Depoedu.com – Setelah Taliban menguasai Afghanistan, situasi kehidupan ekonomi memburuk, rakyat semakin menderita. Seperti dilaporkan BBC, banyak keluarga sampai menjual anak perempuan mereka, agar tetap dapat membeli bahan makanan untuk beberapa bulan ke depan, demi tetap bertahan hidup.
Di Provinsi Paktika, situasi tersebut semakin buruk setelah gempa dahsyat melanda wilayah ini pada 22 Juni yang lalu. Paktika adalah salah satu provinsi yang paling konservatif di Afghanistan, salah satu basis penting dari pendukung Taliban.
Gempa ini, seperti dilaporkan BBC. Menewaskan lebih dari 1.000 orang, kebanyakan mereka adalah perempuan. Mereka tewas karena tidak ingin dirawat oleh dokter laki-laki. Sementara jumlah dokter perempuan hanya ada dua orang di provinsi berpenduduk 700.000 jiwa ini.
“Orang-orang di sini tidak ingin dirawat oleh dokter laki-laki, padahal hanya ada dua dokter perempuan di sini. Karena mentalitas ini, banyak perempuan tewas sebelum dokter perempuan seperti saya, menolong mereka. Mereka yang luka parah jadi sangat menderita,” kata dokter Laila Mogbal.
Baca Juga: Phubbing Dan Kebutuhan Untuk Mendengarkan
Sejak dulu ada banyak prasangka tradisional yang menghalangi anak perempuan untuk mengenyam Pendidikan. Oleh karena itu, dokter Laila Mogbal dan seorang rekannya pun bukan penduduk asli provinsi ini.
Sampai saat ini, sangat sedikit anak perempuan yang dapat menyelesaikan sekolah 12 tahun penuh, di Provinsi Paktika.
Situasi ini mendorong dr. Laila melakukan yang bisa ia lakukan, untuk memberdayakan perempuan local, termasuk mendorong para ibu untuk menyekolahkan anak perempuan mereka.
“Saya selalu mengatakan bahwa pendidikan perempuan adalah hal yang baik. Mereka biasanya menerimanya, tetapi masalahnya, ada suami mereka yang melarang dan tidak mau bekerja sama,” kata Laila, seperti dilansir pada laman BBC.
Harapan perubahan sikap Taliban setelah gempa
Kenyataannya, sejak September 2021, ketika Taliban pertama kali menerbitkan aturan tentang membuka kembali sekolah, aturan tersebut hanya mewajibkan agar murid dan guru laki-laki, segera masuk kembali ke sekolah.
Pada aturan tersebut, Taliban tidak menyebutkan mengenai kewajiban murid dan guru perempuan, untuk kembali ke sekolah. Kaum perempuan bertanya-tanya, kapan murid dan guru perempuan kembali ke sekolah.
Pada saat itu, kepada Majalah Jerman der Spiegel, juru bicara Taliban Zubihullah Mujahid mengatakan bahwa Taliban tidak anti pada pendidikan bagi perempuan. Ia beralasan, Taliban tengah mengusahakan sebuah mekanisme untuk memungkinkan kehadiran murid dan guru perempuan di sekolah.
Ketika itu, Mujahid menegaskan, lingkungan maupun transportasi yang aman harus diupayakan, sebelum murid dan guru perempuan kembali ke sekolah.
Hingga awal Januari, belum ada tanda-tanda Taliban melaksanakan janjinya. Belum ada sinyal yang cukup jelas ke arah persiapan menghadirkan perempuan kembali ke sekolah.
Baca Juga: Taliban Belum Membuka Sekolah Untuk Remaja Perempuan. Siasat Apa Yang Dilakukan Oleh Para Penentang?
Baru pada tanggal 15 Januari 2022, juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid, dalam wawancara dengan Associated Press mengumumkan kepada publik bahwa anak perempuan dan para gadis, akan segera kembali ke sekolah, setelah tanggal 21 Maret 2022.
Sejak pengumuman tersebut, anak gadis Afghanistan menunggu-nunggu informasi hingga pada tanggal 16 Maret 2022, Kementrian Pendidikan Taliban mengumumkan, semua murid perempuan akan kembali ke sekolah pada hari Rabu, 28 Maret 2022.
Pengumuman ini disambut antusias oleh anak gadis Afghanistan. Namun pada Rabu, 28 Maret 2022 pagi, seorang juru bicara Kementrian Pendidikan Taliban mengumumkan kepada wartawan bahwa sekolah belum dapat dibuka untuk anak gadis sampai rencana komprehensif dan Islami selesai disusun,
Dan kini, hingga bulan Juli 2022, masyarakat masih menunggu Taliban melaksanakan janjinya untuk membuka kembali sekolah, yang hingga kini belum terlaksana juga.
Menanggapi pertanyaan dari kaum pergerakan perempuan dan komunitas internasional tentang kapan sekolah bagi anak gadis di buka kembali, wakil juru bicara Taliban Bilal Karimi menjelaskan, pintu sekolah untuk anak gadis tidak ditutup, hingga kini masih ditinjau.
Baca Juga: Taliban Tidak Mengijinkan Murid Dan Guru Perempuan Kembali Ke Sekolah?
Dan ketika gempa bumi memporak poranda Provinsi Paktika, salah satu basis penting Taliban, para tokoh Taliban dan para pemuka masyarakat menyaksikan begitu banyak korban perempuan yang tidak tertolong, karena menurut keyakinan tradisional mereka, para korban gempa perempuan harus ditolong oleh dokter perempuan.
Di satu pihak ini adalah situasi miris, namun di pihak lain, situasi ini menghidupkan harapan dr. Laila Mogbal, akan munculnya perubahan sikap para tokoh Taliban ke arah pentingnya pendidikan kaum perempuan.
Meskipun lamban dan menghadapi tantangan berat, dr, Laila Mogbal berharap, gempa bumi di propinsi Paktika, dengan berbagai masalah ikutannya, membuat para pemuka masyarakat dan penguasa Taliban merevisi pemahaman dan pandangan mereka tentang pendidikan kaum perempuan.
Dokter Laila Mogbal meyakini, pendidikan bagi kaum perempuan tidak hanya diperlukan untuk menyiapkan perempuan menjadi pelayan bagi kaum perempuan, dalam situasi darurat, untuk konteks pelayanan kesehatan.
Namun lebih jauh, ia meyakini tanpa pendidikan perempuan, tidak ada masa depan bagi Afganistan. Karena masa depan gemilang bagi Afganistan dimulai dari keluarga sebagai lembaga Pendidikan yang pertama dan utama.
Dalam keluarga, perempuan dengan bekal pendidikan yang baik, adalah pelaku utama dan sangat penting dalam praktik pendidkan anak. Membiarkan mereka tidak terdidik adalah kerugian besar bagi masa depan Afganistan sendiri.
Foto: akurat.co

[…] Baca juga : Gempa Di Afghanistan Mengubah Cara Pandang Taliban Tentang Pendidikan Perempuan? […]
[…] Baca juga : Gempa Di Afghanistan Mengubah Cara Pandang Taliban Tentang Pendidikan Perempuan? […]
[…] Baca juga : Gempa Di Afghanistan Mengubah Cara Pandang Taliban Tentang Pendidikan Perempuan? […]