Makna Perayaan Natal di tengah Pandemi Virus Korona

Family Talk
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com – Natal berasal dari bahasa Portugis yang berarti kelahiran. Karena itu, Natal adalah hari raya umat Kristen yang diperingati setiap tahun pada 25 Desember untuk memperingati hari kelahiran Yesus Kristus.

Kata Natal berasal dari ungkapan bahasa Latin Dies Natalis (Hari Lahir). Dalam Bahasa Inggris perayaan Natal disebut Christmas, dari istilah Inggris kuno Cristes Maesse (1038) atau Cristes-messe (1131), yang berarti Misa Kristus.

Perayaan pada 25 Desember dimulai pada tahun 221 oleh Sextus Julius Africanus, dan baru diterima secara luas pada abad ke-5. Ada berbagai perayaan keagamaan dalam masyarakat non-Kristen pada bulan Desember.

Dewasa ini diterima bahwa perayaan Natal pada 25 Desember adalah penerimaan ke dalam gereja tradisi perayaan non-Kristen terhadap Dewa Matahari, Solar Invicti (Surya yang tak terkalahkan), dengan menegaskan bahwa Yesus Kristus adalah Sang Surya Agung itu sesuai berita Alkitab (Maleakhi 4:2; Lukas 1:78; Kidung Agung 6:10).

Baca Juga : Memaknai Perayaan Natal Dan Historinya

Natal tahun ini mungkin agak berbeda karena umat kristiani tak bisa berkumpul bersama-sama menyanyikan lagu-lagu natal berpelukan dan memaaf-maafkan  setelah itu menikmati kue natal sambil mendegar dentuman bunyi petasan.

Natal  di tengah pandemi justru menjadi momentum bagi umat Kristen  untuk menunjukkan kepedulian kepada sesama. Tumbuh kesadaran dalam diri untuk patuh dan taat aturan karena kita butuh untuk saling menjaga agar tidak tertular atau menularkan virus.

Setiap pribadi yang merayakan Natal harus benar-benar menjadi pribadi yang bersih (suci) dan saleh. Kuat iman dan kepribadiannya, bersih hati dan pikirannya, halus budi pekertinya, serta tumbuh kepeduliannya kepada sesama terutama pada mereka yang menderita .

Lebih jauh Natal di tengah pandemi harus bermuara pada kesederhanaan.   Kesederhanaan  mengandung sejuta makna. Tidak cukup bila kita hanya terkesan dan mengagumi-Nya, tapi kita harus memetik pelajaran dari kesederhaan-Nya dan mengalami-Nya.

Susurilah jalan kesederhanaan-Nya. Perayaan Natal hendaknya tidak menjadi ajang untuk menampilkan hal-hal duniawi. Rasa takut kepada-Nya jangan disingkirkan oleh rasa takut karena ketiadaan materi. Kesulitan-kesulitan mudah diatasi jika mampu hidup sederhana.

Alangkah indahnya jika kita kembali merayakan Natal pada tahun ini seperti Natal pertama di Betlehem, yang sederhana (tidak tinggi hati). Bila kita mampu melakukannya, kita bisa merasakan kehadiran sang bayi Natal dalam kehidupan kita.

Perayaan natal juga menggugah empati kita terhadap sesama yang hidup dalam kekurangan, yang ditimpa bencana, yang sedang dirundung kesedihan; dan melahirkan kesetiakawanan kita terhadap sesama yang tidak bisa menghayati makna Natal karena berbagai situasi.

Walaupun Natal adalah sukacita, tetapi Natal bukanlah kemewahan. Anak Allah yang kudus lahir bukan di ibu kota Israel, Yerusalem, tetapi di kota kecil Betlehem (Lukas 2:4-6).

Baca Juga : Refleksi Menjelang Natal : Menjadi Manusia Baru

Dia juga tidak lahir di istana, tetapi di kandang domba (Lukas 2:7). Kelahiran-Nya diberitakan bukan kepada raja, nabi, atau orang besar, tetapi kepada para gembala domba yang sederhana (Lukas 2:8-12). Kita patut merayakan Natal secara sederhana karena peristiwa Natal yang pertama adalah sederhana.

Hari Natal  sungguh merupakan hari penuh rahmat, hari penuh kegembiraan, hari untuk kita bersyukur, sebab pengharapan para Nabi, penyelamat manusia, pembawa damai sejahtera, raja keadilan dan kebenaran telah hadir di dunia dalam diri seorang anak kecil yaitu Yesus .

Untuk itu, pada moment Natal di tengah Pandemi ini kita diajak menggabungkan diri dengan segenap umat Kristiani di seluruh dunia untuk merayakan pesta kepenuhan Janji-janji Allah ini, menyerahkan diri penuh harapan pada sang bayi dan seperti para gembala kita mau menyembah dia Sang Juruselamat, Emanuel Allah yang menyertai kita.

Hari ini di depan bayi Kristus kita perlu bertanya dalam diri kita masing-masing, apakah kedamaian dan keadilan terwujud di dalam diri kita, di dalam keluarga dan dalam pekerjaan kita di tengah-tengah masyarakat. Natal harus membebaskan dan mendamaikan.

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of