Mengubah Perasaan Negatif dengan Overthinking

Family Talk
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com: Setiap kita tentu pernah mengalami perasaan negatif, entah itu marah, jengkel, kecewa, sedih, benci, dan lain-lain. Perasaan itu pun muncul karena  adanya respon penolakan kita terhadap pengalaman atau kejadian yang kita alami.

Misalnya kecewa karena dicuekin, sedih karena dibentak, benci karena dikhianati, tertekan karena ditekan dan berbagai pengalaman negatif lainnya.

Perasaan negatif ini muncul karena kita tidak menerima pengalaman tersebut. Kita menolak dengan tegas pengalaman itu dan jika diberi kesempatan untuk memutar waktu, mungkin kita memilih untuk tidak melakukan sesuatu yang cenderung mengarahkan kita kepada pengalaman tersebut.

Terkadang pengalaman yang menyakitkan tersebut membuat kita menjadi berpikir negatif dan bahkan  mengutuk orang lain yang kita persepsikan sebagai penyebab atas perasaan negatif yang kita alami.

Baca juga: 7 Cara Membuat Diri Lebih Bermotivasi Positif Setiap Hari

“Gara-gara dia saya menjadi seperti ini”, “Seharusnya saya tidak bertemu dengannya”, “Seharusnya saya menghindar saja” dan berbagai ungkapan lain yang seolah-olah menjadi pernyataan pembenaran dan penyesalan.

Dari berbagai pengalaman yang memunculkan perasaan negatif, ternyata perasaan negatif tersebut bisa diredahkan intensitasnya atau bahkan dihilangkan  dengan overthinking.

Lalu, kemudian kita mungkin akan bertanya, ko bisa diredahkan dengan overthinking? Bukankah semakin overthinking, orang akan semakin menjadi tidak nyaman? Bagaimana mungkin sesuatu yang dipikirkan secara berlebihan bisa meredahkan atau bahkan menghilangkan perasaan negatif itu sendiri?

Overthinking yang saya maksudkan di sini lebih ditujukan kepada penyebab, bukan berfokus pada perilaku yang tampak. Orang cenderung berlarut-larut dalam perasaan negatif karena hanya berfokus pada apa yang tampak, bukan pada penyebab dari perilaku yang tampak.

Sebagai contoh ketika si A menjumpai seseorang. Si A sudah berusaha untuk menyapa, memberikan senyum akan tetapi balasan atas perilaku si A hanyalah sorotan mata yang tajam, seakan penuh dendam tanpa ada sepatah kata pun, dan bahkan orang tersebut memalingkan wajah. Padahal jelas, orang itu melihat si A sedang menyapanya.

Sebagai manusia normal, mungkin si A akan merasa jengkel. “Ini orang kenapa ya? Sudah disapa baik-baik, tapi ko malah judes gitu. Apalagi sorotan matanya, seolah-olah penuh dendam. Jangan harap lain kali saya  menyapanya lagi, toh responsnya juga seperti itu”.

Dari kasus tersebut, si A hanya berfokus pada apa yang tampak. Si A tidak mencoba untuk melihat apa yang menjadi penyebab orang tersebut tidak membalas sapaannya. Ujung-ujungnya, si A menjadi jengkel dan memilih untuk tidak menyapanya lagi.

Jika kita menjumpai kasus yang serupa dengan apa yang dialami si A, maka kita perlu berpikir overthinking dan orientasi overthinking ini harus menuju pada penyebab, bukan kepada apa yang tampak. Misalnya “Mungkin orang itu tuli”, “Mungkin orang itu sedang bermasalah dan banyak pikiran, sehingga dia menjadi asyik dengan pikirannya.” “Mungkin suara saya terlalu kecil, sehingga tidak didengar olehnya”.

Mengapa pernyataan di atas saya katakan sebagai overthinking? Alasannya sederhana, karena diadakan dan dilebih-lebihkan. Kita menciptakan sendiri kemungkinan-kemungkinan penyebab tersebut. Padahal belum tentu hal itu benar-benar terjadi, atau menjadi motivasi orang melakukan sebuah tindakan. Namun hal ini cukup membantu untuk meredahkan bahkan menghilangkan rasa jengkel tersebut.

Lalu apa perbedaan antara overthinking dengan berpikir positif? Sesungguhnya, berpikir positif merupakan bagian dari overthinking, karena di dalam overthinking terdapat juga pikiran yang negatif.

Baca juga: Memperbaharui Relasi Dengan Pengalaman Negatif, Ketika “Lupa” Tak Membawa Hasil

Kemungkinan-kemungkinan penyebab yang kita ciptakan belum tentu berisi pernyataan-pernyataan positif saja, akan tetapi bisa juga berisi pernyataan yang negatif. Lihat saja pernyataan di atas “Mungkin saja dia sedang tuli”. Ini merupakan pikiran yang negatif, bukan pikiran positif.

Dalam banyak kasus yang lebih berat, kita juga bisa menerapkan overthinking ini. Ciptakan pikiran-pikiran yang berfokus pada penyebab, bukan pada apa yang tampak.

Misalnya, dalam sebuah kasus saya menjumpai seorang teman. Ia bercerita bahwa selama kehadirannya di tempat kerja, ia bahkan belum menandatangani kontrak kerja.

Jika hal ini terus dibiarkan, ujung-ujungnya bisa jadi terjadi hal yang tidak terduga. Pemutusan kerja secara sepihak pun mungkin akan dilakukan. Walaupun sudah dijanjikan bahwa penandatangan kontrak itu pasti akan dilakukan.

Hal ini sudah menjadi pertaruhan antara ekonomi dan harga diri. Jelas tidak bisa digadaikan, hanya bisa diselesaikan dengan kepastian, yakni dengan menandatangani kontrak kerja tersebut.

Bayangkan bagaimana perasaan yang dirasakan teman saya ini. Mungkin saja jengkel, tidak tenang, tertekan, menjadi terbebani dan berbagai perasaan negatif lainnya.

Ia sudah berusaha menanyakan penandatanganan kontrak kerja, akan tetapi tidak mendapatkan kepuasan atas jawab yang diterimanya. “Silahkan ditunggu’. Begitu jawab yang menyebabkan berbagai perasaan negatif tersebut.

Dalam kasus seperti itu, cobalah untuk berfokus pada penyebab. Mengapa pihak yang memberi kontrak belum melakukan kewajibannya? Oke mari kita coba dengan pernyataan berikut ini:

 “Mungkin saja kontrak kerjanya sedang hilang dan sedang dalam proses pencarian”, “Mungkin saja pihak yang berwenang sedang disibukkan dengan berbagai aktivitas lainnya sehingga menjadi terlambat dalam penandatangan”, “Mungkin saja…. mungkin saja dan mungkin saja…”.

Baca juga: Seni Mencintai Diri Di Tengah Pandemi Covid-19

So, fokuslah pada apa yang menjadi penyebab, walaupun terkadang terdengar tidak realistis. Namun hal ini sungguh akan meredahkan perasaan negatif tersebut. Bahasa sederhananya, memaklumi saja. Jika realitanya tidak sesuai dengan apa yang dipikirkan, maka kita perlu melakukan penerimaan dan berefleksi atas kejadian yang menimpa kita.

Bisa saja perilaku orang yang membuat kita jengkel, marah, sedih kecewa dan lain sebagainya disebabkan juga karena perilaku kita terhadap mereka, yang tidak kita sadari dan bahkan sudah melukai orang lain.

Terkadang orang cenderung berubah perilakunya bukan karena mereka benar-benar ingin berubah, tapi karena perilaku kita terhadap mereka, hingga kemudian menjadikannya.

Sumber foto: rencanamu.id

Penulis Adalah Guru Pada SMP Kolese Kanisius Jakarta Pusat

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of