Asesmen Nasional, Trasformasi Sekolah dan Pengembangan Mutu Pendidikan

EDU Talk
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com – Secara keseluruhan kebijakan Asesmen Nasional itu adalah kebijakan yang merupakan bagian dari paket kebijakan merdeka belajar. Melalui kebijakan merdeka belajar, pemerintah hendak mendorong transformasi untuk meningkatkan mutu pendidikan dan pengajaran di lembaga – lembaga pendidikan kita.

Asesmen Nasional harus dipahami dari konteks tersebut. Oleh karena itu harus ditegaskan bahwa meskipun asesmen adalah upaya evaluasi dan pemetaan mutu pendidikan, namun evaluasi dan pemetaan tanpa menangani perbaikan atau melakukan transformasi pada proses belajar mengajarnya maka, hasil yang diperoleh tidak akan lebih baik dari sebelumnya.

Atau dengan kata lain, mengharapkan hasil asesmen bagus dalam kemampuan berpikir tingkat tinggi, tanpa melatih murid berpikir tingkat tinggi melalui proses belajar mengajar terlebih dahulu, adalah tindakan sia-sia.

Baca Juga: Dampak Positif Penundaan Asesmen Nasional 2021

Oleh karena itu jika kita menghendaki hasil bagus dari asesmen kompetensi minimum maka yang pertama kali dilakukan adalah mengupayakan transformasi proses belajar mengajar ke arah melatih murid berpikir tingkat tinggi terlebih dahulu dan hasil bagus dalam proses asesmen adalah konsekuensi lanjutanya.

Transformasi ini dapat dilakukan dengan baik jika guru memiliki wawasan dan pengetahuan yang memadai untuk berpikir tingkat tinggi dan terampil mendesain pengajaran untuk mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi.

Baca Juga: Mewaspadai Komersialisasi Asesmen Nasional Oleh Lembaga Bimbingan Belajar Dan Sekolah

Paket dan Sesi Pelatihan Yang Diperlukan

Oleh karena itu saya mengusulkan paket pelatihan yang terdiri dari tiga hal: Pertama, pelatihan mendesain pengajaran dengan menggunakan pendekatan High Order Thinking Skills yang terdiri dari 4 pendekatan yaitu pendekatan 5W + 1 H , pendekatan model Wallas, pendekatan Scamper, dan pendekatan Servant Leadership Learning (SLL).(Arifin Nugroho;67-80).

Kedua, simulasi mengajar berdasarkan desain pengajaran dengan 4 pendekatan tersebut. Ketiga, pelatihan mengkonstruksi soal untuk melakukan asesmen terhadap proses belajar mengajar dengan pendekatan High Order Thinking Skills.

Baca Juga: Soal HOTS Dan Upaya Pengembangan Siswa

Pelatihan ini dilakukan beberapa sesi:

Sesi pertama: sesi pembentukan paradigma dan pemahaman baru tentang High Order Thinking Skills.

Sesi kedua: sesi pengenalan dan pemahaman tentang 4 pendekatan pengembangan High Order Thinking Skills yakni 5W + 1 H, pendekatan model Wallas, pendekatan model Scamper, pendekatan Servant Leadership Learning (SLL) di sini sudah ada simulasinya. Goal nya adalah keterampilan mendesain pengajaran berdasarkan perdekatan tersebut.

Sesi ketiga: simulasi pengajaran berdasarkan desain pengajaran dengan 4 pendekatan tersebut. Ini adalah sesi tindak lanjut, oleh karena itu yang bertanggung jawab adalah kepala sekolah, dengan supervisi koordinator pendidikan. Goalnya adalah guru memiliki keterampilan mengajar untuk pengembangan High Order Thinking Skills.

Sesi keempat: sesi pengenalan dan pemahaman tentang hakekat asesmen dalam proses belajar mengajar, tujuan asesmen dan pengenalan jenis dan komponen soal High Order Thinking Skills. Goalnya adalah guru terampil menyusun soal yang bermutu untuk melakukan asesmen dalam proses belajar mengajar.

Sesi kelima: merupakan tindak lanjut terhadap sesi keempat. Pada sesi ini kepala sekolah melakukan validasi terhadap soal yang disusun oleh guru dan melakukan pendampingan lanjutan secara individual jika diperlukan. Goalnya adalah mutu soal yang disusun oleh guru meningkat dan kompatibel dengan proses belajar mengajar yang diselenggarakan.

Baca Juga: Strategi Meningkatkan Kemampuan Literasi Dan Numerasi Bagi Siswa

Membangun Budaya Belajar

Selain pelatihan, tantangan besar lainnya adalah bagaimana mendorong guru untuk terus belajar karena, berpikir tingkat tinggi memerlukan pasokan wawasan , informasi dan pengetahuan yang terus berkembang.

Tanpa wawasan yang luas dan penguasaan informasi dan pengetahuan, berpikir tingkat tinggi tidak mungkin terjadi. Oleh karena itu perlu terus didorong pembentukan tradisi belajar bersama di kalangan guru. Dalam rangka itu perlu ditetapkan hari studi bersama pada masing-semua sekolah.

Bentuk kegiatannya dapat bermacam-macam misalnya nonton podcast bersama-sama lalu dilanjutkan diskusi, diskusi buku, dan seminar internal.

Baca Juga: Merdeka Belajar Adalah Kemerdekaan Berpikir

Kegiatan semacam ini bukan hanya dilakukan dalam rangka menambah wawasan dan pengetahuan guru namun juga untuk menimbulkan iklim intelektual dan saling belajar di kalangan guru. Selain itu kegiatan semacam ini diharapkan, menumbuhkan minat membaca guru.

Demikianlah, melalui dua hal di atas, pelatihan guru terkait High Order Thinking Skills dan upaya mendorong terus menerus pembentukan tradisi belajar di kalangan guru, transformasi Sekolah dapat terjadi. Tujuan akhir dari proses transformasi tersebut adalah terjadi peningkatan mutu pendidikan dan pengajaran di Sekolah.

Foto: jmcinset.com

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of