Mengapa sebagai Menteri Pendidikan, Nadiem Makarim Mengaku Frustasi?

EDU Talk
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com – Bekerja sebagai CEO perusahaan swasta jelas sangat berbeda jika dibandingkan dengan jabatan di pemerintahan. Kultur kerja pada perusahaan swasta dan pada pemerintahan sangatlah berbeda. Ini dirasakan oleh Nadiem Makarim.

Sebagai pejabat publik, Ia dihadapkan pada birokrasi yang berbelit-belit. Administrasi pemerintahan yang rumit. Situasi yang tidak mudah ini dihadapi bersama dengan pandemi Covid-19 yang membuat situasi jadi lebih sulit lagi.

Situasi ini membuat Nadiem dan tim berusaha berpikir inovatif, melakukan inovasi untuk melakukan perbaikan dan perubahan di bidang pendidikan dan kebudayaan.

Di sisi lain pengawasan publik pun terus berjalan, didorong oleh motivasi yang berbeda-beda. Publik mengharapkan perubahan cepat. Padahal hasil kebijakan di dunia pendidikan tidak dapat dilihat secara instan.

Ia menegaskan, ketika harus mengambil keputusan yang berat, untuk melakukan perubahan, pasti ada yang setuju dan ada yang tidak setuju. Bagi Nadiem dan tim ini dialami sebagai tekanan tersendiri.

Hal ini disampaikan oleh Nadiem dalam diskusi daring yang diselenggarakan oleh Tempo Media pada 11 Juli 2020 yang lalu.

Baca Juga : Bersyukur, Berbagi Dalam Kasih Kepada Sesama

“Saya jadi menteri 5 tahun, dampak perubahan yang kami lakukan baru terlihat 10-15 tahun kemudian. Ini yang bikin saya frustasi”, kata Nadiem.

“Sementara sebelumnya sebagai CEO Gojek saya terbiasa melihat hasil yang cepat, ada matrix yang jelas. Sedangkan di pendidikan, ada matrix yang jelas juga, tapi dampak dari policy yang kita tentukan itu lama”, sambung Nadiem.

Namun dalam diskusi daring tersebut ia menegaskan bahwa, meskipun ia frustasi, namun ia mencari sisi penyeimbang. Ia menganggap beban yang dikerjakan sebagai hal yang mulia.

“Di pendidikan, semua yang kita lakukan ini adalah tugas yang mulia. Jika kita lakukan dengan benar sedikit saja, bisa benar-benar mengubah arah kapal besar yang bernama Indonesia ini, tegas Nadiem  optimis.

Oleh karena itu, ia berusaha untuk tidak ambil pusing dengan semua kritik dan penilaian di masyarakat, sambil tetap berusaha bekerja inovatif, lurus dan benar. Karena apapun kebijakannya, pasti ada yang mengkritik bahkan menghujat.

Memang pada akhirnya sejarahlah yang membuktikan, apakah para pengeritik yang benar atau pejabat yang dikritik yang benar. Namun sering pula terbukti, semakin nyaring kritik dan hujatannya dialamatkan kepada sang pejabat, semakin membuktikan bahwa sang pejabat sedang melakukan hal yang benar.

Foto : informasigurunasional.blogspot.com

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of