Paradoks Harapan; Harapan itu Bisa Menghidupkan dan Bisa Menghancurkan

Family Talk
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com: Harapan itu seperti uang koin 500 perak, akan selalu ada dua kemungkinan yang muncul. Di antara dua kemungkinan itu, akan ada penolakan dan tentu pula ada penerimaan. Hanya orang yang berharaplah yang bisa kecewa, dan dalam harapan itulah kemungkinan juga akan ada kebahagiaan.

Harapan adalah sumber kehidupan, hanya saja kita perlu berhati-hati dalam me-manage sebuah harapan. Ketika harapan yang dirancang tidak sejalan dengan real self ataupun kualitas hidup saat ini, maka akan sulit untuk mencapai harapan tersebut.

Sederhananya adalah ketika seseorang berharap untuk menjadi seorang dosen, akan tetapi IPK yang dimiliki pun di bawah 2,0. Mungkinkah keinginan menjadi dosen ini terpenuhi?

Kenyataan ini menunjukkan bahwa adanya kesenjangan antara real self dan ideal self. Oleh karena itu, masing-masing kita perlu cerdas dalam mengelola harapan.

Baca juga: Harapan Baru Bagi Para Penderita Kanker Payudara

Hanya orang yang tidak berharaplah yang tidak akan pernah kecewa. Jika seorang siswa tidak bercita-cita memiliki nilai yang tinggi, asalkan nilai bisa memenuhi standar, maka ia tidak akan pernah kecewa ketika tidak mendapatkan nilai yang tinggi, begitupun sebaliknya.

Ketika seseorang berharap untuk bisa mendapatkan nilai yang tinggi pada suatu bidang, dan ketika harapan itu tidak terpenuhi, maka ia akan mengalami penderitaan.

Ketika seseorang becita-cita untuk tidak hidup berpasangan, maka ketika tidak mendapatkan pasangan sampai tua pun tidak akan menimbulkan kegelisahan pada dirinya. Mungkin tidak banyak, akan tetapi ada juga yang memilih hidup seperti ini.

Itulah paradoks harapan. Ia bisa membawa kebahagiaan atas harapan yang terpenuhi dan juga bisa membawa penderitaan atas sebuah kegagalan. Oleh karena itu penting bagi kita untuk merancang harapan secara baik. Berikut ini adalah tips untuk merancang harapan:

1.Buatlah harapan yang logis

Kita perlu berharap yang masuk akal saja. Sebagai contoh: Ketika seorang mahasiswa telah menempuh pendidikan selama kurang lebih 13 semester, akan tetapi realitanya belum juga lulus, maka target yang diusahakan pun tidak perlu cum laude.

Cukup Lulus sudah menjadi sangat logis dalam merancang harapan tersebut. Ketika seseorang bercita-cita menjadi seorang abdi negara (polisi atau tentara), akan tetapi memiliki tinggi badan hanya 150-an cm. Tentu harapan ini akan sangat menyusahkannya.

2.Buatlah harapan yang bisa kita kontrol

Kita perlu merancang harapan yang bisa kita kontrol/kendalikan. Sebagai contoh: Ketika seseorang mempunyai suara yang jelek, akan tetapi bercita-cita menjadi seorang penyanyi yang terkenal.

Ini tentu akan menjadi agak berat dalam memperjuangkan harapan tersebut. Kalau hanya sekadar menjadi pencipta lagu tidak apa-apa, karena masih bisa dikontrol.

3.Butlah harapan yang menurut kita penting

Ketika merancang harapan, usahakan harapan  itu muncul atas keinginan sendiri. Banyak orang mengusahakan sesuatu hanya karena ingin memenuhi harapan orang lain. Usahakan untuk tidak berharap yang sesungguhnya bukan menjadi keinginan diri kita.

Oleh karena itu kita perlu berharap yang penting-penting saja, karena ketika kita berusaha keras untuk menuruti harapan orang lain, maka kemungkinan kita akan sulit mewujudkannya apalagi harapan itu sesungguhnya tidak sejalan dengan minat kita.

4.Buatlah harapan yang bisa diterima oleh lingkungan sekitar

Buatlah harapan yang sesuai dengan nilai-nilai atau aturan yang ada di lingkungan sekitar kita. Ketika kita hendak berpergian ke tempat kerja dalam keadaan situasi seperti sekarang (masa pandemi covid-19), tentu kita perlu menerapakan protokol kesehatan yang ada.

Baca juga: Memperbaharui Relasi Dengan Pengalaman Negatif, Ketika “Lupa” Tak Membawa Hasil

Menggunakan masker, jaket lengan panjang, hand sanitizers dan bahkan harus mandi lagi ketika tiba di tempat kerja. Jika salah satu dari protokoler ini dilanggar, maka kemungkinan besar kita akan mengalami penolakan dari lingkungan sekitar.

Jika sebuah harapan bertentangan dengan kultur yang ada, maka kita mungkin akan mengalami kekecewaan. Begitulah harapan, ia bisa bisa menghidupkan akan tetapi juga bisa menghancurkan, maka berhati-hatilah dalam membuat sebuah harapan.

Penulis adalah  guru pada SMP Kolese Kanisius Jakarta Pusat

Sumber foto: kubiklidership.com

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of