Blended Learning dalam Masa Pembelajaran Jarak Jauh

EDU Talk
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com – Minggu 25 Oktober 2020, telah berlangsung webinar dengan tema “Sosialisasi SPMI dalam Pembelajaran PJJ melalui Blended Learning”. Webinar tersebut diselenggarakan oleh MKKS Jakarta Pusat I dan diikuti oleh para kepala sekolah dan guru-guru.

Masing-masing sekolah diberi kuota 15 orang untuk bisa mengikuti webinar dan terkonfirmasi peserta yang hadir sekitar 500-an lebih.

Bapak Slamet selaku Kasudin Pendidikan Wilayah I Jakarta Pusat yang membuka kegiatan tersebut, memberikan pengantar bahwa “Ke depannya mungkin akan diterapkan proses belajar yang terintegrasi”.

Artinya, seluruh peserta didik SMP akan mengikuti proses pembelajaran online dalam waktu dan hari yang sama. Oleh karena itu, kemungkinan besar tenaga pendidik akan dikurangi.

Baca Juga : Butir-Butir Evaluatif Seputar Masalah Pembelajaran Daring

Sehingga para pendidik yang tidak memiliki kreativitas dan inovasi dalam proses pembelajaran, kemungkinan besar akan dimutasi atau tidak akan memiliki kesempatan untuk mengajar lagi.

Narasumber Dr. Didang Setiawan, M.Pd. mengungkapkan bahwa ada dua aktivitas blended learning yang bisa diterapkan untuk menumbuhkan kreativitas dan inovasi, yakni aktivitas pembelajaran sinkronous dan aktivitas pembelajaran asinkronous.

Aktivitas pembelajaran sinkronous terdiri dari ruang belajar tatap muka dan ruang belajar tatap maya. Ruang belajar tatap muka untuk saat ini belum bisa digunakan, sedangkan ruang belajar tatap maya merupakan virtual synchronous learning.

Baca Juga : Tiga Model Sinergi Orang Tua Dan Guru, Dalam Pembelajaran Daring

Virtual synchronous learning, antara guru dan siswa yang terjadi pada waktu yang bersamaan, akan tetapi tempat berbeda secara daring (online). Tentu hal ini tidak asing bagi para pendidik dan peserta didik dalam masa PJJ.

Aktivitas pembelajaran asinkronous terdiri atas ruang belajar mandiri atau self-directed asynchronous learning dan ruang belajar kolaboratif atau collaborative asynchronous learning.

Ruang belajar mandiri atau self-directed asynchronous learning bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja sesuai dengan kondisi dan kecepatan belajar masing-masing  peserta didik. Sedangkan  ruang belajar kolaboratif atau collaborative asynchronous learning bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja bersama guru.

Baca Juga : Kiprah Ruang Guru Dalam Peta Pendidikan Indonesia

Guru bisa menerapkan self-directed asynchronous learning pada peserta didik yang tidak memiliki kendala dalam proses belajar atau katakanlah cepat menangkap materi yang diberikan. Peserta didik diberikan ruang untuk belajar secara mandiri akan tetapi tidak lepas dari materi yang ada pada RPP.

Lalu kapan collaborative asynchronous learning diberlakukan? Collaborative asynchronous learning bisa diterapkan kepada peserta didik yang mengalami hambatan dalam proses menangkap materi pembelajaran. Mereka akan dikumpulkan secara virtual dan diberikan pendekatan secara khusus.

Guru akan melakukan pendekatan secara pribadi, berkomunikasi untuk menggali hambatan yang dialami oleh para siswa. Setelah mengetahui hambatan, kemudian guru akan memberikan pengajaran kepada mereka.

Baca Juga : Menuju Pembelajaran Daring Yang Lebih Bermakna Dan Esensial

Jika permasalahan yang dialami oleh peserta didik sangatlah kompleks, maka guru mata pelajaran bisa merujuk siswa yang bersangkutan kepada guru BK untuk dapat ditindaklanjuti.

Adanya aktivitas pembelajaran collaborative asynchronous learning ditujukan agar peserta didik tidak ketinggalan dan benar-benar diperhatikan secara pribadi, sehingga tetap menjunjung tinggi cura personalis; penghargaan yang mendalam bagi setiap pribadi dengan mengakui keunikan dan keagungan martabatnya.

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of