Pengembangan Karakter dalam Pembelajaran Jarak Jauh, Mungkinkah?

EDU Talk
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com: Sejak diawali pada 13 Juli lalu, tahun pelajaran 2020/20201 yang terlaksana sebagai pembelajaran jarak jauh (PJJ) sudah melahirkan begitu banyak cerita. Pemberitaan di media mengungkap berbagai fakta tentang bagaimana proses ini terselenggara di berbagai wilayah nusantara.

Satuan pendidikan sigap melengkapi diri dengan sarana dan prasarana penunjang. Para guru pelaksananya pun dibekali dengan berbagai masukan melalui aneka webinar. Mulai dari disain pembelajaran, metode dan pendekatan, teknis penyajian yang mengandaikan penguasaan teknologi secara memadai, sampai dengan alternatif asesmen yang diarahkan pada rumusan tujuan.

Namun kualitas pelaksanaan masih bergantung pada kondisi para pembelajar, berikut fasilitas penunjang yang tersedia bagi mereka. Wujudnya bukan hanya perangkat semisal handphone dan laptop saja. Ketersediaan koneksi internet di lokasi mereka berada menjadi faktor yang sama menentukannya. Padahal aspek ini sepenuhnya berada di luar kendali mereka.

Baca juga: Guru Menjadi Role Model Pembentukan Karakter Anak Didik

Bagaimanapun, perubahan senantiasa mengandaikan upaya penyesuaian. Ternyata untuk situasi seistimewa pandemi, upaya yang dikerahkan tak bisa menggunakan ukuran biasa.

Di antara berbagai keprihatinan ini, ada issue lain yang mengemuka. Dalam proses pendidikan yang terselenggara tanpa perjumpaan, bagaimana kiranya pengembangan karakter tetap dapat dilakukan?

Pengembangan karakter dalam Kebijakan Merdeka Belajar

Kebijakan pendidikan “Merdeka Belajar” yang digagas oleh Mendikbud Nadiem Makarim menegaskan penguatan pendidikan karakter sebagai salah satu indikator keberhasilan pelaksanaan pendidikan.

Menyikapi berbagai catatan evaluatif tentang pelaksanaan Ujian Nasional selama ini, dalam kebijakan Merdeka Belajar di-launching konsep Asesmen Kemampuan Minimum (AKM). Konsep ini menekankan kemampuan bernalar menggunakan bahasa (literasi), dan kemampuan bernalar menggunakan Matematika (numerasi). Sedangkan sarana untuk meng-ases penguatan pendidikan karakter adalah Survei Karakter.

Sejak dicanangkan pada tanggal 11 Desember tahun lalu (KOMPAS.com), program ideal ini menjadi acuan bagi setiap institusi pendidikan di seluruh wilayah negeri. Langkah pertama upaya realisasi tentu saja perubahan paradigma segenap jajaran inti : guru, orang tua, dan para siswa sendiri.

Di luar dugaan, sebelum langkah pertama sepenuhnya terlaksana, wabah covid-19 datang mendera. Dengan panduan sejumlah regulasi, untuk tujuan besar reformasi pendidikan Indonesia, program ini mesti tetap terlaksana. Bahkan tampaknya, justru dalam kondisi pandemi seperti ini, gagasan merdeka belajar menjadi semakin relevan.

Namun kembali pada pertanyaan pertama, secara khusus untuk pengembangan karakter, dengan bagaimana?

Pengembangan karakter melalui pendidikan nilai

Sebagai pendidik dengan latar belakang psikologi pendidikan dan bimbingan, tugas pendampingan siswa untuk pengembangan sikap dan perilaku positif, saya rasakan sebagai panggilan. Muatan utama dari proses ini adalah pengembangan nilai (values) dalam diri siswa, yang dimiliki dalam kadar berbeda, sejalan dengan proses bertumbuh mereka dalam lingkungan hidup pertama.

Baca juga: Membentuk Pendidikan Karakter Pada Masa Pandemi Covid-19

Pada siswa, untuk setiap kondisi bermasalah yang dijumpai, berfokus pada hal baik yang dimiliki, seperti keberanian, ketekunan, ataupun kepedulian, kerap menjadi titik balik mereka menuju pembaharuan diri. Berfokus pada nilai yang dimiliki, siswa dikuatkan untuk menemukan sendiri solusi atas persoalan mereka, bahkan pada situasi terburuk sekalipun.

Keyakinan akan adanya hal bernilai dalam diri, menguatkan mereka mengambil keputusan untuk tindakan baru, ataupun membuat pilihan sulit namun perlu, untuk keluar sebagai pemenang atas masalah mereka. Pemilikan nilai inilah yang menjadi penanda karakter kepribadian mereka.

Setelah sekian lama berjalan, ketika pengembangan karakter semakin dirasakan sebagai kebutuhan, kepada saya dipercayakan sebuah tugas baru. Mendukung upaya pendampingan siswa yang dijalankan tim Psikolog sekolah, diselengarakan pendampingan klasikal terjadwal satu jam seminggu dengan fokus pengembangan nilai-nilai, terutama nilai yang ditetapkan oleh sekolah.

Program ini melengkapi upaya pengembangan nilai yang secara integratif dilakukan oleh setiap guru, melalui bidang studi yang mereka ampu. Program ini dinamai Budi Pekerti.

Melalui pengalaman menggeluti tugas ini, saya semakin meyakini bahwa pemilikan nilai mensyaratkan keterlibatan hati. Tentang hal ini, pernyataan tokoh Mochtar Buchori tentang pendidikan watak berikut, sangat saya amini.

”Untuk sampai ke praksis, ada peristiwa batin yang amat penting, yang harus terjadi dalam diri anak, yaitu munculnya keinginan yang kuat (tekad) untuk mengamalkan nilai. Peristiwa ini disebut conatio. Dan langkah untuk membimbing anak membulatkan tekad ini disebut langkah konatif” (2012).

Maka menurut saya, adalah keliru bila upaya pengembangan nilai (value) dilakukan dengan menetapkan target nilai (score) yang harus dicapai. Siswa akan terkondisi untuk membuat pernyataan positif, menjatuhkan pilihan pada alternatif positif, memperlihatkan perilaku positif, semata untuk memperoleh ganjaran nilai (score) yang dijanjikan.

Dengan keyakinan tersebut, sepanjang tahun pelajaran, kegiatan Budi Pekerti terselenggara tanpa aspek penilaian kuantitatif sama sekali. Observasi terhadap partisipasi siswa sepanjang proses menjadi sarana utama mengenali sejauh mana program mengarah pada pencapaian tujuan.

Ketika penyederhanaan kurikulum dilakukan dalam pembelajaran jarak jauh di tahun pelajaran ini, jadwal kegiatan Budi Pekerti ditiadakan. Namun di tangan para guru bidang studi, pendidikan nilai tetap secara konsisten dilaksanakan.

Tantangan pendidikan nilai dalam periode pembelajaran jarak jauh

Berada di tengah arena, meskipun bukan pelaksana utama, dalam tugas sebagai wali kelas, saya adalah salah seorang saksi mata. Simak sejumlah fenomena terkait pengamalan nilai yang teramati pada siswa.

Berada di rumah, melakukan proses pembelajaran tanpa perlu melewati proses berangkat ke sekolah diakui siswa menumbuhkan rasa malas. Beberapa dari mereka struggling dengan urusan bangun pagi, lalu memasuki kelas virtual dengan penampilan ‘bangun tidur’ sehingga guru perlu memintanya cuci muka terlebih dahulu.

Usai pengumpulan tugas powerpoint IPS, guru menemukan beberapa slide yang sama persis, yang mengindikasikan tindakan copy paste. Selain itu, terjadi beberapa kali teguran guru untuk siswa yang masih belum menyerahkan tugas pada waktu yang ditentukan.

Aura berada di rumah membuat beberapa dari mereka menemukan celah untuk menambah porsi aktivitas yang mereka sukai. Setelah melakukan absensi pagi lalu tidur lagi misalnya, mengabaikan aktivitas olah raga yang terjadwal sebelum jam pelajaran pertama.

Atau berpindah ke tayangan youtube dan terlena, belum sempat mandi saat jam pelajaran pertama tiba, hingga ditegur guru karena tidak menyalakan kamera untuk memperlihatkan wajahnya. Siswa lain menunda masuk kelas demi menyelesaikan makan pagi yang terlambat gara-gara tayangan youtube yang disaksikannya.

Ada juga yang memilih untuk memainkan game dari gadget-nya di 30 menit jeda setelah jam pelajaran pertama. Lalu ternyata, tidak bisa menghentikan diri setelahnya, terlambat lama untuk sessi kedua, sehingga memutuskan untuk tidak hadir, tanpa memberikan informasi apa-apa.

Baca juga: Empat Cara Membentuk Karakter Anak Sejak Dini

Ada siswa yang membuat rekaman video diri singkat dan ditayangkan terus-menerus saat kelas tatap muka sehingga guru melihatnya hadir di layar, padahal tidak. Lalu ada aplikasi yang bisa diminta siswa  mengerjakan soal Matematika yang dirasa sulit. Siswa hanya perlu mengirimkan foto soal, kemudian ia akan menerima foto perhitungan lengkap dan benar yang bisa langsung ia submit kepada guru.

Daftar ini masih bisa diperpanjang dengan fenomena lainnya. Namun yang penting sesungguhnya, bila dijumpai di kelas kita, bagaimana cara menyikapinya?

Godaan terbesar adalah menetapkan peraturan serta memberlakukan hukuman untuk tindakan serupa yang bisa dikategorikan sebagai pelanggaran. Mungkin ini adalah langkah tercepat dan termudah untuk mengundang kepatuhan. Akan tetapi, apakah bisa ada jaminan bahwa kejadian tak berulang?

Yang lebih sering terjadi, untuk setiap ketentuan yang diberlakukan, siswa menemukan celah baru untuk melakukan pelanggaran. Lalu semua usaha pengawasan dan pengendalian justru membuat kita kelelahan.

Andaipun kepatuhan terjadi, sejauh mana bisa kita simpulkan bahwa itu adalah fakta pengamalan nilai, bukan sekedar upaya menghindari sanksi? Kembali pada konsep conatio dalam pernyataan Mochtar Buchori, apakah tindakan yang tampak sebagai pengamalan nilai ini merupakan tindakan yang dengan tekad kuat mereka kehendaki?

Sementara, bila semua fakta tindakan ’pelanggaran’ siswa kita ketahui dari pernyataan mereka sendiri, tidakkah semestinya kita perlu lebih berfokus pada kebesaran hati mereka untuk mengakui? Keberanian mereka menerima resiko dimarahi, demi mengungkap kebenaran tentang tindakan keliru yang mereka lakukan, justru lebih jelas memperlihatkan bahwa pengamalan nilai sungguh terjadi.

Memilih langkah terakhir bisa tampak sebagai peristiwa diperdaya oleh siswa. Guru kehilangan wibawa karena ketentuan yang diberlakukannya dilanggar oleh siswa. Tak heran, banyak dari kita memilih untuk menghindarinya.

Padahal belum tentu siswa melakukan tindakan ’pelanggaran’ itu untuk memperdaya gurunya. Sebaliknya, sangat bisa terjadi, tindakan pelanggaran itu justru menjadi tanda bahwa mereka alami kesulitan yang tidak berhasil mereka atasi. Perasaan jenuh, bosan, atau cemas dan takut bisa menjadi kondisi yang membuat mereka menyerah pada kemudahan.

Maka, dengan memilih untuk berfokus pada tindakan positif (bukan tindakan negatif) siswa, kita justru tengah melakukan pendampingan konatif yang berpeluang menggerakkan mereka untuk mengamalkan nilai sebagai tindakan yang sungguh dikehendakinya.

Pengalaman dikenali, dipahami, dan dipercaya, menumbuhkan perasaan positif yang lebih menggerakkan siswa untuk menciptakan pengalaman serupa. Apalagi bila dari sana kita membuka kesempatan pada mereka untuk bercerita tentang kesulitan yang dialaminya, perasaan-perasaan negatif yang mengganggunya. Tanpa disadari, kita sedang menemani mereka menemukan, mengenali, lalu mengatasi persoalan mereka sendiri. Pengembangan karakter kiranya terjadi melalui proses serupa ini.

Baca juga: Pendidikan Karakter: Menumbuhkan Kualitas Positif

Mari meyakini bahwa bahkan dalam kondisi yang sangat membatasi, semua upaya baik akan menemukan jalannya sendiri. Komitmen pada pengembangan karakter siswa akan membantu kita mengenali cara yang semestinya kita lakukan. Namun pada akhirnya, keputusan untuk menghindari atau melakukan, sepenuhnya merupakan pilihan.

Sumber foto: bpip.go.id

Sebarkan Artikel Ini:

4
Leave a Reply

avatar
4 Discussion threads
0 Thread replies
0 Pengikut
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
0 Comment authors
Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
trackback

[…] Baca Juga : Pengembangan Karakter Dalam Pembelajaran Jarak Jauh, Mungkinkah? […]

trackback

[…] Baca Juga: Pengembangan Karakter Dalam Pembelajaran Jarak Jauh, Mungkinkah? […]

trackback

[…] Baca juga: Pengembangan Karakter Dalam Pembelajaran Jarak Jauh, Mungkinkah? […]

trackback

[…] Baca Juga : Pengembangan Karakter Dalam Pembelajaran Jarak Jauh, Mungkinkah? […]