Universitas Islam Internasional Indonesia, Akan Menjadi Pusat Riset Islam Moderat

EDU Talk
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com – Sejak tahun 2016, Presiden Joko Widodo menginisiasi pendirian Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) melalui Peraturan Pemerintah no 57 tahun 2016. UIII didirikan di atas lahan seluas 140 hektar di Cisalak, Depok.

“Tadinya universitas ini direncanakan mulai beroperasi pada September-Oktober tahun 2020, namun akhirnya diundur hingga Maret 2021 karena Pandemi Covid-19”.

Saat pembukaan perdana nanti, UIII menargetkan menerima 250-300 mahasiswa baru, untuk program Studi Islam, Ekonomi Islam, Pendidikan, dan Program Studi Ilmu Politik.

Dari jumlah target penerimaan mahasiswa baru di atas, pemerintah merencanakan untuk menerima mahasiswa mancanegara sebesar 40% dan sisanya untuk mahasiswa domestik.

Baca Juga : Universitas Islam Internasional Indonesia, Akan Jadi Kiblat Studi Islam Dunia

Keunikan dari UIII adalah universitas ini hanya menerima calon mahasiswa untuk program S2 dan S3.  Pada tahun pertama UIII menargetkan menerima 250 mahasiswa S2 dan 50 mahasiswa S3.

Dalam rapat dengan para ahli yang dihadiri oleh akademisi muslim dan pimpinan universitas Islam dari seluruh dunia, Wakil Presiden Ma’aruf Amin menyatakan bahwa UIII akan diarahkan untuk menjadi pusat riset Islam moderat.

Presiden Joko Widodo telah menunjuk Profesor Komarudin Hidayat sebagai rektor. Ia sekaligus menjadi Ketua Harian Pembangunan UIII. Saat ini, UIII telah menerima tawaran kerjasama dari mitra universitas luar negeri termasuk dari Universitas Al-Azhar Mesir.

Visi Universitas Islam Internasional Indonesia

Selanjutnya untuk mengerti lebih lanjut visi UIII, Depoedu.com merangkum percakapan antara Luthfi T. Dzulfikar dari The Conversation.com dengan Kamaruddin Amin, Direktur Jendral Pendidikan Islam di Kementrian Agama dan Amin Abdullah, seorang Profesor Filsafat Islam di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Kamaruddin Amin dalam percakapan tersebut, mengatakan bahwa desain kurikulum UIII mengkombinasikan unsur-unsur tradisi pendidikan tinggi di Timur Tengah dan tradisi pendidikan Islam di Barat.

“Di Timur Tengah pendekatan lebih berat pada Islam klasik, Islam sebagai sebuah teks dan sumber hingga kajian-kajian tekstualnya lebih kuat”, katanya.

“Sementara di Barat empirisnya lebih kuat, melalui pendekatan multidisipliner secara sosiologis, historis antropologis, mencoba membuka dialog bagaimana Islam diimplementasikan dalam sejarah Islam. UIII ingin mengkombinasikan dua pendekatan itu, empiris dan historis dengan normatif tekstual”, jelas Kamaruddin Amin.

Sedangkan Profesor Amin Abdullah mengutip Fazhur Rahman menunjukkan bahwa pendidikan tinggi Islam di era modern memiliki beberapa kekurangan.

Baca Juga : Berkenalan Dengan Para “Penggila Belajar”, Yang Memiliki Seabrek Gelar Akademis

Misalnya dinamika ilmu Sosial-Sosiologi, Antropologi, Psikologi dengan perkembangan masyarakat moderen, hampir tidak dikaji dengan baik oleh pendidikan Islam era modern di seluruh dunia.

Pendidikan Islam sekarang ini tidak terlalu serius dan mendalam, mengembangkan Filsafat Ilmu, dalam arti, tidak pernah penyentuh kontribusi pemikiran mutakhir.

Menurut Profesor Filsafat Islam di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini, kekosongan tersebut membuat dunia Islam kesulitan merespons isu-isu kontemporer dunia Islam, seperti krisis migran Eropa, kesetaraan gender, dan terorisme global.

Menurut Amin Abdullah, persoalan lainnya adalah hubungan Islam dan Barat pun terus melemah serta bagaimana peran pendidikan Islam di tengah permasalahan seperti ini?

Masalah-masalah dan situasi ini menurut Amin Abdullah memerlukan pendekatan penyelesaian masalah dan eksperimen yang lebih menjanjikan seperti melalui UIII ini.

Baca Juga : Program Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri Telah Dibuka Dengan Sistem Baru

“Selain itu, kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara yang selama ini menjadi sentral pendidikan Islam dunia, karena berbagai insiden mulai gelombang unjuk rasa di dunia Arab. Kemunculan Al Qaeda dan ISIS, telah menimbulkan ketidakstabilan di kawasan ini hampir selama dua dekade terakhir”, jelas Amin Abdullah.

Ia meyakini, situasi ini membuat orang mencari kawasan lain untuk studi Islam yang lebih kondusif, untuk menjawab tantangan global dunia Islam. Indonesia dengan indeks demokrasi yang lebih baik dan kondisi lebih aman, membuat para peminat studi Islam, juga dari Barat, melihat Indonesia punya potensi untuk mengembangkan Islam moderat.

Ditambah lagi, Indonesia dengan 200 juta umat muslim, memiliki 250 sistem kepercayaan dan lebih 1300 kelompok etnis. Meskipun muncul beberapa kasus intoleransi, namun masih relatif damai. Ini menjadi modal sosial dan budaya berharga bagi UIII untuk kajian Islam moderat.

Rencananya,  selain menjadi tempat belajar,  UIII juga menjadi lembaga kebudayaan dan lembaga riset. Untuk menjadi lembaga kebudayaan telah didirikan Centre for Islamic Indonesia Culture (CIIC). Sedangkan untuk menjadi lembaga riset telah didirikan Centre for Islamic and Strategic Studies (CISS)

Baca Juga : Apa Yang Dimaksud Presiden Jokowi Dengan Penguasaan Hybrid Skill Bagi Lulusan Sekolah Dan Universitas?

Cita-citanya, UIII akan menjadikan CISS sebagai kajian Islam yang progresif seperti Centre for the Study of Islam and Society (CSIS) di Leiden University atau seperti Oxford Centre for Islamic Studies (OXCIS) di Inggris.

“Riset-risetnya harus diupayakan menjadi riset yang relevan dan bisa berkontribusi untuk kepentingan orang banyak. Hasilnya nanti jadi masukan untuk kebijakan publik di level nasional, maupun global”, kata Kamaruddin.

Menurut mereka, kunci sukses pencapaian visi ini juga terletak pada kemampuan pimpinan universitas menghadirkan mahasiswa mancanegara dan kesediaan mendorong interaksi yang dialogis antara mahasiswa mancanegara dalam keberagaman tersebut.

Foto : metropolitan.kompas.com

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of