Webinar Parenting SMA Bunda Hati Kudus, Grogol; Menjadi Sahabat bagi Anakku

Info Sekolah
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com – “Menjadi Sahabat bagi Anakku”. Tema inilah yang diambil dalam webinar parenting yang diselenggarakan SMA Bunda Hati Kudus, Grogol, Jakarta Barat pada Sabtu (12/12/2020). Webinar ini menjadi pembuka rangkaian kegiatan menyambut pesta emas SMA Bunda Hati Kudus Jakarta pada bulan Januari mendatang.

Sebanyak 270 peserta tampak antusias mengikuti webinar ini. Renita, konselor SMA BHK sebagai moderator mengawali bahwa parenting memiliki tiga unsur penting, yaitu: pengetahuan, keterampilan, dan seni. Orang tua perlu memiliki pengetahuan tentang tahap perkembangan manusia.

Pengetahuan menjadi dasar orang tua mempraktikkan teknik-teknik pendampingan. Penerapan teknik pendampingan akan berbeda antara satu anak dengan anak yang lain. Dibutuhkan seni tersendiri tiap anak atau tiap keluarga.

Baca Juga : Live In, Sebuah Momentum Perjumpaan (Refleksi Live In Di Desa Sumber-Muntilan)

Webinar parenting ini menghadirkan tiga narasumber hebat di bidangnya. Salah satunya Hanlie Muliani, seorang psikolog anak, remaja, dan pendidikan. Beliau memberikan landasan teori dalam parenting kepada para peserta. Remaja memiliki periode perkembangan yang dikenal dengan storm periode (periode galau).

Disebut periode galau karena ada banyak perubahan secara fisik, sosial, dan emosi. Di sisi lain juga menjadi fase pencarian diri untuk bisa dianggap “saya bisa, saya bernilai, dan saya diterima.

Kondisi ini memunculkan ketegangan dalam diri remaja yang kadang berimbas pada hubungan dengan orang tua. Pengetahuan tentang berbagai perubahan ini perlu diketahui orang tua sehingga pendampingan menjadi lebih tepat.

Baca Juga : Bermasker Dan Normalitas Baru

Pertama, perubahan yang terjadi adalah perubahan signifikan pada otak. Bagian otak yang mengatur pengambilan keputusan, bertanggung jawab, perencanaan, mengetahui konsekuensi, problem solving, dan pengendalian impuls, berkembang cukup cepat.

Perubahan ini pada sebagian remaja memunculkan pemikiran kritis. Remaja terkesan keras kepala, menantang, tidak mau diatur atau ragu-ragu.

Kedua, perubahan emosi yang cepat tetapi belum disertai pengendalian diri. Kepekaan terhadap orang lain kurang, cuek sehingga salah membaca perasaan orang lain.

Ketiga, perubahan sosial, lebih nyaman bersama teman sebayanya, keinginan untuk diterima dalam grup menjadi tinggi sehingga terlihat tidak mau dianggap berbeda.

Baca Juga : Merayakan Hari Anak Nasional, Disaat Masih Banyak Anak Dibunuh Orang Tua Kandungnya

Orang tua juga perlu tahu penyebab stress pada remaja, seperti: tekanan akademik, status sosial, percintaan, perubahan fisik, persaingan sebaya, perundungan, perubahan rutinitas, tanggung jawab, dan pilihan karier. Selama ini ada anggapan orang tua bahwa anak memiliki tingkat strees lebih rendah sehingga deteksi dan penanganan lebih longgar.

Hanlie menggarisbawahi ada perbedaan dalam proses pendampingan orang tua terhadap usia anak SD dan usia remaja (SMP/SMA). Hanlie menganalogikan proses pendampingan tersebut seperti arah jarum jam. Proses pendampingan anak di usia remaja digambarkan dengan jarum jam yang menunjuk ke angka 9 dan 3.

Artinya, proses pendampingan tersebut menempatkan remaja seimbang dengan orang tuanya. Oleh karena itu, Hanlie menekankan bahwa ada tiga peran utama yang harus dilakukan orang tua, yaitu: sebagai orang tua, sebagai teman bagi anak, serta sebagai mentor bagi anak.

Baca Juga : Menjaga Keharmonisan Keluarga

Ketiga peran ini harus berjalan berdampingan agar orang tua mampu benar-benar menjadi sahabat bagi anaknya.

C. Wisry Sanrow, narasumber sekaligus alumnus SMA BHK membagikan pengalaman mendampingi ketiga putra-putrinya. Beliau memberikan tips bagaimana membangun intensitas komunikasi antara orang tua dan remaja yang baik. Anak perlu dilibatkan dalam diskusi tentang masalah-masalah keluarga.

Keterlibatan ini bisa mendorong munculnya pola pikir kritis, keterbukaan terhadap pendapat anggota keluarga lain, dan mendorong kemampuan membuat solusi. Menentukan tempat berekreasi atau beraktivitas bersama, akan membuat anak merasa nyaman dan dekat dengan keluarga.

Sementara itu, Dian Nitami, seorang figur publik dengan lima orang anak juga menceritakan bagaimana mendampingi anak-anaknya dengan karakteristik yang berbeda-beda. Salah satu hal yang dibahas Dian Nitami berkaitan dengan bagaimana menemukan bakat dan minat yang dimiliki oleh anak-anaknya.

Baca Juga : Pentingnya Komunikasi Dalam Keluarga

Dian Nitami dalam hal ini menekankan bagaimana orang tua dapat menurunkan egonya dalam melakukan pendampingan terhadap anak remaja. Hal ini bisa dilihat dari bagaimana Dian Nitami bersama Anjasmara (suaminya) selalu menghargai pilihan hidup yang akan ditempuh anak-anaknya.

Pembahasan tema parenting semakin tajam dengan banyaknya pertanyaan. Menjadi sahabat bagi anak remaja membutuhkan beberapa kesiapan bagi orang tua seperti:

  1. Kemauan orang tua mengenali karakter, mengetahui kesibukan, pilihan kegiatan dan pola pertemanan masing-masing anak, serta mencari tahu kemungkinan pola pendampingan yang tepat;
  2. Memiliki kerendahan hati untuk bisa masuk pada pola pikir dan komunikasi yang satu frekuensi dengan gelombang remaja;
  3. Dating time, yakni kemauan meluangkan waktu membangun kegiatan bersama;
  4. Mencari pola komunikasi yang solid;
  5. Memberi ruang anak untuk mengekspresikan pikiran, ide, dan dirinya, serta membantu mereka untuk memilah mana yang bisa dilakukan atau tidak;
  6. Mau meninggalkan segala predikat profesi yang melekat pada dirinya dan bersikap sebagai dirinya sebagai orang tua.

Dengan demikian, agar anak bisa mandiri, anak perlu merasa terhubung dengan orang tua. Anak merasa diterima, bernilai, dan bisa. Ketika anak merasakan kenyamanan dalam relasi dengan orang tua, fungsi koreksi dari orang tua akan bisa dilakukan dengan baik.

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of