Bagaimana Orang Tua Melatih dan Menumbuhkan Keberanian Anak

Family Talk
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com – Keberanian adalah keteguhan hati untuk memilih menghadapi resiko menderita, bahaya, rasa sakit, ketidakpastian dan intimidasi, untuk mewujudkan sesuatu yang dianggap bernilai.

Keberanian merupakan salah satu ciri kualitas kepribadian yang melekat pada pribadi seseorang. Ia merupakan hasil belajar, baik secara sadar ataupun tidak sadar.

Tantangan hidup anak-anak ke depan tidak ringan. Anak-anak memerlukan keberanian untuk menghadapinya.

Baca Juga : Kegagalan Mengerjakan Satu Soal Matematika Yang Mengubah Hidup Jeff Bezos, Founder Dan CEO Amazon

Oleh karena itu, orang tua perlu secara sadar mengupayakan pendidikan keberanian tersebut kepada anak-anak. Sehingga, keberanian menjadi kualitas yang melekat pada pribadi anak-anak.

Saya mengusulkan kerangka pengembangan keberanian pada anak dengan mengutip Asriana Kibtiyah dalam bukunya yang berjudul Menjadi Orang Tua, yang terdiri dari empat hal sebagai berikut :

  1. Beri kepercayaan pada anak

Pada dasarnya, setiap anak memiliki potensi untuk percaya diri. Potensi ini kemudian bisa berkembang atau malah berkurang tergantung pada pengaruh yang ia terima dari lingkungannya.

Tokoh yang paling berpengaruh adalah orang tua. Jika sejak kecil, anak dipercaya oleh orangtuanya, rasa percaya diri anak akan berkembang.

Tapi jika orang tua sangat protektif, anak serba dilindungi agar tidak celaka, atau tidak yakin bahwa anaknya mampu, anak serba dilarang.

Baca Juga : Mengenal Kecerdasan Dan Karakter Anak

Akibatnya anak kehilangan peluang untuk melakukan hal yang harus ia lakukan di usia perkembangannya. Maka rasa percaya diri anak tidak tumbuh.

Ini akan menghambatnya ketika ia memasuki usia sekolah. Ia akan tidak siap secara sosial ketika harus berani mengambil keputusan, melakukan atau tidak melakukan sesuatu dalam partisipasi sosialnya.

Pada hal partisipasi anak di sekolah menjadi cikal bakal yang sangat penting bagi anak untuk belajar menjadi lebih berani.

  1. Jangan suka mencela anak

Celaan biasanya berisi pesan negatif. Pesan negatif tidak hanya menyakitkan anak secara mental, tetapi juga melemahkan rasa percaya diri anak. Oleh karena itu para psikolog mengkategorikan celaan sebagai kekerasan psikologis.

Pada banyak kasus, celaan bukan saja dialami anak pada saat anak ceroboh dan gagal. Pada saat berhasil pun anak bisa dicela. Ini terjadi karena ketidak-matangan dan ketidak-dewasaan orang tua dan guru.

Jika rasa percaya diri tumbuh karena praktek komunikasi yang positif dari orang tua, dan guru, maka akan menjaid cikal bakal tumbuhnya keberanian pada diri anak.

  1. Latih anak untuk mengambil keputusan sendiri

Ada banyak situasi di mana anak bisa sedini mungkin dilatih untuk mengambil keputusan. Mulailah dari hal-hal yang sederhana.

Misalnya pada hari libur, anak bisa diajak mengambil keputusan tentang besok dia mau bangun jam berapa. Setelah diputuskan jamnya, kemudian apa yang bisa ia lakukan supaya bisa benar-benar bangun pada jam yang ia tentukan. Bisa dengan menyetel alarm atau tindakan lainnya.

Atau pada saat habis mandi, biarkan anak memilih pakaiannya sendiri. Apabila ia diajak ke tempat bermain, biarkan dia untuk memilih mainannya sendiri.

Baca Juga : Warna Dan Karakter Diri

Pada saat makan di restoran, anak diiizinkan untuk memilih menu yang disukai.

Jika dari kacamata orang dewasa, opsi yang ia pilih berbahaya orangtua perlu mendiskusikannya dengan anak. Dialog yang baik dengan anak tidak hanya menjadi area bagi anak belajar mengambil keputusan, namun juga membuat anak jadi lebih dekat dengan orang tua.

  1. Beri penghargaan jika anak menunjukkan keberanian

Jika kita menganggap keberanian adalah sebuah nilai yang penting, maka ketika keberanian itu dipraktekkan oleh anak dalam tindakan, orang tua dan guru harus mengapresiasinya.

Dalam mengapresiasi tentu saja orangtua menggunakan ukuran anak. Itu artinya jika ada tindakan berani dari anak meskipun terkait hal yang sederhana, orang tua harus mengapresiasi.

Jadi ukuran yang digunakan bukanlah standar untuk mengukur keberanian orang dewasa.

Baca Juga : Pentingnya Pembekalan Pendidikan Karakter Pada “Generasi Emas”

Ini adalah satu prinsip penting untuk penguatan karakter. Karena apresiasi itu, membuat anak mengulang perilaku itu kembali, ketika situasinya memungkinkan.

Para psikolog mengatakan bahwa ketika apresiasi itu muncul segera setelah sebuah keberanian dipraktekkan, maka akan terjadi pengulangan. Pengulangan perilaku berani pada akhirnya membentuk kebiasaan berani. Kebiasaan dalam bertindak berani, itulah  karakter.

Jika keempat hal ini dilakukan oleh orang tua di rumah dan guru sebagai mitra orang tua di sekolah  maka, anak-anak berani akan lahir dari keluarga dan sekolah-sekolah kita. Masa depan negeri ini ada di tangan mereka.

Foto : halosehat.com

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of