Bullying Marak Lagi di Sekolah-sekolah. Ini Cara Mencegahnya

EDU Talk
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com-Aksi bullying marak kembali di kalangan anak sekolah, terjadi di SMP Plus Baiturahman Bandung. Seperti nampak pada video yang viral di media sosial, korban yang memakai helm, dipukuli dan ditendang berkali-kali hingga menyebabkan korban pingsan.

Kabarnya, pada awalnya itu adalah bagian dari permainan di mana nanti kepala korban dipukul oleh teman-temannya dari belakang, si korban menebak. Jika tebakannya tepat, orang yang ketebak akan menggantikan korban memakai helm.

Skenario permainan berubah ketika anak lain bukannya memukul dengan tangan, melainkan menendang berkali-kali, hingga menyebabkan korban pingsan.

Pada video yang beredar di media sosial, teman lain yang menyaksikan kejadian sambil tertawa dan tidak melakukan apa-apa untuk mencegah atau menolong korban.

Setelah kejadian, korban sudah diperiksa di rumah sakit dan tidak ditemukan cedera serius di kepala. Namun orang tua korban tetap memilih menempuh jalur hukum untuk menyelesaikan kasus ini, dan tidak memilih berdamai.

Kasus bullying lain yang juga viral di media sosial, bahkan dilakukan oleh sekelompok anak SD. Pelakunya kurang lebih 9 orang anak perempuan, korbannya pun anak perempuan. Kali ini terjadi di SDN 159 OKU Sumatera Selatan.

Baca juga : 4 PTN Ini Akan Buka Prodi Kedokteran Baru Pada Tahun Kuliah 2023/2024

Pada video yang beredar, terlihat seorang anak perempuan terduduk di lantai sambil menangis lantaran pukulan dan tendangan yang ia alami dari orang-orang yang mengelilinginya. Sementara anak yang lain sibuk merekam kejadian dengan telepon pintar mereka.

Setelah video tersebut viral, Dinas Pendidikan OKU Sumatera Selatan mengirim tim untuk mengusut. Jika ada unsur kelalaian dari Kepala Sekolah dan guru, maka Kepala Sekolah dapat dicopot dan guru terkait akan dimutasi.

Hingga kini korban bullying masih sulit diajak berkomunikasi karena masih trauma. Namun setelah pertemuan antara orang tua korban dan orang tua pelaku diputuskan kasusnya tidak dilanjutkan ke ranah hukum.

Orang tua korban bersedia berdamai asal anaknya mendapat pendampingan untuk penyembuhan psikologis dari trauma hingga pulih dan syarat ini disanggupi oleh Kepala Dinas Pendidikan.

Pasti masih ada banyak kejadian bullying lain yang terjadi, termasuk cyber bullying yang dilakukan secara verbal melalui media sosial. Dampaknya sama parahnya secara psikis bagi korban, namun sering terlewat dari perhatian.

Pada kasus bullying yang sudah-sudah, setelah kejadian mencuat, semua orang memberikan perhatian, termasuk para pejabat terkait. Namun biasanya perhatian tersebut cuma terkait gejala dari kasusnya.

Bahkan dengan perjalanan waktu, semua orang yang tadinya memberikan perhatian; para pejabat terkait, kepala sekolah, bahkan orang tua korban pun lupa menangani lebih lanjut, sehingga kasusnya menguap dan jauh dari selesai.

Baca juga : Jika Buah Hati Mengalami Cyber Bullying, Bagaimana Membantunya?

Begitu seterusnya, nanti para pejabat tersebut akan mncul lagi memberi perhatian pada saat ada kejadian bullying baru, dan kasus bullying tidak pernah ditangani secara tuntas.

Mencegah bullying di sekolah

Menurut hemat saya, bullying hanya terjadi pada sekolah yang kepala sekolahnya tidak efektif memimpin, sehingga guru-guru tidak dikoordinir untuk bekerja dengan baik.

Pada dua kasus bullying di awal tulisan ini, nampak bahwa guru tidak mengawasi murid sama sekali. Guru cuma hadir di kelas pada saat mengajar, setelah selesai mengajar tidak ada sistem pengawasan guru sama sekali.

Karena tidak ada sistem pengawasan ini, murid merasa bebas melakukan banyak hal, termasuk bullying. Untuk mencegah bullying, sistem pengawasan ini harusnya ada di setiap sekolah.

Selain efektivitas kepemimpinan kepala sekolah dan ketiadaan sistem pengawasan, bullying juga menggambarkan sistem pengajaran tidak berjalan dengan baik di sekolah-sekolah tersebut.

Tidak ada iklim belajar di sekolah-sekolah tersebut, bahkan bullying biasanya ikut menggambarkan buruknya mutu pengajaran sekolah tersebut.

Baca juga : Mendampingi Anak Menghadapi Pengalaman Bully

Oleh karena itu para murid tidak mengisi waktunya dengan belajar selama berada di sekolah. Mereka lalu mengisi waktu nganggur-nya dengan hal lain yang tidak ada kaitannya dengan belajar, dan bullying dapat menjadi bagian dari suasana tersebut.

Selain tentang sekolah, bullying juga menggambarkan buruknya mutu hubungan antara anak dan orang tua. Jika hubungan antara anak dan orang tua dalam keadaan baik, anak tidak akan menjadi bagian dari bullying; baik sebagai pelaku maupun sebagai korban.

Anak yang komunikasinya baik dengan orang tuanya, akan mengkomunikasikan semua pengalamannya pada orang tuanya, dan direspon dengan baik oleh orang tuanya, sehingga sebelum bullying terjadi sudah terdeteksi dan diatasi.

Sedangkan pada pelaku bullying biasanya menggambarkan relasi kuasa yang tidak beres antara anak dengan orang tua. Para pelaku bullying biasanya memiliki pengalaman tidak dihargai oleh orang tua mereka sendiri.

Itulah kira-kira akar masalah dari lingkaran bullying yang terus berulang terjadi di lingkungan pendidikan kita. Jika ingin mengatasi bullying tersebut, tidak hanya berani menangani gejalanya seperti selama ini, melainkan berani menangani sampai ke akar masalahnya.

Yakni benahi kepemimpinan kepala sekolahnya, tata sistem pengawasannya, benahi mutu pengajarannya, hingga perbaiki hubungan antara anak dengan orang tua. Tanpa itu, kita akan terus menghadapi masalah bullying yang semakin hari, semakin parah.

Foto:Rencanamu.id

5 1 vote
Article Rating
Sebarkan Artikel Ini:
Subscribe
Notify of
guest
1 Comment
oldest
newest most voted
Inline Feedbacks
View all comments
trackback

[…] Baca juga : Bullying Marak Lagi Di Sekolah-Sekolah. Ini Cara Mencegahnya […]