Apa yang Dimaksud Presiden Jokowi dengan Penguasaan Hybrid Skill Bagi Lulusan Sekolah dan Universitas?

EDU Talk
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com – Belakangan ini, Presiden Jokowi dalam berbagai kesempatan bicara tentang perlunya lulusan sekolah menguasai apa yang disebut sebagai Hybrid skill.

Di antaranya dalam pidatonya pada pengukuhan Guru Besar Kyai Asep Syarifuddin Chalim di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya belum lama ini (29/2/’20).

Pada kesempatan itu Jokowi meminta agar para guru dan dosen menciptakan metode pembelajaran baru yang memungkinkan para murid menguasai hybrid skill. Menurut Presiden, penguasaan hybrid skill sangat diperlukan pada era digital saat ini.

Penegasan ini merupakan pengulangan dari apa yang pernah ia sampaikan ketika meresmikan Conference ASEAN Federation Engineering Organization (CAFEO) ke-37, tahun 2019 di JIEXPO Kemayoran Jakarta Pusat.

Pada kesempatan itu Jokowi menegaskan bahwa perkembangan teknologi dan industri Indonesia saat ini, membuat Indonesia sangat membutuhkan sumber daya manusia yang menguasai hybrid knowledge dan hybrid skill.

Menurut Presiden, kunci penting  penguasaan hybrid skill adalah dunia pendidikan. Karena skill apapun tidak dapat dikuasai dalam waktu yang singkat, maka ini harus menjadi perhatian sejak dari pendidikan dasar.

Sebelum bicara secara teknis tentang bagaimana hybrid skill tersebut dikembangkan di bangku sekolah, Depoedu.com edisi ini berupaya memaparkan apa yang dimaksud dengan hybrid skill.

Karena pemahaman yang baik tentang apa itu hybrid skill akan memudahkan kita bicara tentang bagaimana pengembangan hybrid skill pada tataran metodologis, melalui tulisan yang lain.

Pengertian Hybrid Skill

Istilah Hybrid Skill digunakan untuk menggambarkan kebutuhan tenaga kerja yang memiliki skill yang sesuai untuk menangani hybrid job pada era digital saat ini.

Pada era digital saat ini, misalnya, dibutuhkan insinyur yang tidak hanya mengoperasikan aplikasi, tetapi juga mampu menciptakan aplikasi. Ia juga diharapkan dapat membaca data, berkomunikasi, me-manage, bahkan memiliki keahlian marketing. Ini lah yang disebut hybrid job.

Pada era digital, dengan globalisasi melalui media sosial, semua berlangsung sangat cepat dan menuntut respon yang cepat pula. Inilah yang mengharuskan adanya hybrid job. Kita akan ketinggalan bila job-job tersebut  dikuasai secara tunggal oleh banyak  pekerja.

Inilah yang menuntut penguasaan hybrid skill. Lulusan lembaga pendidikan harus menguasai hal-hal teknis pada bidangnya, namun juga menguasai soft skills. Ini tidak hanya berlaku pada bidang teknologi, melainkan pada semua bidang.

Pada era digital, lulusan lembaga pendidikan harus menguasai keahlian teknisnya (hard skills), dan pada saat yang sama harus menguasai soft skills. Inilah yang disebut hybrid skill. Jadi hybrid skill adalah penguasaan sekaligus hard skills dan soft skills pada seorang lulusan.

Seorang lulusan teknik mesin tidak hanya menguasai urusan permesinan, tetapi juga pandai memimpin, pandai berkomunikasi, pandai membaca data, pandai bernegosiasi, pandai memasarkan produknya, pandai membaca kebutuhan masyarakatnya.

Ini juga berlaku pada semua keahlian, bukan supaya ia dapat mengerjakan semuanya sendirian, tetapi agar ia dapat merespon perubahan dengan cepat dan dapat bekerja sama dengan berbagai profesi dan berbagai pihak.

Inilah tantangan penting dunia pendidikan kita. Sekolah dan universitas harus melakukan transformasi dalam metodologi mengajar, agar para pelajar dan mahasiswa di akhir masa pendidikannya, menguasai hybrid skill, agar dapat menangani hybrid job-nya ketika memasuki dunia kerja. (Foto: social.hays.com)

Sebarkan Artikel Ini:

1
Leave a Reply

avatar
1 Discussion threads
0 Thread replies
0 Pengikut
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
0 Comment authors
Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
trackback

[…] Baca Juga: Apa yang Dimaksud Presiden Jokowi dengan Penguasaan Hybrid Skill Bagi Lulusan Sekolah dan Universi… […]