Guru Pengerak & Kinerja Perubahan; Sebuah Roadmap (Bagian ke 5 dari 5 tulisan)

EDU Talk
Sebarkan Artikel Ini:

Roadmap dan x Langkah untuk Berubah

Depoedu.com – Actors of changes: Identifikasi siapa saja yang menjadi aktor perubahan (stakeholders) dalam sistem tatakelola satuan pendidikan dan bertanggungjawab pada masalah kinerja sistem penjaminan mutu pendidikan.

Hasil identifikasi kesenjangan antara situasi kini dan situasi harapan mengungkapkan secara terpetakan, siapa aktor dan berada di level mana yang harus melakukan apa sesuai dengan tugas dan kewenangan masing-masing untuk secara bertahap dan bersama-sama menjembatani kesenjangan itu.

Kita pisahkan dua kategori key actors: (a) aktor inti: guru mata pelajarah sebagai individu, dan (b) aktor kolektif: dewan guru, manajemen (kepala sekolah da yayasan), komite sekolah, pemerintah, etc. Masing-masing aktor memiliki kedudukan dan fungsi sendiri dalam sistem penjaminan mutu pendidikan.

Masalah kinerja sistem secara keseluruhan adalah domain tanggungajwab manajemen (kepala sekolah dan yayasan). Namun demikian, kinerja sistem secara keseluruhan sangat bergantung pada kinerja setiap komponen sistem, yaitu kinerja masimg-masing guru mata pelajaran.

Satuan pendidikan tidak dapat membebankan tugas menggerakkan (baca: menghidupkan kembali) seluruh komponen sistem kepada guru penggerak. Harapan besar tanpa disertai pendelegasian wewenang menggerakkan sebagian atau seluruh sistem, dan/atau mendapat dukungan kebijakan penuh dari manajemen, dapat menyebabkan guru penggerak kehilangan semangat.

Baca Juga: Guru Penggerak Dan Kinerja Perubahan;  Sebuah Roadmap (Bagian Ke-2 Dari 5 Tulisan)

Guru pengerak juga dapat kehabisan energi. terdemotivasi, frustrasi, dan – sebagai komponen sistem yang dipercayakan menggerakkan seluruh sistem – bisa mengalami apa yang dalam fisika disebut material fatigue: kelelahan material sehingga tinggal tunggu waktu komponen itu hancur dan seluruh sistem stop bergerak.

Agar supaya guru penggerak tidak menjadi korban dari sistem yang tidak bisa digerakkan, mereka (para guru pengegrak) perlu (a) diberi kesempatan secara bertahap terus meningkatkan kapasitas mereka sebagai guru penggerak (guru dengan tugas lebih dibanding guru lain), dan (b) mendapat dukungan penuh dari manajemen dan seluruh anggoya dewan guru sebagai teamwork.

Ibarat roda gear yang saling menggerakkan, tugas manajemen, antara lain (baca: terutama!) mengidentifikasi kondisi dan karakter masing-masing komponen sistem. Komponen sistem mana yang sudah tua, sudah aus, tidak lagi menampilkan kinerja yang makin berat sesuai tuntutan kurikulum.

Ada komponen yang terlalu kuat (baca terlalu dominan) sehingga memaksa komponen tetangganya berputar melampaui kapasitas yang dimiliki.

Ada komponen yang sangat berkualitas tetapi egois, enggan bersinergi dengan komponen lain: enggan menerima gerakan dari roda lain (pertanyaan dan/atau saran), apalagi mau menggerakkan roda lain.

Ada juga komponen yang benar-benar sudah etsblished, sudah karat, bahkan sudah ‘mati’, dan karena itu hanya menjadi faktor pengganggu dan penghambat dalam peningkatan kinerja sistem secara keseluruhan. Kmponen semacan ini tentu perlu diganti, tetapi bukan menjadi tugas guru penggerak. You know who is/are responsible for this matter.

Baca Juga : Guru Penggerak Dan Kinerja Perubahan; Sebuah Roadmap (Bagian Ke-3 Dari 5 Tulisan)

Menyusun program konkret untuk perubahan.

Untuk menyusun program meningkatkan kinerja mengajar guru, kita perlu mengenal jenis kesenjangan apa yang ada pada masing-masing guru dan pada setiap level/kelas, serta pada rumpun guru mata pelajaran sejenis.

Ada syarat yang dituntut dalam menyusun program peningkatan konerja guru, yaitu kita perlu memiliki kerangka pengetahuan yang logis dan memadai tentang akar masalah, batas atas perubahan yang diharapkan, serta kerangka konsepsional (teori) tentang bagaimana melakukan gerakan transformatif sedemikian rupa sehingga guru siap berubah sesuai dengan tuntutan kondisi harapan.

Jika persoalan kinerja guru ada pada penguasaan konsep dan penggunaan laboratorium bahasa, misalnya, maka kita perlu sedikit pengetahuan tentang lab bahasa dan ketrampilan apa saja yang dibutuhkan untuk mengoperasikan sebuah lab bahasa.

Jika persoalan kinerja guru ada pada ketidak-cukupan waktu mempersiapkan pelajaran karena guru harus ‘nyambi’ di beberapa sekolah, maka program intervensi yang dipilih hendaknya ‘program kesejahteraan’ agar guru bisa fokus mengajar pada satu sekolah saja.

Guru penggerak akan menghadapi persoalan yang jauh lebih kompleks dalam merancang program transformasi kultur kerja pada satu satuan pendidikan.

Baca Juga : Guru Pengerak & Kinerja Perubahan; Sebuah Roadmap (Bagian Ke-4 Dari 5 Tulisan)

Ada guru (senior) yang memiliki pengetahuan yang sangat mendalam tentang bidang studi yang diasuh (content knowledge) serta memiliki kemampuan menyajikan mata pelajaran dengan sangat runtun dan mudah dipahami anak (pedagogical knowledge), tetapi guru tersebut tercecer dalam pengetahuan dan ketrampilan menggunakan teknologi pembelajaran (media pembelajaran) yang dituntut oleh kurikulum.

Ada guru yang memiliki pengetahuan yang sangat bagus tentang mata pelajaran yang diasuh, tetapi ia hanya mengandalkan pola mengajar klasikal. Semua materi diceramahkan. Dan ada guru yang tidak bisa mengajar kalau buku pegangan guru tertinggal di rumah.

Ada guru yang sangat pandai dan berpengalaman dalam mendidik tetapi ia hanya bisa membuat soal ulangan atau ujian berdasarkan instink. Ia gagap dalam membuat soal dengan sebaran tingkat kesukaran yang proporsional karena ia belum menguasai cara membuat kisi-kisi soal yang membagi tingkat kesulitan dan proporsi jenjang kongnitif pada satu unit soal.

Latar belakang pendidikannya di jalur sains murni (non-kependikan) membuat ia awam tentang konsep pedagogik dan metodologi dalam tugas mengajar.

Ada sekolah yang memiliki guru mata pelajaran yang tidak sesuai dengan latar belakang dan keahlian sang guru (masalah portofolio). Mereka menjadi guru-guru ad-hoc: mengajar mata pelajaran apa saja yang diberikan pihak kepala sekolah (atau yayasan) karena sekolah mengalami kekurangan guru. Kinerja penjaminan mutu pada satuan pendidikan tidak bisa berjalan optimal dengan kekuatan ad-hoc.

Baca Juga: Guru Penggerak Dan Kinerja Perubahan; Sebuah Roadmap

Dibutuhkan program peningkatan kinerja yang berbeda-beda untuk meningkatkan kapasitas guru dalam bidang content nowledge, pedagogical knowledge, technologocal knowledge,serta kombinasi ketiga kompetensi tersebut dalam TEPACK (technological, pedagogical, content knowledge) serta latihan untuk mentransformasikan ketiga domain knowledge tersebut menjadi teaching skills yang workable.

Selain faktor guru, ada tuntutan lain yang berada di depan kita: mempersiapkan anak didik untuk memasuki abad 21 – sesuai desain krurikulum 2013: mengenalkan dan melatih the 4Cs dalam praksis kegiatan belajar-mengajar di kelas (critical thinking, creativity, collaboration, and communication). Guru-guru yang datang dari abad 19 dan abad 20 tidak siap dengan tuntutan mengajar jenis ini.

Sekalipun umur penerapan “taksonomi bloom” di Indonesia itu sudah sejak diberlakukan kurikulum 75 yang menggantikan kurikulum model lama warisan kolonial, belum semua guru, apalagi guru dari jalur non-kependidioan, paham tentang konsep dan penggunaan taksonomi bloom dalam merumuskan tujuan belajar, mengoperasionalkan tujuan belajar dalam KBM, dan mengevaluasi hasil belajar.

Sebagai konsekuensi dari pelaksanaan kurikulum 2013, para guru dituntut untuk bergeser dari zona nyaman (baca: naik kelas) dari mengajar pada level lower order thinking skills (LOTS = C1 – C3) ke level higher order thinking skills (HOTS = C4- C6) agar siswa siap dengan ketrampilan berpikir kritis, kreatif, berkolaborasi dan mampu berkomunikasi dengan baik (the 4Cs) memasuki abad 21.

Padahal sebagian besar guru-guru kita adalah produk abad 19/20. Guru generasi abad 19/20 bisa saja cepat belajar memahami konsep belajar dalam tantangan baru itu tetapi tidak selalu mudah mengubah teaching habits yang terlanjur terbentuk selama bertahun-tahun.

Baca Juga : Mengenal Program Prioritas Merdeka Belajar Versi Nadiem Makarim

Jadi apa yang paling mendasar dibutuhkan dalam menyusun program transformasi guru-guru kita?

  1. buatlah program peningkatan kinerja guru untuk suatu kurun waktu terbatas dengan indikator dan parameter pencapaian yang bisa diukur. Pergunakan SMART-Indicators.
  2. Pilah, program mana yang menjadi domain guru penggerak, mana yang menjadi domain dewan guru, dan mana yang menjadi domain manajemen.
  3. Guru penggerak dapat mulai menggerakkan guru-guru lain dari konsolidasi dengan sesama guru-guru pengasuh mata pelajaran yang sama (kelas 1 – 3) (misalnya dengan sesama guru biologi), lalu merambat ke sesama guru sains (kimia, fisika, matematika), dan seterusnya. Hal yang sama bisa dilakukan oleh guru penggerak dari rumpun ilmu sosial dan bahasa.
  4. Apa yang bisa dilakukan jika sekolah hanya memiliki satu guru penggerak dengan latar beakang keahlian bidang matematika, misalnya, sementara ia harus menggerakkan guru bahasa Inggris?

Dibutuhkan seni berkomunikasi dan sedikti “ilmu dagang sapi” atau “kongkow di warung kopi” agar terjadi ‘pasar’ tempat saling berbagi pengalaman, ide dan konsep secara timbal balik.

Perubahan harus terjadi tanpa ketegangan

Habis.

Foto: literasinews.pikiran-rakyat.com

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of