Pengelolaan Sampah Psikis

Bimbingan
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com-Setiap saat kita akan selalu dihadapkan dengan berbagai peristiwa. Kita pun mencoba untuk memberikan reaksi terhadap apa saja yang kita alami. Reaksi atas kejadian pun akhirnya memunculkan berbagai macam perasaan.

Kadang kita mengalami perasaan positif seperti senang, bersyukur, puas, bangga atas apa yang kita alami dan bahkan tak luput juga dari perasaan-perasaan negatif.

Perasaan negatif yang muncul sebagai akibat dari reaksi terhadap setiap peristiwa pun bermacam-macam, di antaranya ada sedih, marah, kecewa, benci, jenuh, putus asa dan lain sebagainya.

Jika perasaan negatif ini tidak dikelola dengan baik (dibiarkan/didiamkan), maka akan tertimbun atau bertumpuk-tumpuk di alam bawah sadar kita.

Nyatanya, keadaan seringkali membuat kita tidak bisa mengungkapkan dengan baik perasaan negatif yang kita miliki. Kita marah, kecewa, dendam, bahkan benci sekalipun dengan lingkungan sekitar (teman, orang tua, dan bahkan orang lain yang kita anggap istimewa).

Akan tetapi, karena lekat dengan status sebagai orang dewasa, terkadang kita memilih untuk tidak menunjukkan ataupun mengungkapkan perasaan negatif yang dialami. Kita memilih diam.

Baca Juga : Mengubah Perasaan Negatif Dengan Overthinking

Proses seperti ini terjadi karena sejauh pemahaman dan pengalaman kita, diam adalah cara yang efektif bagi kebanyakan orang dalam mengobati perasaan negatif.

Keinginan diri untuk tetap menjaga relasi pun menjadi salah satu alasan, mengapa banyak orang memilih untuk tidak mengungkapkan perasaan negatif yang dialaminya.

Terkadang kita merasa tidak oke ketika diperlakukan sedemikian rupa oleh lingkungan sekitar, namun kita mencoba untuk tetap kuat, dengan diam sebagai perilaku yang paling pantas menurut versi kita.

Kita jengkel dengan perlakuan lingkungan sekitar, namun karena keinginan untuk menjaga relasi dalam keseimbangannya, kita pun memilih untuk diam dan mencoba menguatkan diri bahwa semua akan baik-baik saja.

Terkadang kita sedih ketika diperlakukan tidak adil oleh lingkungan, namun karena kita ingin terlihat kuat, akhirnya kita memilih untuk menyembunyikan kesedihan tersebut. Kita berusaha untuk baik-baik saja dan memaksa diri untuk tetap tegar.

Seperti yang diungkapkan sebelumnya bahwa ketika perasaan negatif yang dialami tidak dikelola dengan baik (disembunyikan), maka ia akan masuk ke dalam alam bawah sadar. Perasaan-perasaan negatif (marah, sedih, jengkel, iri, dendam, dll) akan mengalami ketertumpukan di alam bawah sadar.

Baca Juga : Tidak Hanya Bela Diri Fisik, Ternyata Ada Juga Bela Diri Psikis

Tumpukan-tumpukan perasaan itu kemudian akan menjadi sampah dan terakumulasi dalam bentuk energi yang sangat besar kekuatannya. Ketika sampah-sampah itu mengalami kepenuhan, maka energi-energi itu akan tumpah ruah dalam bentuk perilaku yang maladaptif.

Perilaku maladaptif merupakan perilaku yang kurang sesuai dengan apa yang diharapkan oleh lingkungan (ada norma sosial yang dilanggar). Perilaku tersebut di antaranya adalah dengan berteriak secara kencang, membanting barang, memukul dan lain sebagainya. Oleh karena itu, perasaan negatif yang dialami perlu dikelola dengan baik.

Beberapa cara yang bisa diterapkan ketika ingin mengelola perasaan negatif tersebut di antaranya adalah:

Mengkomunikasikan perasaan

Kita perlu mengkomunikasikan perasaan yang kita miliki terhadap siapapun. Kita perlu menceritakan secara terbuka apa yang kita rasakan dan apa yang menyebabkan munculnya perasaan negatif serta akibat yang mungkin saja terjadi.

Sebagai contoh: “Saya merasa jengkel (saya dan nama perasaan) dengan teman saya karena ketika saya berbicara, teman saya ini selalu menyela (kejadian nyata), sehingga saya pun menjadi tidak bisa mengungkapkan secara detail apa yang menjadi pemikiran saya (akibat)”.

Beberapa syarat yang perlu dipenuhi dalam pengungkapan perasaan negatif ini adalah dengan menyebutkan “saya”, “nama perasaan”, “kejadian yang memunculkan perasaan negatif”, serta “akibat apa yang ditimbulkan”. Contoh sebelumnya sudah memuat syarat-syarat tersebut.

Melakukan sublimasi

Tumpukan-tumpukan energi di alam bawah sadar perlu disalurkan dengan tepat. Jika tidak dilakukan dengan mengkomunikasikan perasaan, kita bisa memilih cara yang kedua ini, yakni dengan mensublimasi.

Baca Juga : Memperbaharui Relasi Dengan Pengalaman Negatif, Ketika “Lupa” Tak Membawa Hasil

Sublimasi bisa dilakukan ketika kita tidak mampu atau belum berani mengungkapkan perasaan negatif yang kita alami kepada orang lain.

Sublimasi merupakan penyaluran perasaan negatif dengan melakukan kegiatan-kegiatan yang positif. Entah itu dengan berolahraga, melibatkan diri dengan komunitas, menggambar, menulis, membuat puisi, menyanyi, bermain alat musik dan lain-lain.

Misalnya ketika jengkel, kita bisa menyalurkan perasaan jengkel dengan menyanyi ataupun bermain alat musik. Ketika kita kecewa, kita bisa menyalurkan perasaan kecewa ini dengan menulis puisi ataupun dengan menggambar. Temukan apa yang menjadi kesukaan, dan lakukan itu.

Perasaan-perasaan yang kita alami perlu dikenali dan disalurkan dengan baik. Proses penyaluran bisa dilakukan dengan mengungkapkan perasaan, ataupun dengan melakukan sublimasi.

Proses penyaluran ini sangat membantu masing-masing kita dalam mengembangkan mental health. Banyak orang terlihat ceria secara eksis, namun remuk di bagian dalam. Banyak orang terlihat baik-baik saja, namun hancur lebur secara psikis.

Oleh karena itu, sesuatu yang biasanya tidak tampak, terkadang membawa pengaruh yang paling besar dalam kehidupan kita, sekaligus menjadi teman sakit yang paling akrab. Untuk bisa sembuh, orang perlu menampilkan atau menyalurkan ketidaktampakan tersebut.

Salam sehat, stay healthy.

Foto:paragram.id

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of