Empat Level Praktik Hidup Berkeluarga. Keluargamu Berada di Level yang Mana?

Family Talk
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com-Keluarga adalah komponen terkecil yang membentuk sebuah masyarakat. Meskipun merupakan komponen terkecil, namun kondisi keluarga sangat mempengaruhi kondisi masyarakatnya secara keseluruhan.

Jika sebuah masyarakat dibentuk oleh keluarga-keluarga yang sejahtera maka masyarakatnya akan menjadi masyarakat yang sejahtera dan aman. Sebaliknya, jika dibentuk oleh keluarga dengan banyak masalah, maka masalah-masalah tersebut akan tercermin dalam interaksi masyarakatnya.

Maka di negara-negara maju, cara mengelola masyarakat adalah dengan mengelola keluarga. Oleh karena itu, di negara seperti Finlandia, Denmark, negara sudah ikut terlibat dalam proses pembentukan keluarga.

Negara berkembang seperti Indonesia masih jauh dari idealism seperti itu. Keluarga, meskipun diakui sebagai komponen terpenting dari masyarakatnya, namun keluarga dan negara, masih berjalan sendiri-sendiri.

Sementara, sebagai bagian yang integratif dari masyarakat, keluarga dipengaruhi pula oleh berbagai hal dari masyarakat, termasuk masyarakat global. Kemampuan individu anggota keluarga mengelola pengaruh tersebut, menentukan akan menjadi seperti apa sebuah keluarga terbentuk.

Dengan kemampuan yang beragam dalam mengelola pengaruh dari masyarakat, keluarga terbentuk sedemikian rupa sehingga mencapai level pertumbuhan yang berbeda-beda.

Secara sederhana, para sosiolog menggolongkan keluarga di tengah masyarakat dalam empat level yang berbeda. Level tersebut menggambarkan capaian keluarga mulai dari yang paling ideal hingga yang paling tidak ideal. Berikut uraiannya.

  1. Level keluarga sebagai surga di dunia

Pada level ini, bukan soal jumlah harta keluarga, tetapi soal kebersamaan, di mana ada penghayatan hidup kasih satu sama lain antara suami dan istri, antara orang tua dan anak.

Semua anggota keluarga berada dalam realsi kasih di mana ada saling mendengarkan, ada waktu untuk saling berbicara. Oleh karena itu ada saling pengertian dan kebersamaan.

Tentu saja ini tidak terjadi karena semua anggota keluarga sempurna. Dengan kelebihan dan keterbatasan masing-masing diperlukan keterbukaan, saling menerima satu dengan yang lain, serta kerendahan hati.

Baca Juga : Pola Asuh Toxic Ini Harus Dihindari Orang Tua Agar Tumbuh Rasa Percaya Diri Pada Anak

Relasi kasih ini menjadi relasi yang terus menerus dibagun dan dikembangkan. Sehingga terjadi titik temu di mana kebersamaannya semakin tebal. Ini hanya terjadi apabila semua anggota keluarga saling mengampuni dan bersedia berkorban setiap kali diperlukan.

Keluarga pada akhirnya, menjadi rumah yang dirindukan untuk pulang, keluarga menjadi tempat di mana semua orang merasa kerasan. Lebih dari itu, masing-masing mengalami pertumbuhan lahir maupun batin di dalamnya.

  1. Level keluarga menjadi seperti hotel

Pada level ini anggota keluarga seperti tamu hotel. Ada aktivitas pergi dan datang, tetapi tidak ada perjumpaan antara penghuni yang satu dengan yang lain.

Dalam keluarga modern, ayah dan ibu berangkat bekerja pagi-pagi, pada saat anak-anak belum bangun tidur, dan pulang ketika sudah larut malam, ketika anak-anak sudah tidur. Mereka seperti hanya numpang makan dan numpang tidur.

Pada suatu saat bisa makan bersama-sama di satu meja, makan dengan hidangan yang sama, tetapi makan sendiri-sendiri. Mungkin ada komunikasi, tetapi level komunikasinya adalah level basa basi.

Tidak ada perjumpaan antara satu anggota keluarga dan anggota keluarga lainnya. Oleh karena itu tidak ada kebersamaan. Masing-masing sibuk sendiri-sendiri. Antar anggota keluarga tidak ada family time.

Dari luar kelihatan baik-baik saja, namun karena tidak ada perjumpaan, tidak ada kebersamaan, maka sangat rapuh sebagai keluarga.

Dalam keluarga seperti ini, anak-anak biasanya tumbuh di tangan pekerja rumah tangga. Kebutuhan mereka secara fisik biasanya terpenuhi dengan baik, tetapi kebutuhan akan kasih sayang tidak terpenuhi. Ini dapat menginterupsi pertumbuhan anak secara keseluruhan.

  1. Level keluarga menjadi ruang pengadilan

Dibandingkan dengan level kedua, level ini lebih buruk. Keluarga dan rumah menjadi seperti ruang pengadilan di mana terjadi saling menyalahkan, bahkan saling menuntut.

Di level ini tidak ada lagi saling mengasihi antara suami dan istri. Masing-masing menonjolkan egonya sendiri-sendiri. Suami dan istri tidak pernah saling mendengarkan.

Baca Juga : “Ayah, Ibu, Kami Ingin Bicara”

Masing-masing merasa benar dengan pemikiran dan pendiriannya. Oleh karena itu, sering terjadi salah paham yang berlanjut dengan pertengkaran. Suami dan istri masing-masing mau menang sendiri, tidak ada yang mau mengalah.

Kekerasan verbal kemudian menjadi acara harian yang selalu disaksikan oleh anak-anak. Oleh karena itu tidak ada lagi kedamaian, maka iklim rumah tidak lagi menjadi tempat para penghuninya kerasan.

Dalam situasi seperti ini, anak tidak akan tumbuh menjadi pribadi yang sehat.

  1. Level keluarga menjadi neraka di dunia

Ini adalah level kehidupan keluarga yang paling buruk. Kalau pada level tiga ada pertengkaran dan kekerasan verbal, di level ini tidak hanya terjadi caci maki, melainkan juga kekerasan fisik.

Di sini ada pelaku dan ada korban, di mana sudah tidak ada lagi kasih dan pengampunan sama sekali dari pelaku. Yang ada adalah ketegaran hati dan dendam.

Pada level ini, iklim rumah dan keluarga bukan saja membuat penghuninya atau korbannya tidak kerasan, bahkan ketakutan dan tidak berdaya. Bagi korban, itulah neraka mereka.

Itulah empat level keluarga-keluarga dalam masyarakat kita. Pada ekstrim paling kanan ada level surga dunia, dan pada ekstrim paling kiri ada level neraka dunia.

Di surga dunia ada kebahagiaan karena ada cinta kasih, sedangkan di neraka dunia ada penderitaan karena ada egoism, kebencian, dan dendam.

Kita bisa mengidentifikasi dan mengenali level keluarga kita masing-masing. Keluarga kita berada di level yang mana?

Mari kita hadirkan cinta kasih di keluarga kita masing-masing. Hanya dengan mencintai, kita bisa membahagiakan keluarga kita seperti menghadirkan surga di dunia.

Foto:klikdokter.com

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of