Komunitas Baca “Masdewa”, Contoh Nyata Pendidikan Kontekstual

DEPO Topik
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com – Tidak lama setelah diskusi yang diselenggarakan oleh depoedu.com dan eposdigi.com tentang bonus demografi dan pendidikan kontekstual di Flores Timur pada 31 Juli 2021 lalu, saya menemukan sebuah postingan di laman Facebook.

Tepatnya tanggal 7 Agustus lalu. Dalam postingannya, Puru Bebe menulis “Dalam mengisi hari Kemerdekaan NKRI ke 76 Tahun, Komunitas Baca Masdewa melakukan Baksos di beberapa titik lokasi.”

Dalam postingannya tersebut Puru Bebe juga membagi foto dan video anak-anak usia sekolah dasar hingga sekolah menengah membersihkan lingkungan. Mereka menyapu jalan juga membersihkan saluran air.

Baca Juga: Komunitas Flores Timur dari Berbagai Daerah Selenggarakan Diskusi tentang Pendidikan Flores Timur

Puru Bebe juga menulis rencana kegiatan kelompok baca yang dibentuknya; membersihkan jalan dari sekolah sampai “peri mege”yang sudah dilakukan. Membersihkan lorong desa, kuburan umum, juga membersihkan kali mati di desa mereka, Watololong, Kecamatan Witihama, Flores Timur, NTT.

Sejak diinisiasi pendiriannya oleh Agustinus Puru Bebe pada 30 Mei tahun 2020 lalu, sejauh yang saya ikuti lewat laman Facebooknya, komunitas ini tidak sepi dari kegiatan-kegiatan seperti ini.

Tidak hanya kepekaannya terhadap lingkungan alam sekitar, komunitas ini juga merawat warisan budaya lokal masyarakatnya, melestarikan tarian daerah, dengan melatih anak-anak dan memberi mereka kesempatan menampilkan tarian tersebut.

Anak-Anak Komunitas Baca Masdewa Belajar Tarian Daerah

Salah satunya adalah melibatkan anak-anak dalam kelompoknya untuk mengikuti lomba tarian berbusana tenun ikat NTT yang diselenggarakan oleh Sanggar Tari Hati Bapa (STHB) Kupang.

Baca Juga: Dari Pembelajaran Tematik di Kelas Menjadi Metode Pendidikan Alternatif Bersama Komunitas

Hal lain yang juga membesarkan hati, adalah bahwa anak-anak dalam komunitas ini diajak untuk membangun kemandirian kelompoknya. Komunitas Baca Masdewa melahirkan ide-ide kreatif yang secara ekonomis, perlahan namun memberi dampak, walaupun kecil, pada kemandirian kelompok ini.

Walaupun hanya dalam bentuk memproduksi sapu lidi dan kacang goreng untuk dijual namun ini adalah salah satu bentuk membangun kemandirian kelompok.

Secara sederhana kita boleh mendefinisikan pendidikan kontekstual sebagai kesalingterkaitan antara materi atau isi (konten) pelajaran dan keterhubungannnya (konteks) dengan dimensi ruang dan waktu kehidupan manusia.

Baca Juga: Membacakan Seribu Judul Cerita, Baru Bisa Menumbuhkan Minat Baca Anak?

Rasanya sekolah-sekolah formal kita lebih mengejar ketuntasan menyelesaikan konten atau bahan ajar, alih-alih berkreasi membangun kepekaan pada realitas lingkungan sekitarnya.

Para guru yang sudah lelah dengan berbagai beban administratif sekolah,  juga persoalan ekonomi terutama para guru honorer, kemudian lebih memilih langkah pragmatis.

Asal materi tuntas, administrasi birokratif dipenuhi, anak mendapat penilaian sesuai standar, itu sudah cukup. Minimal secara administrasi pendidikan sebagai konsekuensi kurikulum nasional suda h terpenuhi.

Bisa saja, materi (konten) pengajaran yang diterima oleh para siswa jauh dari realitas hidup para siswa dimana proses belajar itu terjadi. Apalagi sesuai konteks (keterhubungan) dengan realitas persoalan masyarakat disekitarnya.

Baca Juga: Bacakan Buku Untuk Anak Sangat Bermanfaat, Orang Tua tidak Punya Waktu?

Pendidikan kontekstual adalah proses pendidikan (bukan sekedar proses pengajaran), dimana semua dimensi kecakapan (inteligensi) manusia diasah. Tidak hanya pintar, juga berkepribadian baik dan memiliki karakter terpuji.

Bukan hanya soal penguasaan terhadap materi pelajaran, terutama bagaimana agar materi yang dipelajari dapat dipraktekan untuk mengatasi persoalan kehidupan siswa, baik secara individu, maupun dalam kelompok masyarakat di mana siswa berasal.

Bukan hanya pintar secara teori, pendidikan kontekstual adalah upaya sadar untuk merangsang kepekaan para siswa terhadap realitas sosial budaya dan juga lingkungan alam yang merupakan sumber dari ilmu pengetahuan.

Baca Juga: Membaca itu Piknik. Kok Bisa?

Sekaligus kepekaan terhadap realitas sosial budaya dan lingkungan alam diproyeksikan pada kesadaran kritis untuk menyikapi sekaligus melahirkan alternatif-alternatif pemikiran solutif atas berbagai persoalan sosial budaya dan lingkungan alam di sekitar para subjek belajar itu.

Komunitas Baca Masyarakat Desa Watololong “Masdewa” mengajak para peserta didik di desanya, untuk belajar tidak hanya dalam ruang-ruang kelas namun juga terlibat langsung dalam persoalan sosial budaya dan lingkungan alam dalam ruang sekolah kehidupan yang didiaminya.

Tulisan ini sebelumnya tayang di eposdigi.com, kami tayangkan kembali dengan izin dari penulis / Foto-foto diambil dari Laman Facebook Puru Bebe- Pendiri Komunitas Baca Masdewa

Sebarkan Artikel Ini:

1
Leave a Reply

avatar
1 Discussion threads
0 Thread replies
0 Pengikut
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
0 Comment authors
Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
trackback

[…] Baca Juga:  Komunitas Baca “Masdewa”, Contoh Nyata Pendidikan Kontekstual […]