Pendidikan Demokrasi Ala Finlandia, Dimulai Sejak Taman Kanak Kanak

EDU Talk
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com – Peserta didik itu subjek dalam pendidikan dan bukan objek. Itu salah satu esensi ilmu pendidikan yang dipelajari oleh semua guru yang memiliki latar belakang pendidikan guru.

Sebagai subjek, peserta didik adalah pelaku utama belajar.Sebagai pelaku utama, peserta didik terlibat dalam proses belajar. Mereka aktif dalam proses belajar, bukan hanya aktif secara mental dan aktif berpikir, namun juga aktif terlibat dalam proses belajar mengajar secara fisik.

Mereka diberi ruang juga untuk berpendapat. Pendapat mereka didengarkan sebelum mengambil keputusan tentang sebuah proses pendidikan dan melakukan apa yang telah disepakati.

Baca Juga : Finlandia, Negara Dengan Mutu Pendidikan Terbaik Di Dunia

Oleh karena itu, dunia pendidikan tidak hanya membutuhkan guru-guru yang paham bahwa peserta didik merupakan subjek, tetapi juga menyediakan iklim, membutuhkan tradisi yang menyediakan ruang bagi peserta didik untuk menjadi subjek.

Artikel ini hendak mengajak eduers untuk belajar dari praksis pendidikan di Finlandia, yang mengkonstruksi iklim, menyediakan ruang, dan tradisi yang kompatibel sehingga peserta didik memiliki ruang unutk menjadi subjek dalam pendidikannya.

Artikel ini bertolak dari catatan dan pengalaman Ratih D. Adiputri dalam bukunya yang berjudul Sistem Pendidikan Finlandia. Pada salah satu bagian dari buku tersebut, Ratih menulis tentang pentingnya peserta didik di Finlandia berpendapat. Tulisan ini lebih merupakan rangkuman dari bagian tersebut.

Di Level Taman Kanak-Kanak dan Pendidikan Dasar

Secara keseluruhan, pendidikan di Finlandia sangat menempatkan peserta didik sebagai subjek. Oleh karena itu, pendapat peserta didik sangat penting dalam perumusan dan pengambilan keputusan sekolah dan guru.

Ini bukan hanya tradisi di Sekolah Menengah Atas dan Perguruan Tinggi, tetapi juga menjadi tradisi di Sekolah Dasar bahkan di Taman Kanak-kanak, dan berkesinambungan.

Semakin tinggi tingkatnya, keterlibatan peserta didik semakin menentukan kebijakan di level sekolah. Sedangkan di tingkat Taman Kanak-kanak dan Pendidikan Dasar, lebih menyangkut bagaimana kegiatan dan suasana di level kelas.

Sejak Taman Kanak-kanak, peserta didik sudah dibiasakan untuk mengungkapkan pendapat mereka. Pada awal masuk anak menyampaikan, harapan mereka terkait situasi dan suasana di kelas mereka.

Baca Juga : Faktor Apa Yang Membuat Warga Negara Denmark Paling Bahagia Di Dunia

Setelah kelas berjalan “rapat anak”, untuk menentukan kegiatan anak di kelas tersebut. Misalnya anak dimintai pendapat tentang kegiatan apa yang ingin mereka mainkan bersama, olahraga apa yang akan dilakukan, atau anak diminta memilih permainan A atau permainan B.

Kesepakatan ini kemudian dilakukan oleh guru hingga periode rapat berikutnya. Anak TKK diberi ruang untuk menjadi subjek, mereka tidak menjadi objek.

Tradisi memberi kesempatan berpendapat bagi peserta didik berlanjut di pendidikan dasar, kelas 1 hingga kelas 9. Pada awal semester peserta didik pada kelas-kelas tersebut diberi kesempatan untuk menyampaikan harapan terkait semester tersebut.

Baca Juga : Arah Baru Reformasi Pendidikan Kita; Catatan Pendidikan Pada Hari Pendidikan Nasional

Kelas pun diberi kesempatan untuk menentukan kegiatan yang akan dilakukan tahun tersebut. Jika ada study tour, kelas berdiskusi untuk menentukan tujuan study tour yang mereka kehendaki.

Di level pendidikan dasar pula, dilakukan pertemuan rutin untuk mendengarkan pendapat peserta didik tentang pengajaran, mana yang sulit mana yang mudah. Atau makanan di kantin sekolah enak atau tidak enak. Apakah suasana kelas mereka menyenangkan atau tidak menyenangkan. Apakah peserta didik dapat berkonsentrasi dengan baik atau tidak.

Statistik hasil rapat rutin antara guru dan peserta didik ini kemudian dipresentasikan oleh wakil peserta didik dalam pertemuan dengan orang tua di tengah semester.

Baca Juga : Dua Kompetensi Inti Baru Akan Ditambahkan Dalam Kurikulum 2013; Kompetensi Inti Apakah Itu?

Menjelang akhir tahun, agenda rapat rutin diadakan kembali untuk mengevaluasi sejauh mana perkembangan kelas tersebut. Apakah ada perkembangan ke arah yang lebih baik atau tidak.

Statistik akhir terkait perkembangan kelas di atas dipresentasikan kembali di akhir tahun dalam rapat dengan orang tua peserta didik.

Menurut Ratih, dengan memberi kesempatan berpendapat seperti itu, mereka berharap nilai seperti saling menghargai, kerjasama, bertanggung jawab atas terbentuknya suasana belajar yang baik. Mereka juga belajar untuk saling mendengarkan dan menghormati pendapat orang lain.

Di level SMA dan Perguruan Tinggi

Jika di level Taman Kanak-kanak dan pendidikan dasar, peserta didik berpendapat untuk ikut menentukan kebijakan di level kelas, maka pada level sekolah menengah dan perguruan tinggi peserta didik pendapat peserta didik ikut menentukan kebijakan di level sekolah.

Namun di level ini, menggunakan sistem perwakilan. Apabila ada rapat sekolah, perwakilan kelas diundang untuk memberikan pendapat pada rapat tersebut.

Perwakilan peserta didik perkelas ini dipilih secara demokratis. Peserta didik yang berminat untuk mewakili kelasnya dipilih oleh peserta didik pada kelas tersebut. Peserta didik yang berminat untuk menjadi wakil kelas biasanya memiliki rasa percaya diri dan mengajukan diri untuk menjadi perwakilan kelas.

Ketika tiba giliran calon terpilih mewakili kelasnya, peserta didik yang terpilih, mengemukakan apa pendapat yang akan mereka sampaikan pada rapat di level kelas terlebih dahulu. Pada kesempatan ini peserta didik lainnya dapat memberi saran atau pendapat untuk melengkapi atau bahkan mengganti pendapat sebelumnya.

Dengan sistem ini wakil peserta didik mengerti apa tugasnya dan para peserta didik dari kelas yang dia wakili juga yakin bahwa, wakil kelas yang dipilih, dapat menyampaikan apa saja keinginan kelas di level sekolah.

Baca Juga : Mendorong Lahirnya Undang-Undang Ketahanan Keluarga

Menurut Ratih, sistem seperti ini melatih proses demokrasi sejak dini. Inilah yang membuat masyarakat Finlandia sudah tidak asing lagi dengan sistem perwakilan yang mengurusi distribusi kekuasaan politik di negara mereka.

Sistem ini berlanjut hingga ke perguruan tinggi. Di perguruan tinggi, rapat yang dihadiri oleh perwakilan kelas ini dilakukan sebulan sekali, dihadiri oleh semua pihak mulai dari professor, peneliti, pengajar, bagian administrasi.

Itulah sekolah di Finlandia. Kematangan hidup demokrasi mereka telah dimulai bahkan sejak di taman kanak-kanak dengan cara menjadikan peserta didik mereka subjek pendidikan dari sekolah-sekolah mereka.

Eduers dapat membandingkan dengan praktek pendidikan kita. Di sekolah kita yang jadi subjek adalah guru, peserta didik masih jadi objek. Hingga kini, fokus kita masih pada upaya menuntaskan kurikulum, bukan pada pertumbuhan peserta didik sebagai pribadi.

Kita berharap kebijakan merdeka belajar yang salah satu cita-citanya membuat guru fokus pada peserta didik membuat sekolah-sekolah kita kembali ke rel nya; menjadi arena pertumbuhan utuh peserta didik sebagai pribadi.

Foto : ikons.id

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of