Kejengahan Literasi Sekolah

EDU Talk
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com – Pemerintah Jerman, mulai 1 Januari 2018, menerapkan Undang-Undang Anti Ujaran Kebencian di media sosial (Network Enforcement Act atau NetzDG). Peraturan ini mewajibkan perusahaan-perusahaan media sosial (Twitter, Instagram, Facebook, Snapchat, Google, YouTube) untuk menghapus unggahan yang bersifat ofensif.

Orang dan perusahaan yang memublikasikan konten ujaran kebencian, ancaman kekerasan, dan fitnah dapat dipidanakan dan didenda 50 juta euro (sekitar 800 milyar rupiah). Pidana ini berlaku jika perusahaan media sosial tidak menghapus konten tersebut dalam waktu 24 jam setelah keluhan diajukan.

Saat ini facebook pun menempatkan hampir dua ribu pegawainya untuk mengecek konten-konten yang dipampang di dinding laman mereka.

Baca Juga : Bagaimana Kabar Keberhasilan Gerakan Literasi Di Sekolah Kita?

Negara kita sebenarnya telah lebih dulu tanggap terhadap fenomena sosial yang datang secara tiba-tiba dan dipicu oleh illiterate ini. Pada 2008, telah diterbitkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008  tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Pasal 28 (2) merupakan dalil yang sering digunakan dalam kasus-kasus penyebaran kebencian berbasis SARA.

Peraturan ini pun makin ditegaskan dalam Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang perubahan UU ITE. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memberi respon dengan meluncurkan Gerakan Literasi Sekolah “Bahasa Penumbuh Budi Pekerti” berdasarkan Permendikbud Nomor 21 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti. Gerakan ini bertujuan membiasakan dan memotivasi siswa untuk mau membaca dan menulis guna menumbuhkan budi pekerti.

Formalitas

Gerakan literasi sekolah yang sudah dicanangkan ternyata masih dilakukan secara “malu-malu” dan bahkan memunculkan permasalahan. Banyak sekolah cenderung menempatkan literasi sebagai kegiatan ala kadarnya. Siswa sekadar rutin membaca buku selama 10-20 menit di pagi hari sebelum pembelajaran dimulai.

Buku “gado-gado” yang dibaca pun tidak sampai tuntas. Dua hari ini membaca sepuluh halaman buku Malin Kundang, hari berikutnya empat halaman komik Doraemon, hari selanjutnya buku Kiat Sukses Bisnis Online, dan seterusnya. Kegiatan ini diulang-ulang setiap hari tanpa ada pemaknaan.

Literasi tidak hanya membaca, tapi sampai pada habituasi menulis. Siswa akan lebih mudah memaknai suatu fenomena melalui tulisan. Ada dua aktivitas menulis yang bisa dilakukan siswa. Pertama, memberi catatan bermakna pada paragraf di lembar buku yang dibaca.

Baca Juga : Apa Saja, Tiga Agenda Penting Untuk Pengembangan Otak?

Makna yang ditulis bukan sekadar memberi definisi terhadap kata-kata asing. Bukan pula menulis ringkasan suatu paragraf. Memberi makna yang dimaksud berbentuk amplified marginalia, yaitu menegaskan makna paragraf yang dikaitkan dengan realitas fenomena lingkungan atau konteks sosial yang dialami pembaca.

Dengan cara ini tidak akan ditemukan lagi halaman buku literasi yang bersih dari coretan atau catatan bermakna. Siswa tidak hanya memaknai pada tataran “apa”, tapi “mengapa”. Kedua, merangkum catatan bermakna tersebut. Catatan bermakna di lembar halaman buku masih terpisah dan terserak.

Ketika siswa telah menyelesaikan buku literasinya, guru bisa mengajak para siswa untuk menuliskan kembali catatan-catatan kecil tersebut dalam satu kesatuan. Sekolah bisa menerbitkan buku berisi tulisan terpilih para siswa sebagai bentuk apresiasi. Harapannya buku-buku tersebut dapat menginspirasi orang lain.

Membaca Media Massa

Para siswa merupakan Generasi Z yang lahir dalam jagad internet. Mereka disebut pula generasi Post-Milennials, The iGeneration, Founders, Plurals, dan The Homeland Generation. Internet telah mengubah wajah dunia. Era 4G menyebabkan perubahan perilaku sosial karena hilangnya sekat-sekat dunia akibat revolusi teknologi informasi dan komunikasi.

Pluralitas makin tampak karena dunia dalam genggaman siswa. Dalam situasi seperti ini, siswa perlu dilatih mengamati, memahami, dan menganalisis situasi sosial di masyarakat majemuk. Siswa diharapkan mampu membangun relasi sosial yang baik dengan mencipta era digital humanis.

Media massa, baik cetak maupun digital, seringkali dilupakan dalam literasi sekolah. Lembaran koran hanya terpampang di papan koran dan masih saja sepi pembaca. Berita di media massa selalu menunjukkan realitas pluraritas dan dinamika sosial. Hal inilah yang tidak dimiliki naskah buku yang memang telah memiliki keajegan tema khusus.

Baca Juga : Menumbuhkan Sikap Empati Lewat Gerakan Literasi

Siswa dapat dikenalkan dengan beragam situasi sosial kekinian melalui kegiatan membaca berita di media massa. Media massa juga lebih terjangkau daripada buku, sehingga tidak ada alasan bagi sekolah untuk tidak melakukan kegiatan literasi. Tidak ada lagi alasan literasi berbiaya mahal karena harus menghadirkan beragam buku.

Akhirnya, literasi bukan sekadar membaca, tapi memaknainya melalui tulisan sehingga siswa terhindar dari defisit empati. Semoga!

Penulis adalah Guru SMA Kolese De Britto Yogyakarta

Foto : tintapendidikanindonesia.com

0 0 votes
Article Rating
Sebarkan Artikel Ini:
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments