Mendesak Nadiem Makarim untuk Menunda Kembali Asesmen Nasional?

EDU Talk
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com-Setelah Asesmen Nasional (AN) ditunda pelaksanaannya, pada bulan Maret 2021 yang lalu, yang kemudian digeser ke bulan September dan Oktober 2021, kini berbagai pihak mengusulkan agar Menteri Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi, menunda kembali pelaksanaan AN.

Usul tersebut datang dari Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) seperti dilansir JPNN.com. Dua petinggi P2G angkat bicara tentang usul penundaan Asesmen Nasional tersebut, yakni Zanatul Haeri dan Suparno Sastro. Menurut mereka, harusnya pemerintah lebih fokus bekerja untuk menangani dampak dari pandemi Covid-19 terlebih dahulu.

“Saat ini, setelah Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) berlangsung 1,5 tahun, proses PJJ ternyata belum efektif. Di lapangan kita mengamati ancaman learning loss, dan meningkatnya angka putus sekolah di berbagai daerah, sementara belum dapat dipastikan kapan pandemi akan berakhir”, jelas Zanatul Haeri

“Di samping itu, kami juga melihat PJJ melahirkan problematika, munculnya ketimpangan digitalisasi, sehingga banyak siswa bahkan guru tidak dapat melaksanakan PJJ”, lanjut Kabid Advokasi P2G ini.

Baca Juga : Apa Antisipasi Mentri Pendidikan Agar Asesmen Nasional Dapat Mendorong Peningkatan Mutu Pendidikan?

Menegaskan ketimpangan digital tersebut, Suparno Sastro, anggota Dewan Pakar P2G memaparkan dengan mengutip data Kemendikbudristek bahwa saat ini, 20,1% murid serta 22,8% guru tidak memiliki perangkat TIK seperti gawai atau laptop selama PJJ.

Suparno menegaskan jika dipaksakan, AN justru menambah ketimpangan bahkan akan menjadi diskriminasi berbagai murid. Apalagi AN akan dilaksanakan berbasis komputer.

Suparno bahkan menambahkan, saat ini masih ada sekitar 120 ribu SD yang belum memiliki TIK minimal 15 paket, sebagaimana jumlah peserta AN dari masing-masing sekolah. Di samping itu ada 46 ribu sekolah yang belum memiliki akses internet bahkan aliran listrik.

Oleh karena itu, menurut P2G, semestinya problem-problem di atas menjadi fokus pembenahan bersama-sama antara Kemendikbudristek, bersama kementerian terkait, dan pemda, ketimbang memaksakan pelaksanaan AN. Apalagi biaya yang dibutuhkan untuk AN sangat fantastis yakni sebesar 1,48 trilyun.

Baca Juga : Asesmen Nasional, Trasformasi Sekolah Dan Pengembangan Mutu Pendidikan

“Dana sebesar itu lebih baik digunakan untuk membantu Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) agar PJJ lebih berkualitas dan upaya mengurangi ketimpangan digital di banyak daerah”, jelas Zanatu Haeri.

Asesmen tanpa proses transformasi?

Seperti diketahui, kebijakan AN adalah bagian dari paket kebijakan merdeka belajar. Melalui kebijakan merdeka belajar, pemerintah hendak mendorong transformasi untuk meningkatkan mutu pendidikan dan pengajaran di lembaga pendidikan.

Oleh karena itu, harus didorong transformasi proses belajar mengajar terlebih dahulu. Murid harus dilatih berpikir tingkat tinggi terlebih dahulu.

Ini hanya bisa terjadi jika guru memiliki wawasan dan pengetahuan yang memadai untuk berpikir tingkat tinggi serta terampil mendesain pengajaran untuk mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi pada para murid.

Baca Juga : Mewaspadai Komersialisasi Asesmen Nasional Oleh Lembaga Bimbingan Belajar Dan Sekolah

Hingga sekarang, saya tidak melihat proses transformasi pendidikan dan pengajaran terjadi, baik pada level guru melalui pelatihan-pelatihan. Apalagi pada level murid, melalui proses belajar mengajar.

Itu artinya kita mengharapkan hasil AN bagus dalam kemampuan berpikir tingkat tinggi, tapi tidak melakukan proses transformasi pengajaran ke arah berpikir tingkat tinggi sebagai syaratnya. Ini adalah tindakan sia-sia.

Oleh karena itu, saya sepakat dengan P2G untuk menunda pelaksanaan AN. Lebih baik anggaran 1,48 trilyun digunakan untuk mengatasi ketimpangan digital di berbagai daerah dan mendorong transformasi pengajaran untuk meningkatkan mutu pendidikan dan pengajaran terlebih dahulu.

Setelah itu, baru dilakukan AN. Itu adalah logika sebuah evaluasi. Mengharapkan peningkatan mutu pendidikan tanpa serius melakukan proses transformasi terlebih dahulu, adalah sebuah kesia-siaan.

Foto:indozone.id

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of