Tidak Hanya Bela Diri Fisik, Ternyata Ada Juga Bela Diri Psikis

Bimbingan
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com: Secara alamiah, masing-masing kita mempunyai bentuk pembelaan diri secara psikis. Pembelaan diri itu pun muncul di saat kita merasa terancam atau di saat kita sedang merasa tidak nyaman.

Dalam situasi tertentu, terkadang kita cenderung menyembunyikan sesuatu, entah itu mengenai pikiran atau perasan yang kita alami. Hal ini terjadi karena kita tidak ingin orang lain mengerti, atau memahami apa yang sebenarnya terjadi pada diri kita.

Kita takut orang lain mengetahui keadaan psikis kita, karena hal tersebut bisa menimbulkan rasa tidak nyaman. Sehingga untuk mengatasi hal tersebut, kita pun akhirnya melakukan pertahanan secara psikis. Pertahanan psikis yang dilakukan merupakan perilaku yang tidak disadari. Ia muncul secara spontan dan ini merupakan reaksi alamiah.

Baca juga: Menjadi Seutuhnya Di Tengah Pandemi Covid-19

Tulisan kali ini mencoba mengajak pembaca untuk mengetahui bentuk pembelaan terhadap diri atau mekanisme pertahanan diri berdasarkan kaca mata psikoanalisa Sigmund Freud. Mekanisme Pertahanan Diri (MPD) tersebut di antaranya, sbb:

1. Represi

Terkadang ketika mengalami perasaan tidak nyaman, kita biasanya berusaha me-repress atau menekan perasaan itu ke dalam diri (ke dalam alam bawah sadar).

Misalnya rasa tidak nyaman ketika berbohong dengan siapa saja, katakanlah dengan orang tua. Kita pamit untuk belajar, akan tetapi yang kita lakukan adalah nongkrong di kafe ataupun melakukan sesuatu yang lain.

Kita kemudian mengatakan terhadap diri kita bahwa “Aduh, semoga aman dan tidak ketahuan”, “Semoga semuanya akan baik-baik saja”.  Ungkapan kalimat ini merupakan bentuk pertahanan diri yakni represi.

Kita berusaha untuk mengurangi perasaan tidak nyaman dengan me-repress atau menekannya dengan beberapa ungkapan kalimat tersebut, yakni semoga tidak ketahuan. Namun ungkapan ini akan masuk ke dalam alam bawah sadar kita.

Kalimat semoga aman dan tidak ketahuan tersebut sewaktu-waktu akan muncul kembali ketika kita bertemu dengan orang yang kita bohongi. Ia hadir dalam bentuk salah tingkah atau keliru ucap

Bentuk keliru ucap bisa kita jumpai dalam pernyataan berikut ini: “Anu Pak/Bu, tadi itu….. (sambil garuk-garuk kepala)”, “Pak saya minta maaf ya” “Loh ko minta maaf, emangnya kamu salah apa” “Pokoknya aku minta maaf aja”.

Ungkapan kalimat ini hadir secara spontan sebagai akibat dari penumpukan alam bawah sadar, yang membuat kita terkadang merasa tidak nyaman atau merasa bersalah. Teman-teman juga tentu tidak asing bukan dengan ungkapan “Mohon maaf lahir dan batin”?

Ungkapan maaf ini menandakan bahwa adanya sesuatu yang telah disembunyikan di waktu yang lalu, yang masuk dan bertumpuk-tumpuk ke dalam alam bawah sadar. Karena menemukan waktu dan jalan yang pas untuk mendistribusikannya, maka ia pun akan melakukannya secara spontan dalam bentuk keliru ucap maupun salah tingkah.

2. Pembentukan reaksi

Ketika kita merasa jengkel ataupun tidak nyaman dengan berbagai perlakuan orang-orang di lingkungan sekitar, kita pun berusaha untuk mengurangi perasan negatif tersebut. Akan tetapi perilaku yang kita tunjukkan berlawanan dengan apa yang kita rasakan.

Hal ini terjadi karena kita takut ditolak ketika hendak mengungkapkan perasaan yang sebenarnya. Kita berusaha menutup rapat perasaan itu.

Baca juga: Seni Mencintai Diri Di Tengah Pandemi Covid-19

Misalnya ketika kita berlaku baik dan sopan terhadap guru, dosen, teman, atasan dan bahkan saudara/i kita di rumah. Padahal sebenarnya kita tidak menyukai mereka, bahkan mungkin ada perasan benci terhadap mereka.

Hal ini juga bisa berlaku sebaliknya. Kita bisa saja menyukai seseorang, akan tetapi kita menunjukkan perilaku seolah-olah kita sangat membencinya.

Inti dari pembentukan reaksi ini adalah, adanya perilaku yang berlawanan dengan perasaan yang dialami.

Pembentukan reaksi ini sama saja dengan tulisan sebelumnya terkait Sisi Gelap Dan Topeng Yang Membalutinya; Maka Buka Dulu Topengmu Dalam tulisan tersebut dijelaskan terkait penggunaan persona atau topeng yang dikenakan sebagai wajah sosial yang kita tampakkan ketika berelasi dengan orang lain.

3. Pengalihan

Pengalihan bisa disederhanakan dengan pelampiasan. Pelampiasan ini biasanya terjadi karena kita tidak mampu mengungkapkan perasaan kita secara langsung terhadap orang yang menyakiti kita, atau orang yang tidak kita sukai.

Semisal di sekolah ataupun di tempat kerja. Kita mendapatkan teguran dari atasan kita. Kita dimarahi habis-habisan oleh mereka. Karena kita tidak memiliki kekuatan untuk melawan secara langsung, kita pun kemudian melampiaskan rasa jengkel itu terhadap orang-orang di sekitar.

Entah itu ke adik ataupun keluarga kita yang lain. Kita mulai marah-marah ngga jelas terhadap mereka sewaktu pulang dari tempat kerja. Kita merasa memiliki otoritas atas diri mereka. Kita pun melampiaskan rasa jengkel tersebut yang seharusnya ditujukkan kepada atasan.

4. Fiksasi

Fiksasi ini bisa saya katakan sebagai perilaku yang tetap berada pada zona nyaman. Misalnya beberapa waktu yang lalu, saya menjumpai seorang rekan kerja. Dia berpendapat seperti ini:

“Pak, saya itu ngga mau yang ribet-ribet, cukup menggunakan aplikasi zoom dalam bekerja saja sudah cukup”.

Nah, rekan kerja saya ini sebenarnya sedang melakukan fiksasi. Bisa dikatakan bahwa rekan kerja saya ini mengalami kesulitan untuk mempelajari media lain. Dia sudah nyaman dengan aplikasi zoom yang dia gunakan, dan dia tidak ingin mencoba hal baru.

Agar tidak ingin ketahuan bahwa sebenarnya ia tidak bisa dan sangat kesulitan dalam mengopreasikan media lain selain zoom, akhirnya dia pun berpendapat bahwa aplikasi zoom lebih efektif. Dia berusaha melindungi dirinya agar tidak ketahuan.

Ungkapan bahwa zoom lebih efektif merupakan bentuk pembelaan terhadap diri, yakni fiksasi atau adanya kelekatan terhadap sesuatu yang telah menimbulkan kenyamanan.

5. Regresi

Regresi terjadi ketika kita kembali kepada tahap perkembangan sebelumnya. Ada kemunduran dalam perkembangan karena ketidaksiapan dengan perkembangan saat ini. Bahasa sederhananya si belum bisa move on.

Sebagai contoh saya menjumpai seorang teman. Dia pernah menghabiskan beberapa tahun kehidupan di Jogja, akan tetapi saat ini ia sudah kembali menetap di kampung halamannya. Karena mengalami banyak masalah dan stress dengan kehidupan saat ini, ia pun memutuskan untuk berpergian ke Jogja.

Ada kenyamanan yang dia temukan sebelumnya di Jogja, akhirnya membawanya ke sana, dengan tujuan untuk mengurasi stress dialami. Belum bisa move on.

Baca juga: Memperbaharui Relasi Dengan Pengalaman Negatif, Ketika “Lupa” Tak Membawa Hasil

Regresi ini terjadi karena adanya keinginan untuk kembali menemukan kenyamanan di kehidupan sebelumnya, karena kehidupan yang dijalani sekarang dipenuhi dengan banyak tantangan dan masalah.

Sederhananya, orang yang melakukan regresi adalah orang yang belum siap untuk memenuhi tugas perkembangan saat ini, atau menghadapi dan mengatasi masalah yang seharusnya dihadapi.

Hal ini juga banyak kita jumpai pada diri orang dewasa, yakni berperilaku seperti seorang anak kecil. Stress menjalani kehidupan sebagai orang dewasa, hingga akhirnya memilih berperilaku seperti seorang anak kecil, suka merengek dan selalu ingin dimanjakan. Ini adalah bentuk regresi.

6. Proyeksi

Proyeksi atau adanya pemantulan. Sederhananya melampiaskan apa yang ada pada diri kita ke orang lain. Hal ini terjadi karena kita tidak ingin disalahkan. Jadi selalu ada orang lain yang dijadikan objek untuk disalahkan.

Apa yang ada pada diri, kita diarahkan pada orang lain. Sebagai contoh di saat kita mendapatkan nilai yang rendah di sekolah. Ketika ditanyai oleh orang tua, kita kemudian menyalahkan guru ataupun dosennya dengan mengatakan:

 “Ah, dosen itu ngajarnya ngga jelas”, “Dosen itu ngasih soal ngga sama dengan apa yang diajarkannya”.

Selalu ada orang lain yang disalahkan. Yang ada pada diri kita, kita limpahkan kepada orang lain.

Contoh lain juga bisa kita jumpai dalam kasus berikut ini. Ada seorang laki-laki bernama Bani. Ia sangat menyukai seorang perempuan bernama Agnes. Ia pun kemudian menyatakan perasaannya kepada Agnes.

Mendengar jawaban dari Agnes yang tidak memuasakan, Bani pun kemudian melakukan proyeksi. Agar tidak ingin ketahuan teman-teman bahwa sebenarnya ialah yang ditolak oleh Agnes, Bani pun mengeluarkan statement bahwa:

“Ah, justru aku yang nolak dia, belum pernah aku ditolak sama perempuan. Lagian Agnes yang sukanya ngejar aku,”. Padahal kenyataanya si Banilah yang ditolak oleh Agnes.

7. Introyeksi

Introyeksi ini adalah lawan dari proyeksi. Kita berusaha mengadopsi nilai,  gaya atau perilaku orang lain. Misalnya ketika mendapatkan nilai yang jelek. Ketika ditanyai oleh orang-orang terdekat, katakanlah orang tua, kita berusaha membela diri dengan mengadospi perilaku orang lain.

“Dek, ini ko nilaimu jelek sekali”. Terus kemudian kita pun menjawab “Lah kaka juga nilainya jelek Bu, masa aku ngga boleh” “Temen-temenku juga banyak ko Pak, Bu yang nilanya jelek”.

Contoh lain juga bisa kita jumpai dalam pasangan muda mudi. Misalnya ada seorang perempuan yang marah kepada pacarnya karena seharian tidak membalas pesan atau telfonnya. Untuk membela diri, si cowok kemudian melakukan introyeksi dengan mengatakan”Minggu kemarin pesan dan telfon saya juga diabaikan, masa saya ngga boleh”

8. Sublimasi

Kita mencoba untuk menyalurkan perasaan-perasaan yang negatif ke dalam perilaku yang positif.

Misalnya ketika kita merasa marah, jengkel ataupun kecewa, kita kemudian menyalurkan perasaan negatif itu dengan melukis, menyanyi, menulis, membaca, dll.

Kita pun mencoba mendistribusikan perasaan negatif ke dalam bentuk perilaku yang positif.

Baca juga: Warna Dan Karakter Diri

9. Rasionalisasi

Dalam rasionalisasi, kita berusaha mencari alasan untuk menutupi kesalahan-kesalahan kita. Misalnya “Loo kamu ko telat datang ke sekolah” “engga pak, tadi itu dalam perjalanan ban motor saya gembos, jadi saya perlu ke bengkel terlebih dahulu” Padahal kenyataan ban motornya ngga bocor, dianya saja yang telat bangun.

“Kamu ko ngga ngelanjutin buat sekolah lagi, nanti mau jadi apa?”. Untuk membela diri, orang yang mendapatkan pertanyaan seperti ini biasanya mengungkapkan alasan bahwa “Tidak semua orang yang sekolah bisa sukses, dan tidak semua orang yang tidak sekolah itu tidak suskses.

Ungkapan ini terdengar logis akan tetapi sebenarnya ada sesuatu yang ditutupi, yang tidak ingin diketahui orang lain, Misalnya malas untuk melanjutkan sekolah, ataupun karena keterbatasan ekonomi.

Intinya selalu ada alasan-alasan yang logis, untuk menutupi kesalahan yang ada pada diri kita masing-masing. Biasanya semakin cerdas seseorang, maka akan semakin kuat rasionalisasi yang digunakan. Hal ini terjadi karena pandai menciptakan alasan-alasan untuk membenarkan diri.

Sumber foto: novice-web.net

Penulis adalah Guru Pada SMP Kolese Kanisius Jakatra Pusat.

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of