan kognitif level rendah (LOTS). Soal ini tidak akan saya bahas di sini (mungkin dalam forum lain).

  1. Bagaimana menerapkan prinsip-prinsip pembelajaran tematik-kontekstual (TCI/TZI) dalam rancang bangun kegiatan pemberdayaan perempuan dan kelompok akar rumput lain?

Sharing ibu Dette tentang perjuangan pemberdayaan perempuan kepala keluarga di Adonara dan Lembara (PEKKA) membuka banyak hal yang justru gagal dilakukan oleh sekolah.

Konsolidasi kekuatan perempuan berbasis kesamaan masalah yang dihadapi kaum perempuan, teruama perempuan kepala keluarga, telah melahirkan berbagai bentuk kegiatan tematik yang kontekstual: tema dan konteks kegiatan menyatu dengan situasi aktual kehidupan dan perjuangan para perempuan kepala keluarga di Adonara dan Lembata.

Baca Juga: Pesan untuk Lembaga Pendidikan : Skincare Penting untuk Kesehatan Kulit Remaja

Mereka mengorganisasi diri dari banyak SAYA menjadi satu KITA. Dengan bergabung sebagai KITA setiap individu anggota kelompok dapat memperoleh kekuatan kolektif dalam membaca persoalan (critical thinking).

Foto daro laman facebook Robert B. Baowollo

Keumudian konsolidasi diri agar mampu bekerjasama mengatasi masalah dan mencapai tujuan masing-masing anggota maupun tujuan kelompok (collaboration).

Dan kreatif dan inovatif dalam mengolah berbagai potensi sosial dan ekonomi yang ada di lingkungan mereka (creativity), dan mampu mengkomunikasikan perjuangan, gagasan, dan karya mereka ke dunia luar demi pemberdayaan perempuan (communication).

Apa yang perlu dilakukkan PEKKA dan organisasi-organiasi penggerak komunitas lain agar efektif menciptaan perubahan?

  • Pahami dengan baik dan benar visi & misi organisasi: organisasi penggerak komunitas hadir untuk apa?

Tanpa pemahaman dan konsekuen berjalan di atas alur rel visi dan misi, suatu organisasi pemberdayaan mudah melenceng kemana-mana, melakukan (terlalu) banyak hal dan tidak fokus pada satu hal sebagai core business organisasi;

  • Ada banyak masalah yang dihadapi perempuan, terutama perempuan kepala keluarga. Namun demikian orang harus bisa berpikir dan bertindak kritis dalam memilah dan menentukan prioritas masalah.

Bedakan keinginan (wish), apalagi keinginan segelintir pengurus,  dari kebutuhan (needs) mayoritas anggota.

Baca Juga: Gara Gara Murid Berbohong, Seorang Guru Sejarah dibunuh Teroris di Perancis

  • Buat skala pioritas masalah dan pastikan apa focal point dari setiap gerakan bersama.
  • Lakukan analisis SWOT atas sebuah masalah sebelum menyusun rencana intervensi dengan program apapun.
  • Identifikasi siapa/kelompok sosial mana yang berkepentingan dengan isu & masalah yang mana. Juga identifikasi siapa/kelompok sosial mana yang resisten terhadap inisiatif pemberdayaan yang diusung organisasi. Pengetahuan tetang manajemen konflik akan sangat menolong.
  • Bangun spirit/semangat kolektif, perkuat platfom kebersamaan (kohesi kelompok) dengan berbagai kegiatan yang tidak menguras energi.
  • Perkuat soliditas organisasi dan lakukan capacity building secara terus-menerus untuk bergerak sesuai visi & misi kelompok.

Yogyakarta, 17 Agustus 2021.

Tulisan ini sebelumnya tayang di eposdigi.com, kami tayangkan kembali dengan izin dari penulis / Foto-foto diambil dari laman facebook penulis.

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of