Bermasker dan Normalitas Baru

EDU Talk
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com: Awal kuliah di Yogyakarta, saya merasa terganggu dengan penampilan seorang teman yang selalu memakai masker. Dalam sebuah kesempatan diskusi di ruangan kuliah, saya dengan spontan meminta dia untuk melepaskan masker agar suaranya jelas terdengar.

Baca juga: Formal Setengah Normal

Tetapi dia tidak mengindahkan permintaan saya dengan alasan kondisi ruangan sangat dingin dan berisiko terhadap kesehatannya. Saya pun mengamini itu. Dalam proses selanjutnya, ternyata bukan hanya saya yang pernah menegur dia untuk tidak menggunakan masker terutama pada saat perkuliahan.

Seorang dosen dengan keras meminta dia untuk mencopotkan masker dari mulutnya. Dugaan saya yang pada awalnya mungkin teman ini bermasalah dengan bagian tubuh yang ditutupi masker, nyatanya tidak ada. Toh cantiknya semakin kelihatan ketika ia tidak memakai masker.

Meski demikian, saya berusaha mencari kesempatan khusus utamanya saat berdua untuk menanyakan alasan kenapa dia selalu memakai masker. Tibalah waktunya saya menemui beliau dan mengutarakan pertanyaan.

“Sebenarnya kebiasaan memakai masker ini sudah berlangsung lama dalam tradisi keluarga kami. Rumah kami kebetulan dekat dengan kawasan pabrik. Terpaksa harus memakai masker untuk alasan kesehatan”, jelasnya.

“Selain itu, saya pribadi juga sangat sensitif dengan ruangan yang ber-AC, makanya saya selalu memakai masker ketika kuliah,” lanjut teman tersebut.

Baca juga: Rumah Rasa Sekolah Di Masa Yang Tidak Normal

Dari situ saya mulai paham dan perlahan tidak menganggapnya sebagai teman yang tidak normal.

Sebagai anak kampung yang jauh dari pemandangan seperti pengalaman di atas, saya melihat ada suatu keanehan. Tentu saja ini sangatlah wajar.

Sewaktu di kampung, saya pernah melihat orang memakai masker itu pun dilakukan oleh tukang ojek, tetapi hanya satu dua orang saja. Dan kalau mereka memakai masker biasanya untuk perjalanan yang jauh. Itu pun kalau mereka ingat dan sadar.

Tetapi kalau tidak, ya tanpa bermasker pun perjalanan tetap saja normal. Namun satu hal yang selalu saya temukan jawaban orang memakai masker yaitu untuk alasan kesehatan.

Lain dulu, lain sekarang. Semenjak bangsa ini dihantui oleh pandemi covid-19, bermasker menjadi suatu kewajiban. Bahkan orang yang tidak bermasker akan diberikan sanksi seperti membersihkan sampah di sungai, push-up dan sanksi lainnya.

Pada beberapa fasilitas publik, terpampang jelas tulisan seperti kawasan wajib memakai masker. Petugas-petugas keamanan di mall atau tempat publik lainnya selalu mengecek para tamu.

Bagi siapa yang tidak memakai masker, tidak diperkenankan untuk masuk ke dalam ruangan. Bahkan ketika keluar dari rumah dan kita lupah memakai masker, ada hal yang aneh dan membuat diri kita bersalah dan (mungkin) diasingkan oleh orang lain.

Baca Juga: Normalkah Jika Anak Anda Mempunyai Imaginary Friend?

Pada intinya bermasker itu menjadi sebuah kewajiban, sama seperti halnya ketika berkendara (motor), wajib untuk memakai helm.

Pengalaman saya yang pernah melarang teman untuk memakai masker pada sebuah acara diskusi, kini dianggap sebagai hal yang normal pada situasi sekarang ini. Lalu pertanyaan besarnya adalah: mengapa orang harus memakai masker?

Jika dianalisa secara mendalam, sebenarnya kesadaran seseorang untuk memakai masker terutama dalam situasi pandemi seperti ini adalah sebagai bentuk reaktif sekaligus pertanggung jawaban sosial kepada sesama.

Di samping itu juga sebagai bentuk melawan ketakutan karena akan mendapatkan sanksi jika tidak memakai masker. Bermasker merupakan suatu sikap reaktif manusia ketika ada sebuah bencana yang datang menyerang dalam hal ini adalah pandemi covid-19.

Seseorang wajib memakai masker untuk mengantisipasi penyebaran virus corona. Sementara sebagai bentuk tanggung jawab sosial, bermasker yang sudah menjadi warning umum, harus dilaksanakan secara serius.

Bermasker sebagai normalitas baru dalam kondisi sekarang ini hendaknya dipandang sebagai perilaku yang bertanggung jawab. Artinya anggapan bermasker untuk tujuan supaya terhindar dari sanksi hukum dan sanksi sosial bukan menjadi alasan utama.

Baca juga: Pendidikan Politik Dan Cara Pandang Baru Gaya Jokowi

Hal yang jauh lebih penting adalah bermasker sebagai kewajiban supaya tidak tertular oleh virus corona. Memakai masker secara benar merupakan bagian penting dari upaya mendukung pemutusan mata rantai penyebaran covid-19. Mari bermasker sebagai bagian dari normalitas baru.

Penulis adalah Alumni Program Study Sosiologi Universitas Atma Jaya Yogyakarta

foto: Jatimtimes.com

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of