Strategi Tepat Hadapi Kebohongan Si Kecil

Family Talk
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com – Orang tua sering kali keliru menyikapi kebohongan yang dilakukan buah hatinya. Akibatnya, anak tidak mendapatkan pelajaran yang tepat dari pengalaman berbohong mereka. Bagaimana harus menghadapi si kecil yang mulai berbohong ?

Insiden pecahnya vas bunga di ruang keluarga membuat Faris tak berkutik. Pasalnya, dia tak menyangka bola yang ditendangnya menerobos masuk hingga membentur vas bunga besar yang berada di pojok ruangan. Di tengah kepanikannya, si bungsu yang berusia 5 tahun ini hanya bias menggeleng ketika di berondong pertanyaan oleh ibunya.

Faris mengaku bukan dia yang menendang bola tersebut. Terbayang hukuman yang bakal diterimanya, hingga terpaksa membuatnya tidak berkata jujur dan mengakui kesalahannya.

Drama kebohongan yang keluar dari mulut si kecil memang sering kali tak bias dihindari. Selalu saja ada insiden yang membuatnya berdusta, demi terbebas dari hukuman akibat perbuatannya.

Selain menghindari hukuman menurut Yelia Dini Puspita, M.Psi, Psikolog, dari Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia, kebohongan dilakukan seorang anak untuk mendapatkan keuntungan, penyangkalan, agar diterima dalam pertemanan, merendahkan orang lain, mendapatkan perhatian, self-image yaitu jika anak meyakini bahwa ia adalah pembohong karena sudah ‘dicap’ sebagai pembohong oleh lingkungannya, karena orang tua tidak percaya sehingga membuat anak menganggap lebih baik berbohong agar orang tua percaya.

Baca Juga:

Urgensi Pendidikan Karakter Sejak Dini

“Umumnya usia pra sekolah atau sebelum 6 tahun, karena masih sulit membedakan antara kenyataan dengan imajinasi, sehingga sulit juga dikatakan berbohong atau tidak. Setelah usia 7 tahun, anak mulai mampu membedakannya, sudah mengerti tentang berbohong,” ungkapnya.

Antara lain diungkapkan oleh Siti Jessika A,M.Psi, Psikolog dari Seven Consulting, anak berbohong didorong oleh keinginan menutup kekurangannya karena tidak percaya diri untuk mendapatkan sesuatu yang sangat diinginkannya, anak memilih daya imajinasi yang kuat, meniru orangtua, tayangan televise atau buku bacaan.

“Hal ini sering terjadi saat anak mulai banyak tanggung jawab dan tuntutan baik dari orangtua dan sekolah, sehingga orang tua harus memahami alasannya agar tidak terulang lagi. Inilah waktu yang tepat untuk memupuk kecerdasan emosional anak dan tanamkan nilai-nilai kejujuran sejak dini.

Jika kebiasaan berbohongnya dibiarkan berkembang, maka pada usia 7-8 tahun anak mulai berani untuk berbohong dan mungkin akan menggunakannya untuk menghindari masalah dalam interaksi sosialnya,” ungkap psikolog ini.

Dini mencatat ada tiga tahap pemahaman anak tentang berbohong. Tahap pertama, anak meyakini bahwa berbohong adalah perbuatan salah karena akan mendapatkan hukuman, jika tidak ada hukuman, maka boleh berbohong. Tahap kedua, berbohong adalah perbuatan salah walaupun tidak ada hukumannya.

Baca Juga:

Tiga Pola Hidup Sehat Anak-anak Jepang

Biasanya anak sudah sampai tahap ini pada usia 6 tahun. Tahap ketiga, berbohong adalah perbuatan salah karena bertentangan dengan rasa saling menghargai dan menyayangi. Anak sudah memahami alasan dalam bentuk yang lebih abstrak. Biasanya anak sampai pada tahap ini pada usia 12 tahun.

Baginya, ada sejumlah faktor yang ikut andil menciptakan perilaku bohong pada anak, seperti pola asuh yang kurang memberikan kesempatan anak untuk mengungkapkan ide dan perasaan, relasi yang kurang hangat di keluarga, sikap orang tua yang ‘keras’ dan menuntut anak untuk sempurna, ataupun orang tua yang terlalu mudah menghukum anak.

“Walau pun tingkah laku berbohong dapat juga terjadi dalam pola pengasuhan yang sebaliknya. Selain itu, anak meniru sikap bohong yang dilakukan oleh orang-orang di sekitarnya. Karena itu berilah contoh yang baik dengan berkata dan bersikap jujur,” tegas Dini.

Lebih jauh Chika menjabarkan, ada beberapa perilaku dan bahasa tubuh yang biasanya muncul ketika seorang anak sedang berbohong, di antaranya, menghindari kontak mata lawan bicara karena merasa tidak nyaman, mata lebih banyak berkedip dari biasanya, gerakan tubuh yang tidak biasa dan mungkin berulang.

Hal ini dilakukan tanpa sadar karena ingin anda berpindah pada topik yang lain. Misalnya, menggaruk hidung dan menutup mulut. Terlihat gugup dan gelisah ketika menjawab pertanyaan. Sikap ini biasanya terjadi karena ia takut kebohongannya akan terungkap.

Cerita tidak konsisten, sering berubah dan sering mengulang kata-kata atau cerita yang sama. Bersikap defensive berlebihan. Ketika ditegur atau diminta bercerita lebih detail, akan marah dan gelisah.

“Dengan mengetahui ciri tersebut, diharapkan orang tua langsung bertindak dan mengingatkan bahwa berbohong adalah perilaku salah dan pentingnya kejujuran sehingga anak tidak belajar untuk menutupi kebohongannya,” saran Chika.

Baca Juga:

Empat Permainan Berbahaya Anak Sekolah Yang Harus Diwaspadai Guru dan Orang Tua

Kedua psikolog ini menyebutkan, banyak cara yang bias dilakukan untuk mencegah anak berbohong.

“Tetapkan standar yang jelas tentang kejujuran, lakukan dengan konsisten. Tidak ada yang disebut “white lies” karena standar yang bersifat abstrak membuat anak bingung, biasakan berdiskusi dengan anak, tidak menghukum yang terlalu berat atau terlalu sering yang dapat membuat anak cenderung berbohong untuk melindungi dirinya.

Hindari mengkritik ketidakmampuan anak yang membuatnya berbohong untuk mendapatkan penghargaan. Sebaliknya, apresiasi kejujurannya sehingga anak merasa aman untuk mengakui kesalahannya,” kata Dini.

“Pahami alas an anak berbohong lalu cari solusi sesuai dengan alas an tersebut. Disiplin dalam menerapkan konsekuensi atas perilaku berbohongnya, tekankan bahwa kejujuran adalah penting agar ia dapat dipercaya oleh orang lain. Bantu anak menyelesaikan masalahnya tanpa harus berbohong,” Chika menambahkan.

Agar kebohongan tidak terulang, Chika mengingatkan orang tua untuk konsisten memberi contoh yang baik. “Sebab anak-anak adalah peniru yang ulung. Jalin komunikasi yang baik, dengarkan keluh kesahnya tanpa menilai dan tanyakan perasaan serta pendapatnya mengenai masalah yang ia hadapi.

Ajarkan nilai baik dan buruk sedini mungkin, dorong anak untuk berani bicara jujur dan apresiasi kejujurannya. Sehingga ketika moral anak sudah kuat, ia akan berani menghadapi risiko dari nilai yang ia pegang.”

Reaksi orang tua ketika anak berbohong pada umumnya adalah marah.

“Wajar marah, namun kendalikan emosi sehingga tidak membahayakan perkembangan si kecil dan menjatuhkan harga diri anak,” saran Dini.

“Biasanya langsung memarahi anak tanpa menanyakan alasannya berbohong. Dampaknya, anak takut berkata jujur karena akan dimarahi. Merasa lebih nyaman untuk berbohong, tidak mau bertanggung jawab atas kesalahannya, akan lebih mahir menutupi kebohongannya,” Chika menimpali.

Baca Juga:

Kiat Mengatasi Emosi Negatif Pada Anak Sejak Dini

Menurutnya, orang tua mudah memberi hukuman yang tidak sesuai padahal rasa takut dimarahi membuat anak enggan berkata jujur sehingga lebih memilih berbohong untuk menghindari hukuman. Parahnya lagi, ketika berbohong, orang tua merasa senang dan memujinya.

Chika mengingatkan, jika ditangani dengan baik dan mendapatkan pola asuh yang tepat, anak akan paham bahwa berbohong adalah hal yang salah dan mengerti pentingnya kejujuran. “Setiap anak pasti akan melewati fase berbohong, jika orangtua mampu mengatasinya dengan tepat, anak tetap tumbuh menjadi seseorang yang menghargai kejujuran.”

Psikolog ini menyarankan, ketika anak mulai beranjak dewasa dan mengerti etika bersosialisasi, ajarkan anak untuk menyelesaikan permasalahannya dengan cara yang tepat tanpa harus berbohong. Semakin dewasa akan semakin sedikit bercerita, hal ini bukanlah tanda bahwa ia berbohong, melainkan ia mulai dewasa dan mulai dapat menyortir informasi mana yang penting diketahui oleh orang tua dan mana yang tidak terlalu penting.

“Terapkan pola asuh demokratis, beri penjelasan konsekuensi setiap perbuatannya, dukung dan bimbing anak agar punya rasa percaya diri yang baik, ajari anak mensyukuri kemampuannya. Dan yang tak kalah pentingnya adalah cari alas an mengapa anak berbohong, sehingga bias mengatasinya dengan tepat,” pungkas Chika.

0 0 votes
Article Rating
Sebarkan Artikel Ini:
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments