Bagaimana Kabar Keberhasilan Gerakan Literasi di Sekolah Kita?

EDU Talk
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com – Salah satu indikator yang dapat dijadikan acuan untuk menyimpulkan bahwa upaya pendidikan terutama secara formal tidak berhasil mencapai tujuan adalah buruknya kemampuan literasi murid kita.

Kondisi tersebut tampak dari berbagai data, misalnya seperti disampaikan oleh pelaksana tugas Kepala Badan Penelitian Pengembangan dan Perbukuan Kemendikbud, Totok Suprayitno bahwa indeks aktivitas literasi membaca di Indonesia baru berada pada angka 37,2

Menurut Totok, angka 37,2 masih tergolong rendah, di mana rentang angka indeksnya adalah 20,1-40. Rentang ini berada jauh di bawah kategori level sedang, yakni pada angka 40,1-60.

Tidak hanya capaian angka indeksnya, Kepala Badan Perbukuan ini pun menguatirkan ketidak-konsistenan antara kebijakan dan perkembangan kemampuan membaca murid.

Padahal pada satu dekade sebelumnya dalam pemerintahan presiden Susilo Bambang Yudoyono, baru diberlakukan wajib belajar 9 tahun. Dan mulai tahun 2016, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mendorong gerakan literasi mulai dari prasekolah, sekolah dasar hingga sekolah menengah.

Baca Juga : Apa Saja, Tiga Agenda Penting Untuk Pengembangan Otak?

Data lainnya juga menggambarkan kondisi kemampuan literasi yang kurang lebih sama. Hasil tes PISA tahun 2018 misalnya, menunjukkan bahwa 70% murid di Indonesia memilliki kemampuan membaca rendah, di bawah level 2 dalam skala PISA.

Ini artinya para murid bahkan tidak mampu sekedar menemukan gagasan utama maupun informasi penting di dalam satu teks pendek.

Data yang ditampilkan oleh The Conversation dalam edisi 11 September 2020 memperlihatkan tidak hanya buruknya kondisi kemampuan membaca, tetapi juga buruknya kondisi minat baca para murid.

Pada tahun 2018, sebuah survey dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa prosentase penduduk di atas usia 10 tahun yang membaca surat kabar atau majalah hanya 14,92%, membaca buku cerita hanya 13%, dan buku pengetahuan umum hanya 2%.

Angka ini bahkan lebih rendah dari prosentase 15 tahun sebelumnya yakni 23,70%, untuk koran dan majalah; membaca buku cerita 24,12%; dan membaca buku pengetahuan umum sebesar 12,5%. Ini menunjukkan bahwa selama hampir 15 tahun pemerintah telah mendorong berbagai kebijakan nasional untuk mengatasi krisis literasi ini, namun tanpa hasil.

Mengapa tidak berhasil?

Kurang lebih ada 4 hal yang menjadi penyebab yang paling signifikan. Dengan demikian memberikan perhatian pada empat hal berikut akan menjadi jalan keluar bagi capaian efektivitas gerakan literasi tersebut. Berikut ini uraiannya.

  1. Mendorong kemampuan membaca tanpa upaya menumbuhkan minat baca terlebih dahulu.

Harusnya sebelum memasuki sekolah, minat baca sudah ditumbuhkan oleh orang tua. Yang terjadi di Indonesia, sekolah mendorong anak membaca, namun minat membaca belum ditumbuhkan. Harusnya, menumbuhkan minat membaca menjadi tanggung jawab orang tua, sebelum anak memasuki sekolah.

Baca Juga : Guru Di Garda Depan GLS

Caranya, orang tua membacakan buku cerita pada anak, misalnya menjelang anak tidur. Ketika anak telah meminati aktivitas membaca, mendorong kemampuan membaca akan menjadi sangat efektif.

  1. Desain gerakan literasi hanya terkait murid

Harusya desain gerakan literasi tidak hanya menyangkut murid melainkan juga guru. Karena banyak guru tidak suka membaca, ini gerakan menjadi hambatan tersendiri bagi gerakan literasi. Oleh karena itu, harusnya ada desain gerakan untuk murid, dan ada desain gerakan untuk guru. Dengan demikian, semua guru terlibat dalam gerakan tersebut dan gerakan literasi akan menjadi lebih efektif.

  1. Pengajaran tidak mengkondisi murid membaca

Pengajaran harusnya mengkondisi murid untuk membaca dalam rangka memahami sebuah topik. Ini tidak terjadi ketika proses transfer pengetahuan terlalu dominan dalam pengajaran di sekolah. Di mana guru yang mendominasi pengajaran dengan metode seperti ceramah.

Baca Juga : Menumbuhkan Sikap Empati Lewat Gerakan Literasi

Pengajaran seperti ini membuat gerakan literasi menjadi gerakan yang terpisah dari pengajaran. Murid tidak mengalami relevansi membaca dan kegiatan pengajaran di sekolah. Membaca bagi murid menjadi kegiatan tambahan yang membebani.

  1. Tidak tersedia infrastruktur pengembangan literasi yang memadai

Untuk mendukung gerakan literasi, tidak tersedia perpustakaan secara memadai dengan koleksi buku yang bermutu. Di Indonesia, seperti dilansir pada laman The Conversation, kebutuhan akan perpustakaan umum baru terpenuhi sebesar 20% dengan jumlah koleksi buku yang sangat terbatas.

Di samping itu, belum semua sekolah memiliki perpustakaan sekolah yang memadai. Baru 42% sekolah memiliki perpustakaan. Itupun dengan jumlah koleksi buku yang terbatas.

Jika empat hal ini diperbaiki, pengembangan kemampuan literasi dapat berlangsung secara efektif. Jika kemampuan literasi murid dapat berkembang, maka proses pendidikan dan pengajaran dapat berlangsung secara efektif pula. Mengapa demikian? Karena hanya dengan membaca, sebagai salah satu elemen inti, proses belajar mengajar dapat terwujud secara esensial.

Foto : silabus.web.id

Sebarkan Artikel Ini:

1
Leave a Reply

avatar
1 Discussion threads
0 Thread replies
0 Pengikut
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
1 Comment authors
Edih Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
Edih
Guest
Edih

Sangat setuju sekolah kembali dibuka dgn sistem50% pagi siang…dgn tetap menerapkan protokol kesehatan….sy pasti ijinkan anak sy tuk masuk sekolah…karena kasihan dia jadi ada sesuatu yg hilang saat dia mengikuti pelajaran daring…dan juga sering terjadi senggolan dgn ibunya yg sedikit kurang sabar dalam membantu anak belajar dirumah dan itupun memang ulah anaknya sendiri …sebagai kepala keluarga di serba salah siapa yg salah siapa yg benar dan itu sy saksikan sebelum berangkat kerja…