Menuju Pembelajaran Daring yang Lebih Bermakna dan Esensial

EDU Talk
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com – Hingga hari ini (30/3/2020), data perkembangan jumlah kasus positif covid-19 telah mencapai 1.414 kasus. Daerah dengan jumlah kasus terbanyak adalah DKI Jakarta, dengan jumlah 698 kasus.

Menyusul Jawa Barat dengan 180 kasus positif, Banten dengan jumlah kasus 128, sisanya menyebar di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan beberapa daerah lain.

Laju pertambahan jumlah kasus positif covid-19 ini kian menguatirkan sehingga hampir semua wilayah di Indonesia menerapkan pengalihan belajar dari sekolah ke rumah, melalui pembelajaran daring.

DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur sebagai daerah yang menerapkan pengalihan belajar lebih dahulu, telah mengeluarkan edaran untuk memperpanjang kebijakan pengalihan belajar dari sekolah ke rumah.

Baca Juga: Apa Isi Rekomendasi KPAI terkait Aduan Home Learning Yang Diterima Oleh KPAI?

Kota Tangerang, Kabupaten Tangerang, dan Kota Tangerang Selatan bahkan memperpanjang proses pengalihan belajar tersebut hingga tanggal 20 Mei 2020, di tengah berbagai catatan dari orang tua murid terkait pelaksanaan belajar daring dua minggu terakhir.

Seperti dilansir banyak media, ada 51 pengaduan yang diterima oleh KPAI terkait praktek belajar daring yang diselenggarakan oleh berbagai sekolah.

Ada masalah koordinasi antar guru dalam satu sekolah, dalam proses belajar daring yang diselenggarakan oleh sekolah. Masalah koordinasi ini akhirnya menyebabkan tumpang tindih tugas, yang pada akhirnya menyebabkan beratnya beban pembelajaran pada murid.

Di samping masalah koordinasi, muncul pula masalah lain, terkait kurang dipertimbangkannya psikologi belajar murid. Bentuknya misalnya berupa terlalu banyak tugas bagi murid dalam waktu yang terlalu sempit.

 Misalnya seorang guru meminta murid mengerjakan soal dari pk. 07.00 pagi hingga pk. 17.00. Jumlah soal yang dikerjakan mencapai 255 soal. Atau murid kelas III SD diberi beban belajar yang terlalu berat.

Baca Juga: Empat Manfaat Belajar E-Learning di Tengah Virus Korona

Problem lain yang lebih mendasar adalah belum munculnya kreativitas guru dalam perencanaan belajar daring, sehingga proses belajar yang terjadi di rumah benar-benar seperti yang terjadi di sekolah, saat murid mengalami pendampingan guru. Orientasi pembelajaran adalah menuntaskan capaian kurikulum.

Belum munculnya adaptasi, dengan mempertimbangkan murid di satu pihak, dan orang tua murid di pihak lain. Padahal proses belajar daring tersebut didampingi oleh orang tua yang kompetensi dan keahliannya bisa jadi berbeda dengan yang dimiliki oleh guru. Oleh karena itu, proses belajar daring pun membebani orang tua murid.

Surat Edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan

Situasi inilah yang membuat KPAI mengeluarkan rekomendasi yang terdiri dari 4 butir, seperti dilansir oleh Depoedu.com edisi 26 Maret 2020. Menyusul arahan dari Menteri Pendidikan, melalui surat  edaran nomor 4 tahun 2020, yang berisi antara lain :

  1. Belajar dari rumah melalui pembelajaran daring dilaksanakan untuk memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa, tanpa terbebani tuntutan menuntaskan seluruh target capaian kurikulum untuk kenaikan kelas ataupun kelulusan.
  2. Belajar dari rumah dapat difokuskan pada pendidikan kecakapan hidup, antara lain mengenai pandemic covid-19.
  3. Aktivitas dan tugas pembelajaran belajar dari rumah dapat bervariasi antar siswa, kesenjangan akses/fasilitas belajar di rumah.
  4. Bukti atau produk akativitas belajar dari rumah diberi umpan balik yang bersifat kualitatif dan berguna dari guru, tanpa diharuskan memberi skor/nilai kuantitatif.

Menuju Belajar yang Lebih Bermakna dan Esensial

Berikut ini beberapa topic dari beberapa bidang studi di luar topic pada kurikulum resmi, namun dengan sentuhan kreatifitas guru, proses belajar akan lebih bermakna dan esensial.

Baca Juga: Lima Strategi Pembelajaran selama Periode Learn from Home (LFH)

Tentu saja gagasan ini tidak menyangkut semua bidang studi dalam kurikulum resmi, karena keterbatasan kompetensi penulis. Cukup jika gagasan ini dilihat sebagai model yang diharapkan memicu guru bidang studi,  untuk mengembangkan topic, pada bidang studinya masing-masing.

Pelajaran Agama atau Karakter

Kemarin, secara kebetulan, saya membaca sebuah penugasan yang dikirimkan oleh seorang guru Agama kepada orang tua murid. Tugas yang diberikan berupa membaca buku pegangan bab tertentu, dan menjawab pertanyaan yang sudah ada pada buku tersebut.

Membaca penugasan tersebut, spontan muncul kesan bahwa penugasan tersebut terlalu konten. Padahal esensi yang didorong dalam Pelajaran Agama adalah pengembangan religiositas. Menurut saya, penugasan itu lebih mengembangkan pengetahuan dan bukan religiositas.

Saya spontan mengusulkan, mengapa tugasnya bukan berupa kewajiban untuk doa keluarga secara bersama-sama, di mana anak mendoakan agar Tuhan melindungi keluarga mereka dari virus corona.

Anak merumuskan doanya secara tertulis terlebih dahulu, kemudian mendoakannya pada saat makan bersama keluarga. Bisa juga dilakukan bersama keluarga pada kesempatan doa lainnya, atau didoakan pada dalam doa sebelum tidur dan setelah bangun tidur.

Model tugas lainnya adalah menugaskan anak untuk berbuat baik pada orang lain. Anak juga ditugaskan untuk mengingat perbuatan baik yang dialami dari orang lain. Murid mencatat perbuatan baiknya maupun perbuatan baik orang lain terhadapnya, dan melaporkan pada guru.

Laporan ini ditandatangani orang tua. Tugas ini baik untuk murid sebagai pribadi maupun bagi kehidupan bersama. Penugasan ini lebih esensial dan mengembangkan religiositas.

Bahasa Indonesia

Murid ditugaskan untuk menulis laporan tentang perkembangan  penyebaran kasus covid-19, baik dari segi jumlah orang yang terpapar virus corona, jumlah orang yang meninggal, dan jumlah yang sembuh. Juga dari segi wilayah penyebaran dan serba-serbi lain terkait kasus covid-19.

Baca Juga: Peluang bagi Dunia Pendidikan di Balik Krisis Covid-19

Tugas seperti ini tentu saja diberikan dengan mempertimbangkan usia perkembangan anak. Tentu saja tidak cocok untuk murid SD. Mungkin cocok untuk murid SMP dan SMA. Semakin tinggi level muridnya, semakin rumit cakupan penugasannya.

Masih Bahasa Indonesia, murid ditugaskan untuk menulis puisi tentang kepahlawanan petugas kesehatan. Atau menulis cerita pendek tentang tema yang sama.

Dapat juga, murid SMA ditugaskan untuk membaca karya sastra tentang wabah penyakit pada masa lalu, dan menarik pesan moral yang relevan dari karya sastra tersebut untuk situasi wabah  covid-19 saat ini.

Ilmu Pengetahuan Alam

Murid ditugaskan untuk menulis tentang tumbuhan rempah-rempah khas Indonesia yang berkhasiat meningkatkan imunitas tubuh. Baik dari jenis-jenisnya, spesiesnya, cara menanamnya, habitatnya, jenis dan warna daunnya, maupun khasiatnya. Dapat juga penulisan dilakukan tentang cara membuat ramuannya.

Atau untuk murid kelas lebih besar, dapat diberikan tugas untuk mempelajari tentang virus corona, asal usulnya, cara penyebarannya, cara-cara untuk menghentikan penyebarannya, serta cara agar tidak tertular virus corona. Mengenali gejala-gejala jika terpapar virus corona, dan tindakan yang tepat jika terpapar virus corona.

Ilmu Pengetahuan Sosial/Ekonomi

Murid ditugaskan untuk mencari tahu mengapa kasus covid-19 tersebar dari kota-kota besar? Untuk situasi Indonesia, mengapa jumlah kasus positif di Jakarta dan sekitarnya lebih tinggi daripada di daerah lain yang jauh dari Jakarta?

Baca Juga: Ada yang Terlewatkan dari Isi Surat Pemberitahuan Libur Sekolah, Apa Itu?

Atau murid ditugaskan untuk mencari tahu, kaitan antara covid-19 dengan kemerosotan nilai tukar rupiah. Mengapa wabah covid-19 dapat menyebabkan menurunnya nilai tukar rupiah?

Gagasan-gagasan di atas tentu saja sekedar contoh, untuk merangsang guru bidang studi  mengembangkan proses belajar daring, pada bidang studinya. Menurut hemat kami, pembelajaran akan lebih menantang jika tema-tema yang dipelajari adalah tema-tema yang aktual dan kontekstual.

Di samping itu, lebih mendorong rasa ingin tahu para murid, sehingga lebih menyenangkan dan bermakna bagi murid untuk kehidupan mereka lebih lanjut. Tentu saja disain pembelajarannya harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan intelektual para murid.

Ke depan, pembelajaran harus lebih kontekstual seperti di atas. Guru tidak lagi takut keluar dari konten kurikulum, karena tidak ada lagi Ujian Nasional.

Guru ditantang ke arah pembelajaran yang esensial, lebih merangsang rasa ingin tahu, lebih mengembangkan kreativitas, dan lebih menyiapkan murid untuk menyongsong masa depan.

Anggap saja masa-masa peralihan belajar dari sekolah ke rumah melalui pembelajaran daring ini, merupakan masa transisi dunia pendidikan untuk menyiapkan proses belajar mengajar bagi sekolah, pada era sekolah tanpa Ujian Nasional, mulai tahun ajaran 2020/2021. (Foto: kompasiana.com)

Sebarkan Artikel Ini:

8
Leave a Reply

avatar
8 Discussion threads
0 Thread replies
0 Pengikut
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
0 Comment authors
Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
trackback

[…] Baca Juga: Menuju Pembelajaran Daring yang Lebih Bermakna dan Esensial […]

trackback

[…] Baca Juga: Menuju Pembelajaran Daring yang Lebih Bermakna dan Esensial […]

trackback

[…] Baca Juga : Menuju Pembelajaran Daring yang Lebih Bermakna dan Esensial […]

trackback

[…] Baca Juga: Menuju Pembelajaran Daring yang Lebih Bermakna dan Esensial […]

trackback

[…] Baca Juga: Menuju Pembelajaran Daring yang Lebih Bermakna dan Esensial […]

trackback

[…] Baca Juga : Menuju Pembelajaran Daring Yang Lebih Bermakna Dan Esensial […]

trackback

[…] Baca Juga : Menuju Pembelajaran Daring Yang Lebih Bermakna Dan Esensial […]

trackback

[…] Baca Juga : Tiga Model Sinergi Orang Tua Dan Guru, Dalam Pembelajaran Daring […]