Memiliki Anak Berkebutuhan Khusus, Adalah Berkat Bukan Aib

Family Talk
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com: Sebagai orangtua yang memiliki anak berkebutuhan khusus (ABK), anak itu hadir ke dunia merupakan sosok yang adalah berkat bukanlah aib. Ini disampaikan oleh Simon Petrus Rafael dalam talk show yang dilakukan secara daring oleh Komunitas Pria Katolik (KPK) Santa Helena Minggu, 25 Oktober 2020.

“Saya sebagai ayah dalam proses menjalani kehidupan sebagai kepala keluarga, bisa mengelola konflik, membuka diri, memaafkan dan melakukan rekonsiliasi,’’ demikian dikatakan ayah 2 anak ini.

KPK St Helena, paroki Curug, ini dipimpin oleh Andi Janto Singgih yang secara berkala melakukan kegiatan yang melibatkan umat bukan hanya di paroki St Helena tapi juga dari paroki lain bahkan dari Surabaya, Malang dan  Bandung. Talk show ini dipandu oleh Heri Isyono.

Simon menceritakan Ello, anak pertamanya lahir pada tahun 2007 dan ia mengakui Ello sama dengan anak-anak lainnya. Selanjutnya pada usia dua tahun (2009) Ello menunjukkan sikap menarik diri dari kedua orangtuanya.

Baca juga: Cermati Tiga Gangguan Belajar Yang Mungkin Terjadi Pada Anak

Dari sikap yang ditunjukkan, kemudian membawa Ello ke terapis untuk menjalani suatu proses yang dapat melatih kemampuan Ello karena ditengarai ia mengalami autis (kategori menengah).

Beberapa sikap yang ditunjukkan menandakan bahwa Ello mengalami hal itu. Salah satu di antaranya adalah kurang fokus dalam menerima suatu respons.

Ketika menghadapi hal ini istrinya yang sebelumnya bekerja di sebuah lembaga pendidikan, memilih untuk berhenti sedangkan Simon masih tetap memilih bekerja sebagai pelatih guru-guru, sebagai motivator.

Awal mengetahui anaknya sebagai ABK keluarga ini mengalami proses denial (penyangkalan), sekitar tahun 2009 – 2010. Namun secara perlahan pasangan suami istri ini semakin menyadari bahwa melakukan suatu untuk mengatasi anaknya yang mengalami hambatan. Mereka ingin melakukan terbaik untuk “buah hati” mereka.

Tahun 2011 Simon dan istrinya mulai perlahan menerima, mereka mulai melakukan pendampingan dan terus memberikan perhatian termasuk asupan makanan yang perlu dikonsumsi dan jenis makanan yang harus dihindari.  Makanan tertentu yang dihindari itu misalnya es krim atau makanan lainnya yang memiliki kandungan gula yang tinggi.

Selain pendampingan Simon membawa puteranya ke suatu Komunitas Hati Kudus Yesus (HKY), sebuah komunitas Rosario yang giat melakukan untuk dapat menolong anak – anak yang memiliki pribadi yang unik.

Saat puteranya memasuki sekolah, ada sekolah yang menolak karena kondisi anaknya autism. Bahkan suatu ketika ia mengantar anaknya untuk mendaftar di sekolah, kepala sekolah dengan sangat tidak ramah, menerima anaknya dengan alasan, anaknya mengalami autism.

Namun di sekolah yang lain Simon dan anaknya diterima dengan sangat baik di SD itu dan sekolah itu menerimanya sampai dengan kelas enam (SD). Bahkan setelah menamatkan pendidikan di SD tersebut Simon memiliki kesan  puteranya itu dilayani dengan baik oleh kepala sekolah, para guru dan seluruh komponen pendidikan di sekolah tersebut.

Baca juga: Anak Laki-Laki Yang Bermimpi Buruk

Ada suatu pernyataan dari lembaga pendidikan itu, kata Simon, ia sangat berterima kasih atas kehadiran Ello sebagai anak yang autism dan menyelesaikannya pendidikannya dengan baik. “Lewat hadirnya Ello, kepala sekolah, guru-guru bisa belajar banyak hal tentang kesabaran, melayani anak dengan memiliki kebutuhan khusus,’’ kata Simon menirukan ucapan kepala sekolah.

Menjawab pertanyaan peserta webex tentang keterampilan, Simon menjelaskan puteranya lambat merespons apa yang diterimanya. Dikatakan, anaknya dalam perkembangan kurang fokus untuk memperhatikan.

Kemampuan lainnya, puteranya itu memiliki hobi menggambar, setiap kali bepergian bersama anaknya, ketika melihat gedung yang tinggi besar biasanya setibanya di rumah ia menggambar kembali gedung yang dilihatnya. Selain itu kesukaan lain Ello adalah menyanyi dan bermain musik.

Ketika masih ada pandemi yang sedang melanda negeri ini, Ello yang kini duduk di SMP harus mendapatkan pendampingan kedua orangtuanya. Menyadari kemampuan anaknya baik Simon maupun istrinya  setia mengajarkan putera mereka. “Kalau saya bidang  sosial  sedangkan istri saya bidang  Matematika ,’’ kata Simon .

Talk show ini menyadarkan bahwa betapa pentingnya memberi perhatian terhadap anak yang berkebutuhan khusus (ABK). Respons seluruh peserta begitu luar biasa karena Simon sebagai kepala keluarga mendampingi putera pertamanya yang dikenal memiliki keterbatasan.

 Awal Oktober lalu Paus Fransiskus menandatangani Ensiklik yang ketiga yang dikeluarkannya sejak menjadi pemimpin gereja Katolik. Judul ensiklik Fratelli tuti yang berarti Semua Saudara.

Baca juga: The Power Of Thought (Kekuatan Pikiran)

Talks show ini juga sesungguhnya mengajak seluruh umat, siapa pun yang hidup bersama, memiliki anak yang berkebutuhan khusus, ada tempat agar mereka bisa dilayani dan mendapatkan haknya seperti umat beriman lainnya yang tidak memiliki keterbatasan.

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of