“Perhatikan Semua Hal, Abaikan Sebagian Besar, Benahi Sedikit”

EDU Talk
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com – Kurang lebih dua puluh tahun lalu, di kelas mata kuliah Kewirausahaan, di Fakultas Ekonomi, Universitas Sanata Dharma, sebuah momen yang menjadi titik pijak, yeng merubah banyak hal, hingga saat ini.

Dalam sebuah kesempatan, saya ingat betul, Venantius Mardi Widyadmono, dosen pengampuh mata kuliah, mengatakan bahwa kewirausahaan adalah persoalan peka melihat peluang.

Peluang usaha, apapun itu, senantiasa bertebaran. Yang paling penting adalah kepekaan untuk menemukannya. Kira-kira begitu.

Pak Mardi, demikian beliau kami sapa, mengingatkan kami untuk selalu membawa catatan kecil, siapa tahu dalam perjalanan atau sedang melakukan apapun, barangkali terlintas sesuatu, maka catatan itu bisa menjadi pengingat kemudian.

Catatan kecil ini, masih menjadi kebiasaan saya, hingga saat ini, walau dalam bentuk lain. Di kontak WA saya, ada group yang sengaja saya buat untuk mencatat apapun yang terlintas. Barangkali bukan ide bisnis. Namun saya tahu persis hal-hal itu layak diingat.

Baca Juga: Soal Pendidikan, Mengapa Harus Kontekstual?

Intinya membangun kepekaan untuk menangkap banyak gerak kehidupan. Hal-hal itu bertebaran di sekeliling kita. Menunggu untuk dipungut.

Hingga saat ini, apa yang disampaikan Pak Mardi, sungguh menjadi penyelamat. Beberapa ide tulisan untuk media ini, justru muncul dari hal-hal kecil, sederhana, yang sayang jika diabaikan, yang saya catat dalam catatan kecil itu.

Baru-baru ini, kami dihubungi oleh banyak mahasiswa dari salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta. Mereka minta bantuan untuk mempublikasikan lewat media ini, tulisan mereka. Konon salah satu dosen mereka mengharuskan link tulisan mereka di media sebagai komponen penilaian akhir semester.

Ketika berkomunikasi dengan mereka mengenai itu, saya selalu mengatakan bahwa format tulisan yang kami kehendaki sebagai kekhasan media ini adalah tulisan yang sedikitnya memiliki tiga komponen utama.

Ada identifikasi fakta,  lalu mempertanyakan dan menegaskan kenapa fakta-fakta tersebut menjadi masalah, kemudian mereka diminta untuk mencari alternatif-alternatif solusi atas masalah tersebut. Kami menyebut format tulisan itu dengan FMS.  Fakta, Masalah, Solusi.

Baca Juga: Komunitas Flores Timur Dari Berbagai Daerah Selenggarakan Diskusi Tentang Pendidikan Flores Timur

Ada yang bertanya, kenapa harus format itu? Saya bilang ke mereka bahwa format itu hanya alat untuk membantu kita lebih peka melihat apapun di sekeliling kita. Membantu kita mempertanyakan banyak fakta, yang bisa jadi fakta-fakta tersebut adalah masalah namun terabaikan.

Format FMS ini juga adalah alat untuk membantu kita berpikir solutif. Alih-alih berkutat pada masalah, alat ini membantu kita membiasakan diri untuk mencari alternatif-alternatif solusi. Jika menemukan masalah.

Barangkali FMS ini adalah penyebutan yang lebih sederhana dari dialektika Hegel. Tesis, Sintesis dan Antitesis.

Pun demikian halnya dengan Pendidikan Kontekstual. Para siswa diajak untuk selalu peka terhadap lingkungan sekitarnya. Mereka terbiasa mepertanyakan keadaan sekelilingnya, menemukan masalah-masalah, entah dalam kehidupan nyata atau lewat pemodelan untuk mencari solusi atas masalah yang ditemukan.

Siswa didampingi oleh guru untuk menyadari ada masalah dalam lingkungan sekitarnya, di rumah ataupun di sekolah, bersama teman-temannya terjun langsung untuk mengalami pengetahuan, bukan hanya dalam hafalan.

Baca Juga: Ada Lagi Gejala Covidiot Baru, Ini Lebih Berbahaya

Dalam bingkai pendidikan kontekstual, sangat penting untuk memastikan, proses membangun kepekaan untuk melihat, menemukan dan mengindentifikasi masalah yang terjadi disekitarnya. Lalu kemudian mendorong diri sekuat tenaga untuk menjadi bagian dari solusi atas masalah tersebut.

Dari Pak Mardi saya belajar bahwa ada banyak hal yang terjadi disekitar kita. Entah peluang bisnis atau apapun yang berguna. Hanya dengan mengasah kepekaan untuk melihat hal-hal itulah kita bisa mencari berbagai alternatif cara untuk menyelesaikannya.

Pun dari salah satu elemen belajar yang konstruktivistik dari Zahorik (file.upi.edu) bahwa pengetahuan baru bisa diperoleh dengan terlebih dahulu melihat dan mempelajari fakta secara keseluruhan, kemudian memperhatikan detailnya.

Kita memang tidak bisa menyelesaikan semua masalah sekaligus. Tapi sungguh bijak jika “ memperhatikan semua hal, namun abaikan sebagian besar, cukup benahi sedikit.”

Sebelumnya, tulisan ini telah terbit di Eposdigi.com. Diterbitkan di Depoedu.com atas izin penulis

Foto: kompas.com

0 0 votes
Article Rating
Sebarkan Artikel Ini:
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments