From Fear to Freedom – Understanding Loneliness

Family Talk
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com – Hidup sepenuhnya adalah misteri. Berhadapan dengan seorang sahabat dalam  dukacita kehilangan suami tercintanya, pernyataan itu mendesakkan pengakuan. Segera tersadari nuansa keberatan sekaligus ketidak-berdayaan yang sungguh tidak mengenakkan. Ruang kelas masih sepi. Di sessi kursus Bahasa Inggris ini biasanya kami bertemu seminggu sekali.

Ini adalah pertemuan kembali, setelah absennya berturut-turut tiga kali. Berada bersamanya, berdua saja, bagaimana semestinya sikap saya? Ada keyakinan bahwa pernyataan apapun tak akan bisa sungguh meredakan. Bukankah saya sama sekali tidak berada di situasinya?

Hampir dua bulan berlalu dari saat segenap kami menghantar almarhum ke tempat peristirahatannnya yang terakhir, pulang pada Bapa yang mengasihi dan memanggilnya. Rangkaian upacara usai, si sulung kembali menempuh masa studinya di luar Indonesia, si bungsu kembali ke kostnya di Jakarta, yang tersisa hanyalah kesepian semata.

Di sini, duduk di sampingnya, tampak sosok yang hampir sepenuhnya beralih rupa. Senyum lepas, komentar spontan, dan celetukan ringan yang selama ini menandai kehadirannya,  seakan tak bersisa. Di wajah sayunya ada keletihan, tampak semakin berat saat ia mencoba menceritakan diri.

Betapa kepergian belahan jiwa sedemikian mengejutkannya. Tak ada tanda-tanda, almarhum sedemikian sehat, justru ia yang merasa jauh lebih lemah, dan lebih sering mengeluh. Mengusut ke belakang, kepergian ayah dan ibunya pada usia muda mereka, bertolak belakang dengan fakta kedua mertua yang panjang usia, sempat membuatnya percaya bahwa pada saatnya ia akan lebih dahulu pergi.

“Ada banyak teori dan keyakinan saya yang terpatahkan”, ujarnya lirih. Kali ini ia tak kuasa menahan tangis. “Rasanya sepi. Di mobil, saya menangis berkali-kali. Nggak ingin begitu, tapi seperti tak bisa menahannya….”.

Ia semakin terisak, menunduk dalam, lengannya menjangkau kedua tungkai kaki yang dirasanya lemah sekali.

Belum selesai sampai di situ, ia memperlihatkan perbincangan via gadget yang ia lakukan dengan kedua anaknya. Begitu kerap pertanyaan-pertanyaan kecemasan ia ajukan, tentang di mana mereka berada, apa yang sedang mereka lakukan, atau apapun.

Ada ketakutan terhadap sesuatu yang tidak bisa ia kenali wujudnya, tetapi sangat mencekam. Ia merasa seperti harus terus-menerus berjaga, bersiap untuk hal tak terduga yang seolah mengancamnya. Kondisi ini sangat menguras dayanya.

Waktu saja tak bisa membuat semua mereda. Ia berjuang begitu keras untuk hadiri pertemuan hari ini.  

Larut dalam duka citanya, berangsur saya sadari bahwa kegigihannya bertahan, dorongan untuk menyerah yang sanggup ia lawan, kekuatannya menjalani apa yang sepenuhnya tak dikehendaki, pilihannya untuk tidak berhenti, saat alasan untuk terus berjalan tidak dimiliki sama sekali, sungguh membuat kekaguman mengalahkan rasa iba dan kasihan.

Ia sangat layak menerima apresiasi. Dengan ijinnya, saya menemui guru kami, membuat sang guru mengetahui apa yang ia alami, terlebih tentang pergulatannya memaksa diri untuk hadir lagi setelah absen sekian kali. Lalu, sebagaimana berkali-kali terjadi di kelas kami, dari seorang Ezekiel Hattingh yang kami sapa Mr. Zeek, life lesson begins immediately.

Berawal dengan sapaan yang meneguhkan, sambutan atas kedatangan, penghargaan atas perjuangan yang dilakukan, yang berbuah kemenangan atas tekanan. Selanjutnya adalah ungkapan penegasan dengan rendah hati bahwa pemahaman terhadapnya akan terbatas sekali.

Pengalaman kehilangan seorang kawan dekat yang diungkapnya, ia akui berada tidak setara dengan ikatan antara sahabat kami dan suaminya, yang melampaui rentang usia dua dasa warsa.

Betapa fakta bisa jauh melampaui kemampuan akal budi mengolah, menganalisa, dan mencerna. Sementara, dengan pongahnya pikiran mau terus bekerja, mempertanyakan, hingga menyimpulkan semua.

Our mind is full of rules and boundaries”, ulasnya. Segala sesuatu harus bisa dijelaskan, mengapa demikian. Maka saat sejumlah teori dan keyakinan terpatahkan, pemahaman, apalagi penerimaan menjadi sangat berat diupayakan.

Adalah meditasi, yang menyeimbangkan kembali ketimpangan yang terjadi. Losing mind, being present, berada sepenuh-penuhnya kini dan di sini, because this moment is the only moment that exist. Melihat ke kedalaman diri, mengenali, memahami, dan berhenti di sini; tanpa pertanyaan, tanpa penjelasan, tanpa penilaian.

Apa pun yang dijumpai, dipahami sebagaimana adanya. There’s no right or wrong, there’s no good or bad (cause they created rule, prevent understanding), only understanding. Untuk pilihan yang tak biasa dan tak mudah ini, buahnya adalah awareness. We know it, cause we did it.

Lalu kami beranjak, mendalami sebuah fakta bernama kesepian, loneliness. Sebagai perasaan, sebagai keadaan, ini sepenuhnya tak menyenangkan. Hampa, kosong, sekaligus sakit, dan menekan.

Kami dituntun untuk mengenali bahwa kondisi ini dialami saat ada bagian dalam diri terhubung erat dengan sesuatu, yang kemudian hilang atau menjadi tiada.

Loneliness exist because there’s something in you that feels lonely, because there’s relation between something in you.

Pada kita ada kebutuhan untuk mengembangkan relasi dengan sesuatu, kebutuhan untuk hold on something, bisa sebuah keadaan, sebuah benda, sebuah keyakinan, atau juga sosok seseorang. Upaya pemenuhannya dalam rentang waktu yang cukup lama, berpeluang menjadikan kita terikat kepadanya, dan hidup dalam keterikatan itu.

Sementara kita mengalaminya sebagai sesuatu yang biasa. Menjadi luar biasa, saat itu tiada. Kehilangan pegangan, kita merasakan penderitaan. Apapun yang menjadikan kita terikat tersebut kemudian menciptakan pengalaman kesepian, loneliness.

Meditasi membantu kita menyadari proses ini secara keseluruhan. Keheningan, kesadaran penuh akan keberadaan diri di sini, saat ini, adalah kondisi yang dapat mengantar kita pada pemahaman utuh akan setiap pengalaman, termasuk pengalaman penderitaan, pengalaman kesepian.

Ibarat seseorang yang berusaha menemukan sesuatu dalam kegelapan, ia bersungguh-sungguh mencari benda itu, menggunakan alat penerang, hingga si benda ditemukan. Tepat pada saat itu, si benda sudah menjadi sesuatu yang disadarinya. Pemikiran tentang si benda dan upaya menemukannya tidak lagi ada. Maka, si benda tidak lagi punya kendali atas penemunya.

Demikian halnya dengan kesepian. Begitu ia menjadi sesuatu yang kita sadari, ia tidak lagi menguasai, ia tidak lagi pegang kendali. Maka fakta bahwa kita tidak lagi berada bersama dengan sesuatu yang membuat kita terikat padanya, tidak berdampak apa-apa, karena bahkan keterikatan itu pun tidak ada lagi.

Kita tidak lagi bersama sesuatu yang hilang itu,  namun pengalaman ini tidak lagi bernama loneliness, melainkan aloneness, sebuah fakta kesendirian yang membebaskan. Sebuah kondisi yang bahkan penuh daya : menjadi bebas dari ikatan, tidak dikuasai oleh apapun, tidak berada di bawah kendali apapun.

Dalam pengalaman sahabat kami, melampaui peristiwa kematian, sosok yang tiada bahkan bisa menjadi sepenuhnya hidup dalam dirinya. Betapa menakjubkan!

Tak ada seorangpun dari kami sanggup mengingkari kebermaknaan pembelajaran tak terencana ini. Dalam kondisi hidup kami yang satu sama lain sedemikian berbeda, apa yang kami peroleh mempunyai dampak yang sama dahsyatnya.

Melalui tulisan ini semoga setiap Eduers pun mengalaminya. Dan sebagaimana terjadi pada kami, Eduers pun dapat memperoleh insight daripadanya. ( Foto: akuinginsukses.com)

Sebarkan Artikel Ini:

2
Leave a Reply

avatar
2 Discussion threads
0 Thread replies
0 Pengikut
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
0 Comment authors
Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
trackback

[…] Baca Juga: From Fear to Freedom – Understanding Loneliness […]

trackback

[…] Baca Juga: From Fear to Freedom – Understanding Loneliness […]