Belajar Bersosial Media dari Tiga Tokoh Muda

Family Talk
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com – Dalam rangka memperingati hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 2020, dan memperingati hari ulang tahun yang ke 4, Youth of Indonesia (YOI) mengadakan sebuah webinar yang berjudul “Pentingnya Memanfaatkan Media Sosial dengan Baik”.

Dalam edisi kali ini YOI menghadirkan trio pembicara yang kece, yakni Andovi da Lopez, Jerome Polin, dan Nessie Judge.

Andovi da Lopez

Seorang pemuda yang memiliki semangat luar biasa, mengawali karir melalui karya channel youtube Skinny Indonesian 24 bersama sang kakak Jovial da Lopez pada 24 Juni 2011.

Berawal dari menyalurkan hobi menyanyi, Andovi mulai merintis karirnya sebagai seorang youtuber. Sering dikritik teman-temannya di bidang tarik suara, ia kemudian beralih, mulai berkiprah di pembuatan video berlandaskan konten semasa Ospek di Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Ia membuat video yang berjudul “10 Tips Sukses Masuk UI”.

Sejak saat itu, ia mulai menerima umpan balik yang positif dari teman-temannya. Sehingga itu menjadi motivasi awal dirinya bersama sang kakak dalam membuat channel youtube.

Semua konten yang kini terkenal di youtube, berdasarkan keluh kesah dan keresahan pasangan kakak adik ini, dikemas dalam komedi atau satir.

Salah satu konten terbaru yang telah ia buat adalah Youtube’s Got Talent, berdasarkan keresahan mereka akan kondisi youtube dan sosial media di Indonesia, yang mencari ketenaran melalui hal yang instan. Mencari ketenaran dari hal yang bodoh, dari hal yang tak sepatutnya disebarluaskan dalam sosial media.

Baca Juga : Media Sosial Berpengaruh Buruk Terhadap Pengguna ?

Jerome Polin

Seorang pemuda berbakat, mengawali karir bersosial media melalui konten Matematika di Official Account LINE pada tahun 2015. Ide ini didasari oleh banyaknya teman yang membutuhkan penjelasan tentang kunci jawaban dan cara penyelesaian soal-soal Matematika.

Setahun kemudian, ia mendapatkan full scholarship di Waseda University, Jepang melalui program Mitsui Bussan Scholarship. Setelah sekolah Bahasa Jepang selama satu tahun, pada tanggal 23 Desember 2017 ia berhasil membuat channel Nihongo Mantappu. Channel ini di-develop berlandaskan keinginannya untuk membantu masyarakat belajar Bahasa Jepang. Tujuan lainnya adalah untuk mengabadikan momen-momen berharga bersama teman-temannya dengan sentuhan budaya Jepang, sebagai memori dan edukasi bagi para pemirsa yang menyaksikan.

Nessie Judge

Nessie Anisputri Daud Judge, atau yang lebih sering dikenal dengan Nessie Judge memulai karir youtube-nya pada tahun 2012, dan menggunakannya untuk berbagi blog video yang ia bintangi sendiri. Konten videonya adalah keluh kesah atau concern pribadinya, juga pembahasan atas hal-hal yang menarik baginya.

Seperti halnya Jerome, ia mengawali karir youtubenya mulai dari dokumentasi pengalaman pribadi magang di Finlandia sebagai mahasiswi S1. Banyak yang memberikan umpan balik positif terhadap karya Nessie Judge, dan menginginkan video lainnya.

Sampai saat ini, sudah beragam video yang sudah ia buat, mulai dari vlog pribadi hingga fakta dan penelitian, serta pembahasan mengenai misteri fenomena paranormal yang belum pernah terpecahkan. Berbagai konten tersebut dikemas dengan cara yang baru dan unik.

Baca Juga : Pandangan Seorang Pelajar Terhadap Kasus Bully Rizal

Proses Webinar

Sepanjang prores webinar, ketiga youtubers ini saling melengkapi, dalam men-sharingkan perjalanan karier youtuber mereka. Diawali cerita Andovi tentang Skinny Indonesian 24 yang muncul saat belum banyak orang berani untuk merintis karirnya sebagai youtuber.

Dilanjutkan dengan Nessie yang selalu konsisten akan kualitas konten. Diakhiri dengan Nihongo Mantappu yang dikelola oleh Jerome Polin. Ketiganya menekankan keseimbangan antara pendidikan dan pembuatan konten.

“Selama kalian yakin akan tujuan akhir yang jelas akan pembuatan konten, dan bisa diseimbangkan dengan pendidikan, kalian tetap bisa berkarya”, pesan Andovi bagi para pemirsa webinar.

“Tanggung jawab aku sebagai pelajar dan pembuat konten mengenai pendidikan aku di Jepang. Kalau sampai pendidikan aku gagal demi membuat konten, sepertinya jadi munafik. Aku harus jaga pendidikan aku sehingga ga keteteran”, lanjut Jerome.

Baca Juga : Semakin Sibuk, Semakin Dirimu Butuh Keheningan!

Pada hakikatnya, media sosial yang memiliki makna sebagai alat atau sarana komunikasi yang dilakukan oleh dua pihak atau lebih, bisa menjadi perantara maupun berkenaan secara langsung dan ikut berperan dalam menunjang kesejahteraan masyarakat.

Namun kini penggunaan sosial media sudah mulai melenceng dari tujuan pembuatannya. Sekarang, banyak masyarakat menggunakan sosial media untuk membandingkan diri dengan keberhasilan orang lain.

Padahal, kita masing-masing memiliki garis waktu yang berbeda. Tindakan pembandingan seperti ini dapat membahayakan para pengguna sosial media, karena dapat mempengaruhi mereka, tidak hanya secara fisik namun juga secara mental, dalam bentuk perasaan tertekan.

Baca Juga :Dunia Maya Vs Dunia Nyata

Daya tarik media sosial memang luar biasa. Banyak anak kecil sudah mulai menggunakan media sosial walaupun belum ada kedewasaan yang matang. Bahkan ada yang memanipulasi umur hanya demi keinginan pribadi dalam menggunakan media sosial.

Media sosial berkembang lebih besar dibandingkan cara penggunaan media sosial yang baik dan benar. Sehingga, maraknya penggunaan media sosial ini menyebabkan media sosial yang mengatur kita sebagai pengguna, bukan kita yang mengatur penggunaan media sosial.

“Aku dapat uang dari waktu yang penonton gunakan untuk nonton aku, sehingga aku harus memberi manfaat yang layak untuk ditonton oleh mereka. Jadi ketika aku bikin video tapi penonton tidak dapat apa-apa, duit yang aku dapat itu haram atau halal?”, tegas Jerome dalam menjelaskan pentingnya kesungguhan dalam membuat konten.

“Cukup banyak konten creator yang memanggil diri mereka konten creator tetapi membuat video kurang etis, lalu sering mendapatkan spotlight dan ketika menjadi topik yang hangat, mereka lalu dinyatakan sebagai youtuber. Padahal, terlalu aneh ketika mereka serakah mendapatkan duit, namun tidak memikirkan konten yang mereka bagikan di media sosial”, lanjut Nessie.

Baca Juga : Cara Kita Menangani Kasus Yang Melibatkan Remaja

“Dengan kekuatan yang besar, timbul kekuasaan dan tanggung jawab yang besar. Kita harus ada logika dasar, kita harus tau bedanya kasih sampah ke orang dan membagikan wawasan yang tepat bagi pemirsa”, Andovi mengakhiri.

Hal yang disampaikan mereka bertiga ini betul adanya, setiap pengembang media sosial ini mempunyai tanggung jawab yang besar untuk mempertahankan konsistensi, mempertahankan nama baik, mempertahankan kualitas video mereka demi semua penonton yang telah menghabiskan waktu untuk menonton video mereka.

Namun kini, banyak orang yang menyebut diri sebagai “konten creator” menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keuntungan yang melejit, tanpa diimbangi dengan usaha dan kerja keras yang sepadan.

Baca Juga : Bandara Soekarno Hatta Dibuka, Menuai Bencana?

Apalagi di masa pandemi ini, di mana kita berada di rumah saja, menaati protokol kesehatan sesuai himbauan pemerintah. Media sosial menjadi salah satu cara untuk mengatasi kebosanan yang kita alami selama di rumah aja.

“Kenapa kita buka hp kita sendiri, tapi kita tidak bahagia? Itu tidak masuk akal” ujar Andovi

“Media sosial kini punya algoritma, ketika kita mencari video itu akan muncul di explore page kita. Apabila kita mencari video konspirasi, maka konsumsi kamu yang keliru. Jadi tidak hanya kita stop mengakses video konspirasi di sosial media, namun juga memperbaharui cara pakai sosial media kita menjadi yang baik dan benar,” ujar Nessie mengenai algoritma yang dikelola oleh youtube.

“Kita tidak boleh tutup telinga terhadap mereka yang mengkritik, sebab kritik mereka bisa aja membangun kita menjadi kita yang lebih baik. Kita justru perlu bersyukur, atas apa yang telah kita bagikan dalam media sosial, tidak hanya memikirkan komen negatif yang kita terima,” saran Andovi

Baca Juga : Jika Buah Hati Mengalami Cyber Bullying, Bagaimana Membantunya?

“Kita tidak bisa kontrol orang ngomong atau nulis tentang kita, kita hanya dapat kontrol kita sendiri. Sakit hati itu hadir karena diri sendiri, sebab apa yang masuk ke dalam hati kamu ya diri kamu sendiri yang tentukan” Jerome menambahkan.

Penggunaan media sosial yang berlebihan, dapat berpengaruh pada kesehatan mental pelakunya. Selain itu, bila tidak cukup memiliki kendali diri, siapapun bisa menjadi kecanduan.

Maka, dalam bermedia sosial, kita perlu belajar mengintrospeksi diri. Hal yang terjadi di luar diri kita sama sekali kita tidak bisa kontrol. Jadi mari kita bersama-sama mencoba memperbaharui diri. Mulai dari selektif memilih konten yang kita tonton, hingga ke cara kita bersikap dalam menghadapi konten yang beredar di sosial media.

Penulis adalah siswa kelas X SMA Santa Ursula BSD

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of