Kemendikbudristek Perlu Membantu PGRI sebagai Organisasi Profesi Melakukan Transformasi

EDU Talk
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com-Di Indonesia, Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) merupakan organisasi profesi guru yang tertua dan terbesar. Sebagai organisasi profesi terbesar, PGRI memiliki cabang hampir di seluruh Indonesia.

Didirikan sejak zaman pergerakan kemerdekaan untuk memperjuangkan kesejahteraan guru Bumiputera yang ketika itu sangat memprihatinkan. Salah satu inisiatif PGRI zaman itu yang jejaknya masih ada hingga sekarang adalah mendirikan asuransi Bumiputera.

Setelah Indonesia merdeka, PGRI mendirikan sekolah di berbagai daerah. Selain itu, sejak zaman Orde Baru, para pengurus PGRI lebih aktif berpolitik dan berafiliasi dengan Golkar.

PGRI kemudian menjadi kendaraan politik bagi pengurusnya di berbagai daerah. Para pengurus aktif terjun di bidang politik dan ikut menikmati kekuasaan politik sebagai efeknya..

Kondisi ini membuat jaringan sekolah-sekolah PGRI dengan aset yang besar, yang tersebar di seluruh Indonesia, tidak terurus dengan baik. Hal ini menyebapkan mutu pendidikannya sekolah sekolah PGRI terus menurun. Gedung-gedung sekolah sebagai aset penting mereka tidak terurus.

Baca Juga : Nasihat Bernas Dari Elon Musk Bagi Pelajar Dan Mahasiswa Jika Ingin Sukses

Situasi itu berdampak pada menurunnya minat masyarakat memilih sekolah PGRI untuk mendidik anak-anak mereka. Sehingga sekolah-sekolah PGRI terpaksa melayani masyarakat yang tidak punya pilihan lain, saat memilih sekolah.

Kini, lebih sering kita membaca berita di media massa tentang berkurangnya murid di sekolah-sekolah PGRI. Bahkan di banyak daerah, sekolah-sekolah PGRI mulai ditutup, karena tidak ada muridnya.

Kita belum melihat proses transformasi yang memadai dari cara-cara pengurus PGRI, dalam mengurus PGRI sebagai organisasi profesi. Kita juga belum melihat proses transformasi dari yayasan-yayasan pendidikan di bawah PGRI, dalam mengurus sekolah-sekolah di bawah naungan PGRI.

Perubahan menggembirakan yang sekarang muncul adalah saat ini, pengurus PGRI pusat, lebih rajin melakukan advokasi untuk kepentingan sekolah-sekolah swasta, juga tentu saja advokasi untuk sekolah-sekolah PGRI.

Misalnya berkaitan dengan dampak dari kebijakan PPPK. Seperti dilansir pada tribunnews.com, Unifah Rosidi, Ketua Umum Pengurus Besar PGRI, meminta pemerintah memberi kesempatan pada guru dari sekolah swasta yang lulus tes PPPK untuk kembali mengajar di sekolah asalnya.

Baca Juga : Tidak Cermat Mendefinisikan Guru Honorer, Kebijakan PPPK Berdampak Buruk Bagi Dunia Pendidikan

Karena jika kebijakan ini dibiarkan, akan terjadi migrasi besar-besaran guru di sekolah swasta yang lulus PPPK, pindah ke sekolah negeri. Dan sebagian dari guru-guru tersebut adalah guru-guru pada sekolah PGRI. Dapat dibayangkan banyak sekolah swasta terbengkalai proses belajar mengajarnya karena migrasi tersebut.

Namun advokasi saja tidak cukup. Diperlukan upaya untuk mendorong transfomasi secara menyeluruh, dalam pengurusan PGRI baik sebagai organisasi profesi maupun transformasi cara yayasan pendidikan PGRI mengurus sekolah-sekolah PGRI.

Jika transformasi tersebut tidak dilakukan, PGRI sebagai organsiasi profesi, dan yayasan pendidikan yang mereka bawahi akan semakin tidak relevan. Dan pelan-pelan kita akan menyaksikan berakhirnya era PGRI baik sebagai organisasi profesi maupun yayasan pendidikan yang mereka selenggarakan.

Kita juga menunggu langkah Kemendikbudristek, membantu PGRI melakukan transformasi, baik sebagai organisasi profesi, maupun transformasi dari yayasan-yayasan pendidikan yang dikelolanya.

Foto:m.mediaindonesia.com

Sebarkan Artikel Ini:

1
Leave a Reply

avatar
1 Discussion threads
0 Thread replies
0 Pengikut
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
0 Comment authors
Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
trackback

[…] Baca Juga : Kemendikbudristek Perlu Membantu PGRI Sebagai Organisasi Profesi Melakukan Transformasi […]