Kreativitas dalam Pembelajaran Daring (Resensi Buku)

EDU Talk
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com-Apakah pembelajaran jarak jauh yang sudah dilaksanakan lebih dari setahun? Apakah pembelajaran yang dilaksanakan sejalan dengan tuntutan era digital akan diteruskan meski pandemi usai?

Tidak mudah menjawab pertanyaan ini. Tetapi wacana untuk segera melaksanakan pembelajaran tatap muka bisa menjadi jawabannya. Ada kesadaran bahwa pembelajaran jarak jauh telah menjadi penyebab adanya ‘loss learning’.

Cara berpikir seperti ini yang ingin ditepis oleh Robert Bala dalam bukunya: Cara Mengajar Kreatif, Pembelajaran Jarak Jauh. Buku setebal 200 halaman yang ditulis Robert Bala menghadirkan sebuah tinjauan yang menarik dan mengalir dan menjadikannya pantas untuk dinikmati.

Aneka kekuatan pembelajaran jarak jauh disibak. Sekaligus kepada pembaca diberikan ‘road map’ untuk menjadikannya pembelajaran bermakna.

Fokus yang menjadi sasaran tuju dan sekaligus menjadi inti dari buku yang terbit secara digital di medio April 2021 ini ada bab 4. Di sini dijelaskan tentang pembelajaran berbasis proyek (Project Based Learning).

Ia menjadi jawaban karena melalui proyek yang digagas berdasarkan masalah nyata, para siswa dirangsang kreativitasnya untuk memberikan solusi.

Baca Juga : Bagaimana Mengelola Dilema Pembelajaran Tatap Muka Di Tengah Pandemi Covid-19?

Proyek yang digagas tentu bukan asal-asalan. Ia ditawarkan dengan memerhatikan titik temu dari aneka standar kompetensi dari berbagai bidang studi. Hal itu kemudian ditawarkan kepada siswa dengan menyesuaikan minatnya.

Covid-19 yang menjadi masalah bersama bisa menghadirkan aneka solusi dengan menggunakan ragam proyek dengan menggunakan podcast, drama, animasi, dan sebagainya.

Bisa dipastikan, proyek yang ditawarkan bersifat ilmiah. Ia digagas dilakukan dan dikembangakn dalam kerangka berpikir ‘STEAM’ (Science, Technology, Engineering, Art, and Mathematics) hal mana dibahas dalam bab 5.

Proyek yang ditawarkan tidak sekadarnya, tetapi digagas dalam sebuah kerangka berpikir ilmiah dengan analisis multidimensional yang mengakomodir semua bidang tersebut. Di sana bisa diyakini, proyek yang dihasilkan akan memiliki nilai inovasi dan kreativitas yang mencengangkan.

Tidak hanya itu. Pada bab terakhir, digagas tentang perlunya model evaluasi yang lebih bermakna. Model penilaian yang diterapkan dalam praktik pendidikan selama ini lebih fokus pada penilaian teoretis yang belum menggambarkan tentang otentisitas dan gambaran kinerja tiap individu.

Yang seharusnya ditawarkan adalah penilaian keterampilan, dalamnya yang dinilai selain keterampilan dan proyek, juga dinilai produk dan aneka portofolio yang diharapkan.

Baca Juga : Sebelas Bulan Berlangsung Pembelajaran Daring, Dapat Menyebabkan Learning Loss?

Uraian seperti ini bagi penulis merupakan alternatif yang sangat dinantikan dewasa ini untuk menghasilkan sebuah pembelajaran bermakna. Sesuatu disebut bermakna karena aneka harapan terjawab melalui tawaran solusi yang tepat.

Disebut demikian karena rangkaian pengalaman nyata dikonstruksi menjadi lingkup belajar yang tidak saja dipaksakan dari luar tetapi dirasakan oleh para siswa.

Penempatan pembahasan ‘meaningful learning’ justru pada bab 3 seakan menyadarkan para pendidik bahwa kebermaknaan mestinya menjadi kesadaran bersama.

Pendidikan tidak sekadar menjejali siswa dengan aneka pengetahuan belaka tetapi perlu merujuk lebih jauh dengan mempertanyakan apakah hal yang diajarkan itu diterima sebagai sesuatu yang bermakna atau tidak.

Konstruksi Pengalaman

Apa sebenarnya yang menjadi kekuatan dan kelemahan dari buku yang awalnya merupakan inspirasi dari webinar yang dibawakan penulis di berbagai kesempatan?

Pertama, buku ini digagas dalam kerangka teori konstruktivisme. Teori yang diperkenalkan oleh Ernst von Glaserfeld, menekankan bahwa pengetahuan akan lebih kuat kalau dicapai melalui proses konstruksi atau bentukan.

Itu dibentuk oleh struktur konsepsi seseorang sewaktu berinteraksi dengan lingkungannya.

Baca Juga : Pengembangan Karakter Dalam Pembelajaran Jarak Jauh, Mungkinkah?

Itu berarti pembelajaran tidak boleh dilaksanakan hanya sekadar menjejali siswa dengan pengetahuan teoritis.  Siswa perlu diperlakukan sebagai subyek pembelajar. Rangkaian pengalaman yang dimiliki perlu dijadikan pertimbangan dalam meramu sebuah pembelajran bermakna.

Cara berpikir ini bisa saja menjadi alasan mengapa penulis mengawali 2 bab bukunya dengan mengangkat kegagapan yang dihadapi guru saat menerapkan pembelajaran jarak jauh. Guru menjadi gagap dalam bermedia, gagap kuota, hingga gagap mengajar.

Tidak hanya itu. Aneka stigma negatif yang sudah ada sebelumnya juga menjadi kendala yang menghalangi kreativitas guru.

Tentu deskripsi masalah seperti ini hanya menjadi prototipe. Setiap pendidik kapan dan di mana saja bisa menghadapi  masalah berbeda. Aneka masalah itu mestinya dijadikan acuan dasar dalam menawarkan sebuah solusi.

Dengan demikian tawaran itu benar-benar menjawabi sehingga berujung pada dihasilkannya pembelajaran bermakna.

Kedua, buku ini sebenarnya menekankan tentang pentingnya kolaborasi. Begitu kuatnya dampak yang diterima dari pandemi misalnya kerap memunculkan kegalauan tidak saja pada para guru tetapi terutama pada murid.

Mereka tidak saja mengalami kesulitan dalam mencerna materi tetapi juga secara psikologis tersiksa oleh aneka pembatasan yang diberikan.

Baca Juga : Telkom, Peduli ‘Webinar’ Untuk Lembata

Situasi yang tidak menguntungkan ini mestinya mendorong diwujudkannya kolaborasi. Di sana para guru perlu keluar dari egoisme mementingkan mata pelajarannya dan membuka konektivitas dengan mata pelajaran lain.

Kolaborasi juga bisa ditunjukkan dari model kerjasama antarsiswa dalam menyelesaikan sebuah proyek. Teknologi digital memudahkan terwujudnya kolaborasi secara digital.

Dua kekuatan utama ini bisa juga sekaligus mengandung kelemahan. Penerapan model konstruktivisme bisa dianggap sebagai beban bagi para pembaca (pendidik). Banyak pembaca mengharapkan agar sebuah buku perlu sangat ‘membumi’ dengan menawarkan apa yang bisa langsung dibuat tanpa perlu membebankan pembaca untuk harus meramunya.

Hal ini tidak menjadi bidikan penulis karena tahu bahwa para guru bukan seperti operator yang hanya diajarkan tentang ‘know how’ bagaimana menggunakan sebuah produk. Mereka adalah fasilitator yang selalu dikedepankan ‘know why’ agar bisa mencari sebab terdalam yang menjadi kerangka dalam menciptakan sesuatu yang baru.

Cara penyajian seperti ini rupanya dibuat secara sengaja oleh penulis. Seperti Bruce Garrabrandt, sebenarnya ia tengah merangsang kreativitas pembaca. Sebuah kreativitas yang tentu tidak digagas di balik hal-hal besar tetapi justru dikemas dari hal-hal kecil.

Baginya, Creativity doesn’t wait for that perfect moment. It fashions its own perfect moments out of ordinary ones. Kemalangan akibat pandemi bisa dikonversi menjadi momen kreatif.

Penulis adalah Lulusan Alumna Universita Facoltà di Scienze dell’Educazione dell’Università Pontificia Salesiana, Roma; Guru BK pada Sekolah Atisa Dipamkara Tangerang.

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of