Rata-Rata IQ Orang Indonesia Berada di Peringkat 129 Dunia, Di ASEAN Paling Rendah. Ini Penyebabnya

EDU Talk
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com-Berdasarkan berbagai studi tentang kecerdasan warga negara di berbagai belahan dunia, situs World Population Review pada Maret 2024, mempublikasikan daftar negara di dunia berdasarkan skor tingkat kecerdasannya. Skor tingkat kecerdasan tersebut di antaranya berasal dari tes Intellegence Quotient (IQ). 

Pada rilis tersebut ditampilkan rata-rata skor tes IQ dari 197 negara di dunia. Dari rilis tersebut kita bisa melihat negara dengan IQ tertinggi hingga negara dengan IQ terendah. Dari daftar yang dirilis tersebut dapat dilihat kualitas sumberdaya manusia dan kualitas pendidikan pada negara tersebut. 

Pada daftar yang dirilis tersebut, Jepang berada di posisi pertama dengan skor IQ rata-rata penduduknya mencapai 106.58. Sementara posisi paling buntut ditempati oleh Nepal dengan skor IQ rata-rata penduduknya 42.99. Angka ini diperoleh dengan menggunakan tes IQ yang telah distandarisasi. 

Menurut rilis tersebut, skor rata-rata IQ orang indonesia adalah 78.49. Angka skor rata-rata Indonesia ini bahkan lebih rendah dari angka skor rata-rata global yakni 82. Angka ini bahkan belum menempatkan Indonesia di level IQ rata-rata dunia karena angka rata-rata dunia mulai dengan 85-115. 

Angka skor rata-rata 78.49  menempatkan Indonesia pada peringkat ke-129 dari 197 negara. Di ASEAN, negara seperti Laos, Filipina, Brunei Darussalam, Malaysia, Thailand, Vietnam, Myanmar, Kamboja, apalagi Singapura, berada jauh dari Indonesia. Sedangkan Timor Leste memiliki peringkat yang sama, karena memiliki rata-rata skor IQ yang sama.

Baca juga : Riset Ini Mengungkap Mengapa Prestasi Murid Pada Mata Pelajaran Sains Dan Matematika Cenderung Rendah

Bagaimana Membaca Data Ini?

Para ahli mengatakan kondisi ini menggambarkan masih adanya hambatan dalam pembangunan manusia pada lembaga-lembaga pendidikan yang utama seperti keluarga dan sekolah, antara lain masih tingginya pernikahan usia dini, yang menjadi cikal bakal munculnya berbagai permasalahan pada keluarga sebagai lembaga pendidikan. 

Misalnya ketidaksiapan pasangan dalam mendidik anak, ketidaksiapan secara ekonomi yang menjadi cikal bakal munculnya kasus stunting, yang menjadi hambatan yang paling serius dalam upaya menghadirkan anak-anak cerdas. 

Masih terkait masalah keluarga, tingkat perceraian suami istri yang tinggi menyebabkan pendidikan anak menjadi terbengkalai. Perceraian menyebabkan landasan perkembangan dan pertumbuhan anak tidak dapat diletakkan dengan baik; perkembangan anak pada tahap lebih lanjut menjadi rapuh. Kasus putus sekolah dan stunting dapat menjadi lanjutan. 

Selain itu, hingga kini pemerintah belum memberi perhatian pada keluarga sebagai lembaga penting dan strategis dalam perkembangan negara-bangsa. Sehingga belum ada satupun lembaga pemerintah yang memberi perhatian pada bagaimana menyiapkan pasangan muda sebelum mereka melangsungkan perkawinan. 

Ini mengakibatkan banyak pasangan yang menikah tanpa persiapan yang memadai, padahal saat ini keluarga termasuk lembaga penting dan strategis, tempat landasan bertumbuh anak-anak pewaris masa depan bangsa diletakkan, di tengah dunia yang terus menerus berubah. 

Baca juga : Seberapa Kuat Kata Sandi Yang Anda Gunakan?

Hambatan juga datang dari sekolah sebagai lembaga pendidikan di mana anak dibentuk secara intelektual. Meskipun demikian, proses pembentukan tersebut masih belum berjalan sesuai harapan. 

Pengajaran di sekolah masih berorientasi pada penguasaan konten, bukan pada penguasaan kemampuan analisis, kemampuan menyimpulkan, kemampuan merumuskan masalah, kemampuan memecahkan masalah, kemampuan mempertanggung jawabkan pemikiran dan kreativitas. 

Ini menyebabkan anak tidak berkembang secara intelektual, yang ditandai oleh rendahnya literasi anak, termasuk rendahnya minat dan keterampilan anak didik untuk untuk belajar sepanjang hayat. Ini menggambarkan rendahnya mutu proses pendidikan di Indonesia. 

Melalui kurikulum 2013 dilanjutkan dengan Kurikulum Merdeka, pemerintah berusaha untuk mendorong proses transformasi pendidikan ke arah pengembangan intelektual anak didik seperti kemampuan analisis, kemampuan menyimpulkan, kemampuan merumuskan dan memecahkan masalah, kemampuan mempertanggungjawabkan pemikiran, dan kreativitas. 

Namun proses tersebut tidak mudah diupayakan dalam waktu yang singkat. Diperlukan kemauan politik, komitmen pemerintah untuk pengembangan pendidikan berkelanjutan dan dukungan dari seluruh stakeholder.  Kita tunggu gebrakan berkelanjutan dari pemerintah baru hasil pemilu 2024. 

Foto: CNN Indonesia

5 1 vote
Article Rating
Sebarkan Artikel Ini:
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments