Interaksi di Media Sosial Juga memerlukan Etika. Ini Lima Etika Bermedia Sosial

EDU Talk
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com-Belum lama ini sebuah laporan tahunan bertajuk Digital Civility Index melaporkan indeks keberadaban digital dan melaporkan bahwa netizen Indonesia adalah netizen yang paling tidak beretika dalam bermedia sosial.

Indeks tersebut disimpulkan dari hasil survey pada 16.000 responden di 32 negara di dunia. Ini bukan hanya gambaran praktik bermedia sosial melibatkan anak remaja yang masih belum mencapai tingkat kematangan, namun justru melibatkan orang-orang dewasa.

Kasus terbaru yang menegaskan buruknya etika netizen misalnya terkait pakar Telematika, Roy Suryo. Pada kasus tersebut, di twitter Roy Suryo mengunggah foto stupa Borobudur yang sudah diedit menyerupai presiden Joko Widodo.

Unggahan Roy Suryo dianggap tidak etis dan oleh karena itu tidak patut karena menyinggung umat Buddha. Oleh karena itu dianggap melecehkan penganut agama Buddha dan Presiden Joko Widodo.

Sesungguhnya sangat sering kita menjumpai unggahan-unggahan seperti itu. Orang Indonesia dengan leluasa mengunggah konten yang tidak etis, tidak patut, oleh karena itu menyinggung, melecehkan dan mengganggu kenyamanan pihak lain.

Seolah-olah perilaku etis dan normatif tidak perlu diupayakan di dunia maya. Padahal, interaksi di media sosial sama seperti di kehidupan nyata, sama-sama perlu mematuhi norma sosial dan tata krama.

Baca juga : Survey Digital Civillity Indeks; Kesopanan Neitizen Indonesia Paling Buruk Se-Asia Tenggara

Tulisan selanjutnya bermaksud membahas lima etika bermedia sosial yang perlu diupayakan agar interaksi dan komunikasi di media sosial membuat semua orang menjadi nyaman dan beradab.

  1. Dalam berkomunikasi gunakan pilihan kata yang baik

Pilihan kata yang baik dalam berkomunikkasi perlu diupayakan, terutama bagi pemberi pesan, ini adalah awal komunikasi yang baik.

Karena media sosial bersifat terbuka. Oleh karena itu, dapat ditanggapi oleh siapapun yang dapat mengakses. Para penanggap diharapkan menanggapi dengan menggunakan pilihan kata yang baik pula.

Ini akan membuat komunikasi melalui media sosial menjadi nyaman dan menumbuhkan.

  1. Konten yang di-share tidak mengandung aksi kekerasan, pornografi dan SARA.

Beragam informasi yang diunggah di media sosial sebaiknya tidak memprovokasi aksi kekerasan, menyiarkan tindakan kekerasan bahkan secara fulgar dan live.

Di samping tidak etis, jejak digital yang abadi dapat meninggalkan trauma yang mendalam bagi keluarga korban jika mereka dapat mengakses foto atau video tersebut kembali.

Selain kekerasan, sebaiknya unggahan juga tidak menyangkut masalah SARA, terutama yang bersifat merendahkan dan mendiskreditkan. Unggahan  hendaknya bersifat edukatif.

Baca juga : Mencapai Integritas Pribadi Adalah Pergumulan Sepanjang Usia

Selain itu, karena ranah media sosial adalah ranah sosial oleh karena itu konten yang diunggah adalah konten sosial, bukan konten yang privat seperti pornografi. Mengunggah pornografi melalui media sosial adalah tindakan yang tidak etis.

  1. Mengunggah informasi yang benar

Agar media sosial berdampak menumbuhkan, maka semua orang pengguna media sosial, diminta bertanggung jawab untuk memastikan mutu konten yang diunggah.

Oleh karena itu, semua orang sebelum mengunggah konten, diharapkan membuka terlebih dahulu dan membaca hingga tuntas, mengecek sumber informasinya dan memastikan informasi yang diunggah bukan hoax.

Banyak orang karena belum membaca informasi hingga tuntas, atau baru baca judulnya saja, sudah memberi respon, sehingga responnya salah dan tidak bermutu.

Oleh karena itu sebelum merespon, dianjurkan untuk membaca hingga tuntas. Ini diperlukan untuk mengupayakan agar informasi yang diunggah adalah informasi yang benar.

  1. Selektif dan wajar mengunggah informasi pribadi

Meskipun semua orang bebas menggunakan media sosial namun harus disadari ranah media sosial bukan ranah privat. Oleh karena itu, mengunggah informasi yang pribadi harus dilakukan secara selektif.

Kenapa? Karena informasi dan data pribadi yang diunggah dapat diakses dan disalahgunakan oleh semua orang termasuk, pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Misalnya, data pribadi kita diakses dan disalah gunakan untuk menipu.

Baca juga : Tiga Cara Menghentikan Dan Mencegah Bullying Pada Anak

Atau rumah kita dapat dibobol maling karena melalui media sosial, maling dapat mengakses data tentang kapan kita berada di rumah dan kapan kita tidak berada   di rumah, karena data tersebut kita unggah di media sosial kita.

Maka selektif dan bijaksanalah mengunggah data pribadi di media sosial. Selain itu, banyak orang mengunggah beban, keluhan, keberatannya, pada pihak lain di media sosial.

Kebiasaan ini selain tidak etis, juga tidak berdampak menyelesaikan masalah, bahkan dapat merusak hubungan pribadi dengan pihak lain tersebut.

  1. Menghargai karya orang lain

Media sosial membuat kita dapat mengakses dan menggunakan karya orang lain dengan leluasa untuk kepentingan kita. Jika kita melakukan hal tersebut sebaiknya mencatumkan sumbernya.

Hal ini merupakan bentuk kita menghargai karya orang lain tersebut. Saat ini banyak media sosial juga menyediakan fitur untuk merespon karya yang ditampilkan orang lain. Oleh karena itu, bentuk lain dari menghargai karya orang lain adalah memberikan masukan dan saran yang lebih membangun.

Dapat dilakukan melalui fitur jaringan pribadi yang hanya dapat diakses oleh pemilik karya. Atau menghubungi pemilik karya secara personal jika itu dapat dilakukan.

Itulah lima etika bermedia sosial yang dapat kita praktekkan untuk mengupayakan praktik bermedia sosial yang beretika, lebih beradab dan manusiawi.

Foto:kompasiana.com

5 1 vote
Article Rating
Sebarkan Artikel Ini:
Subscribe
Notify of
guest
3 Comments
oldest
newest most voted
Inline Feedbacks
View all comments
trackback

[…] Baca Juga: Interaksi Di Media Sosial Juga Memerlukan Etika. Ini Lima Etika Bermedia Sosial […]

trackback

[…] Baca Juga:  Interaksi Di Media Sosial Juga Memerlukan Etika. Ini Lima Etika Bermedia Sosial […]

trackback

[…] Baca Jug: Interaksi Di Media Sosial Juga Memerlukan Etika. Ini Lima Etika Bermedia Sosial […]