Depoedu.com-Di tengah tekanan geopolitik, inflasi, yang menyebabkan pertumbuhan ekonomi melambat, Singapura misalnya menutup 2025 hanya dengan pertumbuhan 4,8 persen. Pertumbuhan ini merupakan salah satu yang tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Pertumbuhan ini, tidak serta-merta diikuti dengan proses rekrutmen baru pada perusahan-perusahaan di tahun 2026. Sejak tahun 2022, meskipun ada pertumbuhan, namun perusahaan-perusahaan tetap menahan diri untuk merekrut karyawan baru.
Perusahaan-perusahaan percaya pada pertumbuhan ekonomi, tapi tidak percaya pada stabilitas kemampuan untuk membiayai dan permintaan ke depan akibat tekanan geopolitik dan inflasi. Perusahaan tidak menutup rekrutmen tetapi mengubah cara mereka merekrut.
Fokus perusahaan di Singapura dalam merekrut, bergeser dari jumlah orang ke efisiensi fungsi. Mengutip CNBC Indonesia, perusahaan-perusahaan di Singapura menerapkan strategi struktur “core-flex”, tetap mempertahankan tim inti karyawan, ditambah pekerja kontrak, freelancer sesuai kebutuhan, dengan mekanisme kerja proyek.
Artinya perusahaan-perusahaan tetap masih melakukan rekrutmen, namun sangat selektif. Hal ini berdampak pada proses rekrutmen. Siklus rekrutmen menjadi kian panjang. Dari sebelumnya yang hanya tiga tahap wawancara menjadi lima tahap wawancara, untuk memastikan rekrutmen benar-benar kompeten karena memiliki hard skills dan soft skills.
Itupun ketika direkrut hanya menjadi pekerja kontrak, menjadi freelancer pada proyek-proyek yang sedang dikerjakan oleh perusahaan. Setelah proyek selesai, status sebagai pekerja bisa berakhir atau tidak, sangat tergantung pada apakah perusahaan memiliki proyek baru yang memerlukan keahlian dan kompetensi yang dimiliki.
Ini bukan hanya tren di Singapura. Ini juga telah menjadi tren di perusahaan-perusahaan di Indonesia. Jika ini berhasil membuat perusahaan bertahan dari berbagai tekanan ekonomi, bisa jadi tren ini akan menjadi tren yang terus berlaku, karena berhasil membuat perusahaan bertahan dalam berbagai situasi sulit.
Baca juga : Sikapi Cuaca Ekstrem, Sekolah di DKI Jakarta Boleh Lakukan PJJ
Antisipasi lembaga pendidikan
Di tengah gempuran dampak geopolitik, inflasi, risiko rantai pasok dan dampak kehadiran AI, proses rekrutmen pekerja masih terjadi di perusahaan-perusahaan. Namun rekrutmen ini berlangsung dalam proses yang kian panjang, untuk menemukan dan merekrut tenaga kerja yang memiliki keahlian, kompetensi dan soft skills yang dibutuhkan perusahaan.
Perkembangan ini harus disikapi dan menjadi orientasi pembenahan dan pengembangan di dunia pendidikan kita. Mutu proses pengajaran dan pendidikan kita harus dibenahi. Pengajaran di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi kita harus berkesinambungan, terutama dalam hal pengembangan hard skills dan soft skills.
Hard skills berkaitan dengan kompetensi inti, keahlian yang spesifik, teknis, diperoleh melalui pendidikan formal dan pelatihan, untuk menangani pekerjaan teknis atau profesional. Misalnya seorang sarjana teknik sipil harus menguasai desain struktur bagunan, analisa struktur, manajemen konstruksi, perencanaan, hidrologi, hidrolika dan geoteknik.
Sedangkan soft skills adalah kemampuan manusiawi yang non-teknis, yang terkait dengan kepribadian, sikap dan perilaku seseorang dalam berinteraksi dengan orang lain di lingkungan kerja. Misalnya empati, kemampuan komunikasi efektif, berpikir kritis, kreativitas, time management, kerja tim, problem solving, kemampuan beradaptasi, dan kepemimpinan.
Penguasaan kemampuan soft skills ini penting untuk melengkapi kemampuan hard skills agar seorang pekerja bisa lebih produktif, mampu menjalin hubungan interpersonal, yang membuat seseorang sukses bekerja secara profesional.
Jika sekarang seorang pekerja harus menguasai hard skills dan soft skills, maka dunia pendidikan sejak dari pendidikan dasar perlu berbenah. Masalah mendasar seperti praktik pengajaran yang hanya mengembangkan kemampuan kognitif tingkat rendah menurut Taksonomi Bloom, harus dibenahi.
Pembelajaran sejak dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi harus mencakup ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotor. Selama ini pengajaran di kelas-kelas kita hanya menyangkut ranah kognitif. Itupun kognitif tingkat rendah seperti pengetahuan. Belum menyentuh aspek pemahaman, penerapan, apalagi analisis, sintesis dan evaluasi.
Baca juga : Diduga Hampir 50 Persen Anggota DPR Periode 2024-2029 Berpendidikan SMA ke Bawah
Harusnya semakin tinggi tingkat pendidikan, ranah yang dikembangkan semakin tinggi. Misalnya pada ranah kognitif, seharusnya tidak hanya menyentuh aspek pengetahuan, melainkan mulai menyentuh aspek pemahaman, penerapan, analisis, bahkan sintesis dan evaluasi.
Bahkan harusnya dua ranah yang lain, yakni ranah afektif dan ranah psikomotor juga dikembangkan secara aktif di sekolah dan perguruan tinggi kita. Untuk pengembangan ranah afektif dan psikomotor, pembelajaran harus memberi ruang yang lebih luas bagi peserta didik/mahasiswa untuk lebih aktif.
Peserta didik/mahasiswa harus dilibatkan sejak dari proses perencanaan, bahkan hingga evaluasi proses. Proses belajar tidak hanya dibatasi oleh dinding kelas melainkan ditarik keluar kelas. Proses ini membuka ruang untuk berinteraksi lebih luas antara siswa/mahasiswa, untuk berinteraksi di antara sesama mereka, juga dengan masyarakat.
Pembelajaran yang semata-mata akademis untuk penguasaan sejumlah pengetahuan, tidak lagi relevan. Sekolah dan perguruan tinggi harus lebih berani mengembangkan model pembelajaran lintas disiplin dan koneksi antar bidang ilmu pengetahuan dalam kelompok-kelompok.
Di Indonesia, gagasan semacam ini sudah sangat sering diperkenalkan dari kurikulum ke kurikulum. Oleh karena itu guru sangat sering mengenal gagasan ini daripada mempraktikkannya di kelas-kelas. Dulu ada kurikulum Cara Belajar Siswa Aktif, ada Kurikulum 2013, ada Kurikulum Merdeka yang intinya memperkenalkan gagasan ini.
Oleh karena itu, mari kita kembali ke gagasan-gagasan pengajaran ini. Para peserta didik /mahasiswa kita tidak hanya menguasai hard skills tetapi juga sekaligus aneka soft skills seperti empati, komunikasi efektif, berpikir kritis, kreativitas, time management, kerja tim, problem solving, kemampuan adaptasi dan kepemimpinan.
Karena ini adalah tuntutan pemberi kerja saat ini. Dan ini harus dikembangkan secara berkesinambungan sejak dari Sekolah Dasar hingga Perguruan Tinggi. Tanpa penguasaan hard skills dan soft skills yang solid, sarjana-sarjana kita tidak akan bisa menerobos tren rekrutmen seperti yang kami gambarkan di awal tulisan.
Foto: Mekari Talenta
