Mengapa Perempuan Perlu Dilindungi dari Kasus Kekerasan Seksual?

EDU Talk
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com-Hari-hari ini kita membaca di media, kasus kekerasan seksual terjadi di banyak daerah. Dialami oleh anak perempuan mulai dari anak sekolah, rata-rata sekolah dasar, sekolah menengah, hingga mahasiswa. Pelakunya hampir semuanya guru sekolah, pesantren, guru mengaji, maupun dosen dan pegawai honorer di kelurahan.

Kasus di Bandung, misalnya, dilakukan oleh HW, pemilik pesantren, terhadap 21 orang santrinya. Tindakan HW, dengan ancaman kekerasan ataupun iming-iming tertentu, sampai menyebabkan korbannya hamil, bahkan melahirkan 8 anak. Dilakukan sejak tahun 2016.

Kasus serupa terjadi di Cilacap Jawa Tengah. Dilakukan oleh oknum guru agama bernama MAYH. Ia berusia 51 tahun dan berstatus guru negeri di sekolah tersebut. Modusnya adalah mengiming-imingi murid dengan nilai agama bagus. Korbannya berjumlah 15 orang murid SD.

Kasus kekerasan seksual juga terjadi di Kota Tangerang. Dilakukan oleh oknum guru mengaji berinisial AS, terhadap dua orang muridnya, R dan A, yang masih di bawah umur. Modus pelakunya adalah berpura-pura mengisi tenaga dalam. Tindakan AS terbongkar setelah korban A melaporkan tindakan AS terhadap dirinya, kepada orang tuanya.

Tindakan pelecehan seksual lain terjadi di Kota Tangerang Selatan, dilakukan oleh SA terhadap 3 orang murid SMK yang sedang menjalani praktik kerja lapangan di Kantor Kelurahan Jombang, pada bulan November 2021. Kasus ini sedang dalam penanganan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak Kota Tangerang Selatan.

Baca Juga : Penelitian Membuktikan Bahwa Anak Yang Sukses, Mempunyai Ibu Yang Bahagia

Kekerasan seksual ternyata tidak hanya terjadi pada anak SD dan SMK, tetapi juga dialami oleh para mahasiswi di perguruan tinggi. Dialami oleh tiga orang mahasiswi berinisial C, D, dan F, dilakukan secara verbal melalui pesan whatsapp oleh R selaku dosen di Universitas Sriwijaya Palembang.

Selain melecehkan dengan kata-kata yang merendahkan, R mengajak ketiga mahasiswinya melakukan hubungan seksual.

Fenomena ini menguatirkan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Makarim. Hal tersebut ia sampaikan dalam Webinar “16 Hari Tanpa Kekerasan tehadap Perempuan”. Menurutnya, angka kekerasan seksual meningkat tahun ini.

Hingga Juli, kata Nadiem, telah terjadi 2500 kasus kekersan seksual terhadap perempuan, di antaranya ada 77 persen kasus kekerasan di kampus. Angka ini melampaui catatan tahun 2020, yakni 2400 kasus.

Nadiem menguatirkan kasus kekerasan seksual terhadap perempuan kemungkinan lebih besar daripada data yang tercatat. Seperti fenomena gunung es, jumlah yang tidak dilaporkan bahkan berlipat ganda, melebihi angka yang dicatat. Menurutnya, ini ada kaitan dengan krisis akibat pandemic covid-19.

Maraknya kasus kekerasan seksual ini muncul di tengah memanasnya perdebatan antara kelompok penolak dan pendukung permendikbudristek nomor 30 tahun 2021 tentang pencegahan dan penanganan kekerasan seksual (PPKS) di lingkungan perguruan tinggi.

Kasus kekerasan seksual ini seolah-olah menegaskan bahwa sangat diperlukan pengaturan seperti tertera melalui permendikbudristek nomor 30 tahun 2021, seperti didorong oleh kelompok pendukung.

Baca Juga : Selandia Baru Larang Anak Mudanya Merokok Seumur Hidup, Indonesia Kapan?

Di sisi lain, mencuatnya kasus kekerasan seksual tersebut membungkam para penentang permen 30 tahun 2021; perdebatan menjadi sekonyong-konyong senyap, sekaligus memaksa mereka untuk melihat relevansi permen tersebut dengan upaya pencegahan kejahatan seksual dan perlindungan terhadap perempuan.

Menurut Nadiem Makarim, upaya pencegahan dan perlindungan sangat diperlukan karena kekerasan seksual memiliki dampak yang luar biasa, karena berdampak permanen pada korban.

“Dampak dari kekerasan seksual bisa sampai ke jangka panjang, bisa permanen mempengaruhi masa depan perempuan, padahal mereka calon ibu bagi anak bangsa masa depan,” ujar Nadiem seperti dilansir medcom.id.

Perkataan Nadiem perlu menjadi permenungan kita semua. Melindungi dan mendidik dengan baik perempuan adalah modal yang sangat berharga bagi bangsa. Mereka kelak menjadi ibu yang baik bagi anak-anak mereka. Ibu yang baik mendidik sekaligus dua generasi.

Mengapa dua generasi? Karena anaknya akan bertumbuh sebagai pribadi yang sehat lahir batin dan cara mendidiknya akan diduplikasi kelak oleh anaknya untuk mendidik anak yang mereka lahirkan. Jadi menurut Anda, permen 30 tahun 2021 tentang PPKS perlu atau tidak?

Foto:www.idntimes.com

0 0 votes
Article Rating
Sebarkan Artikel Ini:
Subscribe
Notify of
guest
3 Comments
oldest
newest most voted
Inline Feedbacks
View all comments
trackback

[…] Baca Juga : Mengapa Perempuan Perlu Dilindungi Dari Kasus Kekerasan Seksual? […]

trackback

[…] Baca juga: Mengapa Perempuan Perlu Dilindungi Dari Kasus Kekerasan Seksual? […]

trackback

[…] Baca Juga: Mengapa Perempuan Perlu Dilindungi Dari Kasus Kekerasan Seksual? […]