Jadi Tempat Curhat Ternyata Tidak Mudah

Bimbingan
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com- Setiap orang memiliki pengalaman yang kurang menyenangkan setelah melewati beberapa proses dalam hidupnya. Pengalaman selalu punya cerita, dari yang berkesan, memalukan, pilu, rasa canggung, dan lain-lain.

Lalu, pernahkah Anda mengungkapkan cerita Anda kepada kerabat dekat, saudara, atau anggota keluarga untuk menerima dan mendengar cerita Anda?

Ketika orang bercerita tentang apa yang ia alami sehari-hari, bagaimana perasaannya saat itu, action apa yang ia lakukan, dan apalagi selain mereka ingin mendapatkan respons darimu.

Mendapat respons yang kurang nyaman dari orang lain itu bagi saya sungguh ironi. Ambil contoh ketika Anda sedang bertengkar kecil dengan pasangan, dan Anda mendapatkan kata-kata seperti ini “Ah kamu saja yang berlebihan, coba deh kamu turunkan egomu, kamu keras kepala juga ya”, tukas lawan bicara , atau yaaa sebut saja teman curhat kita.

Baca juga: Kenali Ciri Toxic Relationship Dalam Relasi Dengan Pasangan Anda

Tanpa disadari, lawan bicara kadang membuat kita justru merasa tidak nyaman dan tidak diterima. Sehingga ekspektasi jawaban dari orang lain malah menangkis dengan kata-kata seperti itu.

Ini pengalaman saya, sahabat saya datang kepada saya sudah dalam keadaan menangis dan ia langsung memeluk saya sambil memanggil lirih nama saya. Saya bingung. Seketika “freeze”. Dan boom, dalam hati “saya harus apa ya?”. Dia bercerita, terbata-bata ….

Untungya saya mencerna kalimatnya, tapi jawaban seperti apa yaa sehingga ia merasa diterima dan jangan sampai sahabat saya tersinggung dengan kata-kata saya, apalagi kalau saran yang saya keluarkan berseberangan dengan kondisi hatinya. Jangan!

Jadi, menurut artikel yang di-publish oleh University of Nebraska yang berjudul The Signs of Verbal Abuse (part 2), ada beberapa tanda pelecehan verbal yang tanpa kita sadari rawan terjadi di setiap celah percakapan “curhat”.

Berikut contoh perkataan yang kurang nyaman yang sering terjadi pada proses curhat.  Pertama, ada pencapaiannya kita anggap tidak penting, contoh “Aih, ngapain sih nilai tinggi-tinggi toh nanti kamu kalau sudah cukup umur yang kamu butuhkan uang”. Ya memang nilai tidak menentukan segalanya, namun kalimatnya tidak harus berbunyi seperti itu.

Kedua, “Name Calling” di sini lawan bicara menggantikan nama atau identitas kita dengan sebutan yang tidak pantas. Kata-katanya bisa berupa “Heh bodoh, lagian siapa juga yang suruh mengerjakan tugas itu sampai pagi, bodohnya kau”. “Masa gitu aja minta bantuan, tolol sekali kau”. Wow, ingat yaa kita tidak boleh melabel-kan orang lain.

Ketiga, Trivializing atau bisa dibahasakan seperti meremehkan yang terjadi dalam cerita itu. Bisa berupa meremehkan perasaan, tindakan, bahkan pikiran. Bunyinya bisa seperti ini “Sudahlah kau ini sedikit-sedikit kepikiran, lupain ajalah”. Contoh lagi “Oh cuma itu usaha kamu untuk jadi karyawan di sana, kok gampang banget ya”.

Hati-hati ya, kan semua orang berhak untuk merasakan dan menuangkan gagasannya, apalagi kalau mereka sudah berusaha. Oke, sekarang saya bertanya, pernahkah Anda mendapat lawan bicara yang sering kali menghantam pendapat atau tindakan Anda, sehingga ia melawan dan terus menerus memperdebatkannya? Bisa jadi Anda sedang dalam momen countering atau melawan.

Baca juga: Diskusi Itu Asik Kalau Kita Rendah Hati

Lawan bicara Anda selalu tidak puas dengan apa yang Anda lakukan atau action Anda sehingga sesi curhat berujung ke sesi debat. Ini adalah pengalaman saya ketika saya hendak melanjutkan studi yang jurusannya tidak linear dengan jurusan yang sebelumnya saya tempuh.

Dengan pertanyan yang cukup membuat saya geram, “Kok kamu ambil jurusan itu, memang cocok ya sama jurusan awal kita”, “Di mana relevannya sih, aku belum menemukannya”.

Atau, “Memangnya kamu sudah pikirkan prospek kerjanya seperti apa”, dan ya uncommon question lainnya yang cukup membuat saya ingin beranjak pergi dan saya merasa seperti tidak diterima.

Tanda pelecehan verbal yang terakhir adalah, undermining atau sederhanya merusak kepercayaan diri kita seakan apa yang kita lakukan tidak ada “apik-nya”.

Contoh kasus kita bercerita dan meminta pendapat untuk menghadiri suatu acara, dan sakitnya kita mendapat kalimat “Tidak usah datang deh, kamu nanti di sana hanya jadi butiran debu”. Wow, pendapat memang bisa tidak sejalan tapi bisa menyayat.

Nah, penjelasan saya di atas tadi hanya sebagian saja ya. Sebetulnya menjadi tempat atau bisa dibilang tampungan cerita orang lain tidak mudah bagi saya.

Baca juga: Diam Dan Dengarkan; Dahsyatnya Pemahaman Dan Penerimaan Dalam Berkomunikasi

Saya justru berpikir apakah perkataan saya menyinggung lawan bicara, apakah saran saya tidak cukup membangun, dan terus bergumam dalam hati “Aku pantas tidak ya, jadi teman curhat?”.

Mari kawan-kawan, kita harus belajar menerima orang lain dan sebisa mungkin membuat lawan bicara nyaman dan tidak merasa dihakimi. Karena suatu saat kita pun butuh penerimaan diri dari orang lain dan berhak untuk mendapatkan dukungan.

Kalau boleh saya sarankan, di akhir sesi kamu bisa mengucap maaf kalau tanggapan kamu mungkin tidak sesuai ekspektasinya, “maaf ya kalau responku tidak membuat kamu nyaman”, “Hey, maaf ya kalau jawaban aku kurang menenangkan kamu”.

Begitu kawan-kawan yang bisa saya share, mari kita semua belajar menjadi penerima, pendengar dan pemberi tanggapan yang baik dan sehat”. Semoga bisa membantu, dan ya. Saya ucapkan maaf apabila tulisan ini tidak sempurna bahkan tidak sesuai ekspetasi Anda. Terima kasih ya.
Sumber foto: celotehyori.com

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of