Apasih Revolusi Industri 5.0 itu?

DEPO Topik
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com – Revolusi Industri 4.0 sepertinya sudah bukan barang baru lagi. Walaupun banyak dimensi kehidupan manusia belum benar-benar masuk dalam era yang ditandai dengan Internet of Things yang berjalan dengan bantuan Artificial Intelligence dalam sebuah komunitas Big Data.

Masyarakat kita sudah familiar dengan berbagai kemudahan yang ditawarkan aplikasi on line. Memesan kendaraan, memesan makanan, bayar ini itu, semua dilakukan secara on line, dalam jaringan internet.

Apalagi dalam suasana covid-19 ini, kita jauh lebih mengakrabi video meeting, belajar daring dan banyak hal lain berkat berbagai kemajuan teknologi informasi.

Ayo Baca: Digitalisasi Administrasi Bisnis dan Tantangan Lembaga Pendidikan

Loncatan-loncatan kemajuan itu bahkan tidak terbayangkan dan berada diluar prediksi banyak orang. Bukan lagi dalam bentuk linier. Kemajuan teknologi hari ini mendorong perubahan sekaligus dalam banyak bidang.

Menyentuh sekaligus banyak dimensi kehidupan manusia. Mesin-mesin super bermunculan, perangkat-perangkat teknologi termutakhir lahir.

Tulisan-tulisan yang dimuat di eposdigi.com tentang robot, sesungguhnya adalah awal untuk lahirnya tulisan ini. Mulai dari Bukan Corona yang menyebabkan PHK, Digitalisasi Administrasi Bisnis, tentang Era Robot hingga Sinergi Robot – Manusia.

Dalam tulisan-tulisan itu saya hendak menggambarkan bahwa berbagai kemajuan teknologi itu merubah sedemikian rupa kehidupan manusia. Dalam banyak hal mempermudah dan menjadi solusi berbagai kebutuhan manusia. Namun dalam banyak hal lainnya bisa jadi bencana jika tidak disikapi dengan baik.

Revolusi Industri 5.0 lebih dikenal sebagai Society 5.0. Sebutan demikian menurut saya sebagai bagian dari kompensasi secara psikologis terhadap Revolusi Industri 4.0.

Adalah Jepang, yang pertama kali memperkenalkan Masyarakat 5.0. Pemerintah Jepang menyadari bahwa, berbagai kemajuan teknologi ternyata mengambil alih sedemikian rupa peran manusia dalam membangun peradaban.

Jika dalam psikologi, kompensasi merupakan suatu strategi perilaku membangun kepuasan dalam suatu bidang sebagai penyeimbang dari ketidak puasan terhadap bidang kehidupan lainnya.

Ini semacam perasaan bahwa era industry 4.0 yang terlalu menitikberatkan pada berbagai perkembangan teknologi butuh diseimbangakan dengan memberi peran yang lebih besar kepada manusia.

Ayo Baca: Enam Bidang Teknologi Baru yang Akan Mempengaruhi Karier di Era Revolusi Industri 4.0

Maka peran penyeimbang ini yang oleh Jepang didorong sebagai upaya untuk menjadikan semua perkembangan teknologi untuk mencapai kesejahteraan manusia.

Peradaban yang mau dibangun oleh Jepang dalam Society 5.0 adalah peradaban yang berorientasi pada manusia (human-centered) dengan menggunakan semua teknologi yang ada (technology based).

Revolusi Industri 5.0 bukanlah tahapan lebih lanjut dari Revolusi Industri 4.0. Tahapan lebih lanjut dalam artian perkembangan secara linier dari revolusi sebelumnya. Revolusi Industri 5.0 adalah penyeimbang yang harus seiring sejalan dengan berbagai perkembangan teknologi.

Pertanyaan kritisnya adalah, bukankah semua perlembangan teknologi dalam revolusi Industri 4.0 adalah juga untuk menjawab berbagai kebutuhan manusia?

Di sini letak penekanan yang berbeda oleh Jepang. Berbagai perkembangan teknologi saat ini tidak boleh hanya sekedar untuk pencapaian tujuan koroprasi bisnis yang dengan dana yang besar dapat mengakses dengan mudah berbagai teknologi mutakhir tersebut.

Baca Juga: Hari Ini eranya Robot, Bung!

Oleh Jepang, berbagai kemajuan teknologi tersebut harus digunakan, entah oleh korporasi bisnis, pemerintah maupun oleh masyarakat umum untuk kesejahteraan orang banyak.

Kemajuan teknologi tersebut harus bisa mempersempit jarak antara kaya dan miskin, menjawab berbagai kebutuhan masyarakat banyak, sekaligus digunakan untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup.

Namun salah satu syarat dalam Revolusi Industri 5.0 adalah bahwa masyarakat luas sudah tidak gagap lagi bersentuhan dengan berbagai teknologi canggih tersebut. Harus ada cukup keahlian dan keterampilan untuk menangani dan menggunakan teknologi – teknologi maju ini.

Dan bukah hanya semata-mata untuk memperoleh keuntungan sebesar-besarnya bagai komunitas bisnis. Melainkan semua teknologi maju ini harus bisa mewujudkan kesejahteraan bagi banyak orang secara langsung.

Dibutuhkan keahlian untuk merekayasa berbagai berbagai perangkat teknologi  tersebut, dengan bantuan tnternet of things, artificial intelligence bahkan artificial general intelligence (AGI), dan semua informasi yang disediakan oleh Big Data.

Semuanya itu semata-mata untuk mendistribusikan kesejahteraan secara lebih merata, menghapus kemiskinan, meniadakan kelaparan, mewujudkan tatanan dunia tanpa perang, menjaga dan melestarikan alam.

Berawal dari Jepang, peradaban 5.0 harus menjadi pilihan banyak negara di dunia. Apakah akan mudah terwujud? Bagaimana dengan di Indonesia?

Tulisan ini sebelumnya tayang di eposdigi.com dengan judul “Menyongsong Revolusi Industri 5.0”. / Foto : timesindonesia.co.id

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of